Mulut terpedas memang berasal dari nakes itu sendiri. Pengalaman dulu saat sakit (dan tidak ngomong bahwa saya dokter dan berobat sesuai dengan prosedur saja tanpa minta didahulukan), dibuat makin sakit dengan julidnya. Tidak pernah merasa serendah itu jadi manusia.
๐จRESMI!
Kemenkes mengeluarkan aturan "Pencantuman Label Gizi dan Pesan Kesehatan pada Pangan Olahan Siap Saji"
Berdasarkan Kepmenkes No. 01.07/Menkese/301/2026
Detailnya:
a. level A berupa kombinasi huruf A dengan warna hijau tua;
b. level B berupa kombinasi huruf B dengan warna hijau muda;
c. level C berupa kombinasi huruf C dengan warna kuning;
atau
d. level D berupa kombinasi huruf D dengan warna merah.
Keterangan:
1. Level A merupakan kandungan gula, garam, dan lemak yang lebih rendah dibandingkan level B, level B merupakan kandungan gula,
garam, dan lemak yang lebih rendah dari pada level C, dan level C
merupakan kandungan gula, garam, dan lemak lebih rendah dibanding
level D.
2. Level A tidak boleh menggunakan bahan tambahan pangan pemanis
(bahan tambahan pangan pemanis alami dan/atau bahan tambahan pangan pemanis buatan), baik melalui penambahan langsung dan/atau ikutan (carry over).
3. Level B hanya dapat menggunakan bahan tambahan pangan pemanis
alami.
4. Level C dan Level D dapat menggunakan bahan tambahan pangan
pemanis (bahan tambahan pangan pemanis alami dan/atau bahan tambahan pangan pemanis buatan).
Contoh pencantuman label ada di foto 3.
Pemberlakuan secara WAJIB akan diterapkan 2 tahun dari Kepmenkes ini diterbitkan.
Alhamdulillah lah ya paling tidak ada progress untuk lindungi masyarakat dari bahaya konsumsi Gula Garam Lemak berlebih.
Hal yang sangat kecil dibesar-besarkan.
Beliau dan pendukungnya ini yang bikin masyarakat golongan tengah yang mau bikin Bali liveable place untuk rakyatnya akan sangat susah. ๐
Sabtu siang masih emosi ngeliat ini.
Total dana riset ada 1.7 triliun, ditulis gede seolah-olah sesuatu yang dibanggain.
Padahal, kalo dibagi ke 18.000+ penerima, per orang cuma dapet KURANG DARI 100 JUTA.
RISET. BELOW 100 JUTA?
IN THIS ECONOMY?
IN THIS CURRENCY?
๐ญ๐ญ๐ญ
Pernah kerja dengan oknum dokter tamatan dua di antara top three itu. Ada yang gak satset entah IGD sepi maupun rame, belum lagi ragu-ragu ngambil keputusan. Ada yang terkungkung dengan kemegahan alat yang mereka miliki, ketika ke daerah mereka bingung harus apa.
@AldhitamaR Kalo mau berobat di Indonesia, hal pertama yg mesti banget banget gw cek adalah background pendidikan dokter. At least dokter itu lulusan S1 UGM, UI, UNAIR gw udah bisa lumayan tenang. Yang lain skip dulu.
Entah ya, mungkin kasus yang mereka tangani kadang terlalu advance (mungkin), sejak koas mungkin kurang terpapar RSUD dengan segala keterbatasan. Jadi proses logika penentuan diagnosis, tata laksana tidak terbentuk dengan baik.
Sumpah salut banget sama warga Bali, TPA dah ditutup, warga pada bakar sampah, trotoar masih jelek, pajak bandara entah kemana, lahan besar2an dijual ke bule2, tapi tetep santuy2 ae alias ga ada demo2, saluttttttt
Sebagai ASN yang detik ini sedang melakukan pekerjaan analisis data penelitian hanya mengamati.
Alias bangke, lembur kek gini mana pernah dibayar kita~
Jalan ke poli berasa gembel jalan di karpet merah. Semua pasien ngeliat, manalagi rsud memang rame banget.
Untungnya dokter spesialis dan perawatnya baik banget, malah disuruh pulang. Mereka yang jadi samsak kalo saya ditanya kemana.
Jadi inget waktu iship beberapa tahun lalu terdiagnosis AVM, ijin operasi karena gak boleh ditunda.
Pasca op, disuruh segera masuk oleh DU/dokpingnya. Kepala lagi tertambal perban segede gaban, rambut belum keramas pasca op. Yaudah pede aja kek gembel ke poli.
Dari dulu argumen dari influencer wellness bahwa obat2an dari tenaga medis landasannya komersil terus sampai ada ledekan big pharma, padahal bisnis wellness market sizenya 4x lipat bisnis farmasi... ๐
Ada polisi, ditipu jual beli mobil ama temennya yang "katanya" polisi. Setelah ketipu, gak mau melapor ke kantor polisi. Karena tahu temen polisinya gak bakal ngurus ginian. Wkwkwk lingkaran terkutuk.
Jadi inget dulu ngambil topik salah satu restorasi terumbu karang terbesar di dunia, di pantai pemuteran bali.
Penanggungjawab nya: kok tumben ada yang penelitian dari orang lokal sini?
Mindblowing~