Salah satu buku yg turut mempengaruhi saya untuk (kembali) menekuni pertanian adalah Revolusi Sebatang Jerami karya Fukuoka.
Masanobu Fukuoka (福岡 正信) nampak sbg ekstrimis ekologi saat mulai menulis bukunya dg pengakuan begidig: usai puluhan tahun jadi ilmuwan pertanian, ia justru membuang semua ilmunya.
Di sawah kecilnya di pulau Shikoku, ia berhenti membajak, berhenti menebar pupuk, berhenti menyemprot racun. Yang ia lakukan cuma menabur benih padi dan gandum, lalu menutupnya dengan jerami. Tanah yang awalnya tandus karena bahan kimia, pelan-pelan pulih. Cacing kembali, air tanah naik, gulma dan hama datang lalu pergi sendiri karena keseimbangannya kembali. Saya membayangkan, apa ini mungkin?
Narasi Fukuoka bukan soal "cara menanam", tapi soal cara berpikir. Ia menggambarkan alam sebagai guru. Saat petani sibuk mencabuti gulma, alam justru memakai gulma untuk menjaga kelembapan dan menyuburkan tanah. Saat kita membajak, kita memotong jaringan jamur dan akar yang mengikat tanah. Revolusi yang ia maksud bukan revolusi mesin atau pupuk, tapi revolusi kesadaran: berhenti melawan alam, mulai bekerja sama.
Hasilnya paradoks. Sawahnya tak pernah "terawat" rapi seperti sawah tetangga, tapi hasil panennya stabil dan tanahnya makin hitam subur tiap tahun. Buku ini jadi tamparan untuk pertanian modern yang kecanduan input kimia. Fukuoka bilang: kalau kita terus memaksa alam sesuai maunya manusia, alam akan balas dengan hama, banjir, dan tanah mati.
Ngeri ya? Tentu saja saya tak langsung menirunya. Namun bagaimanapun, semangat blio rasanya turut memberi energi dalam langkah saya bertani.
Thanks pak tua.
Ini logika yang benar. Ini cara Korea Selatan lepas dari miskin 1960an. Ini cara Vietnam sekarang ngalahin kita ekspor beras. Kalau beneran jalan, ini bukan cuma soal swasembada. Ini soal mengangkat 33 juta petani dari "penjual bahan mentah" jadi "pemain industri". Bagus. Sangat bagus.
Masalahnya, botolnya retak. Obatnya manjur, tapi wadahnya bocor. Dan bocornya itu bernama: korupsi + mental rente.
Bayangin skenarionya. Negara gelontorin duit 500T buat bangun 80rb Koperasi Merah Putih + pabrik + cold storage + traktor. Duit segede itu di negara yang indeks persepsi korupsinya masih 34/100 itu kayak naruh kulkas berisi daging di tengah kandang anjing.
Tahap pertama, tendernya. Proyek pabrik 20M di satu kecamatan. Yang menang pasti "anak orang", bukan koperasi. Spek diturunin, harga dinaikin. Yang harusnya mesin 2 ton/jam jadi 1 ton/jam. Selisihnya? Masuk kantong.
Tahap kedua, pengelolaannya. Koperasi dibentuk asal jadi biar target tercapai. Pengurusnya kepala desa, adiknya camat, mantannya lurah. Pembukuannya nggak ada. RUPS cuma formalitas. Petani anggota cuma tanda tangan, nggak ngerti dia "pemilik saham". Giliran untung, devidennya entah kemana. Giliran rugi, utangnya ditanggung negara. Pola BUMN mini di desa.
Tahap ketiga, pasarnya. Pabrik udah jadi, beras udah keluar. Eh Bulog impor beras lagi. Atau tengkulak lama main harga. Pabrik koperasi nggak bisa saing karena modalnya kecil, birokrasinya ribet. Akhirnya mesinnya mangkrak, dijadiin kandang sapi. Kasus kayak gini udah ribuan di Indonesia. Dari pabrik gula rakyat, sampai unit penggilingan padi bantuan 2010.
Jadi ya, ide industrialisasi berkeadilan itu 100% benar secara ekonomi. Tapi 100% rentan secara politik. Kita bukan kekurangan konsep. Kita kekurangan "sistem imun".
Biar nggak mati di tengah jalan, syaratnya cuma satu dan ini paling susah: transparansi brutal. Pembukuan koperasi harus bisa diakses petani lewat HP. Tender mesin harus live streaming. Pengurus koperasi yang korupsi, hukumannya bukan "ganti rugi", tapi sita aset + penjara. Tanpa itu, program ini nasibnya sama kayak program-program bagus sebelumnya: jadi monumen gagal di pinggir sawah.
Prabowo punya nyali buat mulai. Pertanyaannya: punya nyali buat ngawasin sampai ke akar rumput nggak? Karena di Indonesia, maling paling jago itu maling yang pake dasi dan stempel. Dan dia paling suka sama program yang duitnya banyak, aturannya ruwet, pengawasannya lemah.
Kalau lolos dari jebakan itu, ini bisa jadi legacy. Kalau nggak, ya... kita ketemu lagi 5 tahun lagi bahas "kenapa pabrik desanya mangkrak".
Jamu Ampuh di Cawan Retak
Program industrialisasi pertanian berkeadilan ini jujur kedengarannya indah. Kita udah terlalu lama jadi negara yang jago nanem tapi payah ngolah. Petani banting tulang setahun, giliran panen harganya dibanting tengkulak. Gabah Rp5rb, beras jadi Rp15rb. Selisih Rp10rb itu nggak mampir ke desa, tapi ke truk, ke gudang, ke pabrik, ke minimarket.
Lalu datang ide Prabowo: "Udah, jangan jual gabah. Kita bikin pabriknya di desa. Petani jadi pemilik koperasi. Nilai tambahnya nggak kabur ke Jakarta".
Cont...
#populismeagraris
Jika kemarin kita membedah neoliberalisme & sosial liberalisme di sisi oposisi, sekarang kita ulas ideologi lain yg juga cenderung menolak kebijakan2 Presiden @Prabowo, yaitu #PopulismeAgraris
Met pagi gaes..
Menurutmu, menimbang beratnya jadi WNI saat ini, baiknya nanam apa ya?
Padi, ubi, horti, sayur, atau kepala Dadan MBG? Orang desa gak makan dolar lur, jadi gak penting 18.000 atau sejuta.
Atau kita ngopi2 saya ya lur?
Kenapa di lingkungan kita akhlak yang baik diajarkan seolah-olah hanya sebatas menunduk-nunduk atau menghormati orang yang lebih tua? Hanya sebatas mencium tangan dan mengharap berkah dari pemuka agama? Hanya sebatas laku moral pada manusia saja?
@kompascom Terjemahan: Kami baru aja ngasih sistem keuangan OS terbaru. Bug-nya? Tetep ada. Yang megang admin? Tetep itu-itu aja. Rakyat? Dapat update + naik pajak. Semoga nggak "blue screen" pas krisis berikutnya 😇
Mengapa Urea?
Urea saat ini jadi raja pupuk di Indonesia. Murah (apalagi yang subsidi), mudah didapat, dan efeknya langsung kelihatan: daun hijau dalam hitungan hari, tanaman “ngegas” tumbuh cepat.
Petani suka karena dompet tidak langsung tipis, rezim suka karena produksi pangan terjaga, dan korporasi senang karena penjualan menggunung.
Cont....
#LiterasiPertanian #KimiaTanah #BiologiTanah
Apa jenis kohe paling bernutrisi bagi tanaman?
Ada teori yang bilang, kohe paling bergizi adalah dari hewan yang paling kecil ke yang besar. Kohe kambing lebih bernutrisi dibanding sapi, kohe kelinci atau ayam lebih dari kohe kambing. Kohe puyuh lebih dari ayam. Kohe semut tidak dimasukkan ya, jangan aneh2.
Namun, apa benar begitu? Biasanya, teori umum begitu mengandung separuh kebenaran. Di sini saya akan coba secara kasar mengulik separuhnya, yang sebenarnya hanya menjelaskan dari para peneliti saja, bukan dari saya sendiri.
Di antara unsur hara makro primer (NPK, Nitrogen, Phospor, Kalium), biasanya kebutuhan N yang paling besar. Nah, dari aneka kohe itu, mana yang N-nya terbesar? Kita kulik dari pakan yang dikonsumsi si hewan.
N itu unsur pembentuk protein. Planet ini jadi ada kehidupan itu ditopang oleh O, C, H, dan N. Dari hewan2 yang ada itu, hewan apa yang paling banyak makan protein? Maka kita bisa urutkan, yakni ayam, lalu kambing, baru sapi. Kambing sering diunggulkan dari sapi karena pakan kambing sering lebih kaya N daripada sapi, misalnya rumputnya lebih segar, bukan makan jerami. Kalau ayam jelas, karena dia omnivora.
Nah, dari rumus inilah, maka kita sudah bisa menebak, di bumi ini kohe apa yang ketersediaannya sangat melimpah dan sangat bernutrisi tinggi? Yap, betul! Kohe manusia. Kohe manusia itu unsur N-nya disinyalisir 2x kohe ayam, kohe ayam 2x kambing, kambing 2x sapi. Ya, kecuali manusianya itu vegan. Maka eeknya setara (maaf) kambing.
Sekarang bayangkan, penduduk Indonesia ini 280jt. Perhari anggap saja mengeluarkan tai paling tidak 1 ons. Nah, berapa total per hari? Yap benar, 28.000 ton. Kalau setahun? 10 juta ton! Kira2 sendirilah ya, itu sudah bisa mengatasi berapa persen kebutuhan pupuk kita itu.
Fosfor itu "pilar diam" pertanian. Nggak seglamor urea yang bikin daun hijau 3 hari. Tapi kalau P kurang, tanaman bisa sehijau apapun tetep nggak mau berbuah. Akarnya pendek, bunganya rontok, gabah kopong. Kalau mau dipanen sebagai daun gak papa juga sebenarnya. Tapi kan kita gak hanya makan daun.
Oh ya, P yang bisa dimakan tanaman tentu saja berupa ion fosfat (H₂PO₄⁻), layaknya N berupa ion Nitrat (NO3) atau amonium (NH4). Tanaman gak bisa makan unsur kimia hanya P saja, atau N saja. Mirip kitalah, gak bisa konsumsi H saja atau O saja. Bisa terbakar nanti. Jadi harus H2O alias air putih.
Mungkin kita juga pernah dengar, pentil korek api itu bahannya juga P, bahkan bom fosfor yang dianggap ilegal dalam hukum perang internasional itu, juga dari P, tepatnya
P₄. Kok bisa ya sama2 P tapi beda? Ya memang gitu. Karbon juga bisa berbentuk gas (CO2), bisa berbentuk berlian.
Kembali soal pupuk P. Saat ini, petani biasanya pakai SP-36, TSP, atau NPK. NPK biasanya dipakai pupuk dasar karena lengkap unsur hara makro primernya. Apalagi juga disubsidi. Satu kilogram SP-36 isinya 36% P₂O₅. TSP 46% P₂O₅. P₂O₅ ini wujud "pabrikan" dari unsur P. Bandingin sama kompos: kotoran sapi cuma 0.3-0.5% P₂O₅, kotoran ayam paling tinggi 1.5-2%.
Kalau maksa pakai kotoran ya dari guano, seperti kotoran kelelawar yang kadar fosfornya lebih 10%. Tapi kan agak susah juga. Mungkin yg lebih mudah kalau maksa bikin sendiri ya dari tulang2, cangkang keong, dsb. Dan caranya selain dikeringkan dan tumbuk halus, harus dilarutkan dengan asam. Bisa pakai sam kuat (asam sulfat) tapi ini agak bahaya kalau belum ahli.
Namun, sebenarnya, tanah kita di Indonesia inj gak terlalu kekurangan kandungan P. Hanya mungkin kita ini kesulitan buka kuncinya. Makanya banyak pegiat alami itu tidak mengandalkan P dari luar, melainkan mengakali agar Pnya lepas dari ilatan Fe atau Al. Salah satunya dengan pupuk kandang, bantuan mikoriza, dsb.
Begitu dulu ya lur.
Mengapa Fosfor (P)?
Pernah gak lihat tanaman yang ijo royo2, tapi tapi gak panen atau sangat rendah? Nah, inilah pembahasan selanjutnya setelah N dalam skema NPK, yakni fosfor alias P.
Dalam sejarah, sebelum 1840 gandum Eropa mentok 1 ton/ha karena tanahnya kehabisan P. Tahun 1842 John Bennet Lawes nemu "superfosfat" dari tulang + guano yang direndam asam sulfat - jadi pupuk P pabrikan pertama. Hasilnya, uji Rothamsted Inggris buktikan lahan pake superfosfat panennya naik 2.5-3x lipat. Gandum Inggris pun naik dari 1 jadi 2.5-3 ton/ha dalam 50 tahun. Revolusi fosfor ini yang nyelametin Eropa dari kelaparan. Luar biasa bukan?
Cont...
#LiterasiPertanian #KimiaTanah #NPK #biologitanah