Most of the very best in life comes not from bureaucracy, but from what free individuals build together. Ferry Irwandi’s effort is a reminder that society precedes state.
Yang dilakukan Zulhas bangsat ini jauh-jauh hari sudah dibahasakan Tan Malaka: “Tangan kanan membacok, tangan kiri mengobati, agar si mangsa bisa dijadikan budak.”
Bad precedent. Any past, current, and future ministers are now liable to bogus calculation of welfare loss. Just wait until someone come up with real computation that both new capital and free lunch are actually bad. Also, why would you serve the government? No incentive.
Memberi kesempatan wawancara tanpa potongan dan pertanyaan arahan adalah hal yang bagus. Harus dipuji. Tapi melihat beberapa jawaban, maap, pantesan kita khawatir dengan negara ini, kayak punya fantasi sendiri terhadap realitas.
Ada seorang kawan baik yang kerja di Pertamina, bikin beberapa instagram story panjang lebar dan saling repost story kawan sejawatnya. Dengan penuh itikad baik dan beneran mau belajar gue reply, lah, salah satu story beliau.
Ngomongnya selalu "kita bangsa besar", tapi ngambil perbandingannya Timor Leste.🤣
Kalau mau perbandingan negara besar:
🇨🇳Tiongkok: 21 Kementerian (1,4 milyar jiwa)
🇺🇸AS: 15 Kementerian (334,9 juta)
🇧🇷Brazil: 23 Kementerian (216,4 juta)
🇦🇷Argentina: 7 Kementerian (46,6 juta)
Video ini memberikan banyak pelajaran yang bisa kita pilih dan ambil. Dari perspektif ekonomi, kita bisa mempertanyakan apakah pilihan yang ditawarkan benar-benar setara dan masuk akal untuk seseorang dalam situasi seperti itu. Dari sisi psikologi dan sosiologi, kita bisa belajar bagaimana ketimpangan memengaruhi cara seseorang berpikir dan membuat keputusan. Ini dibahas secara mendalam dalam buku The Broken Ladder karya Keith Payne, yang pernah saya ulas sebelumnya.
Di buku itu Payne menjelaskan teori sensitivitas risiko: orang yang hidup dalam ketimpangan cenderung mengambil lebih banyak risiko. Ketidakpastian dan keterbatasan membuat mereka berharap untuk “melompat” beberapa anak tangga sekaligus karena mendaki satu per satu tampak hampir mustahil. Dalam situasi ketimpangan, bias tersebut sangat sulit dihindari, termasuk oleh kita sendiri bila ditempatkan pada situasi yang sama.
Namun, yang paling penting, video ini membuat kita belajar untuk memiliki empati dan mau melihat persoalan secara lebih mendalam. Kemiskinan sering kali merupakan hasil dari masalah struktural yang kompleks. Menganggap kemiskinan hanya disebabkan oleh kesalahan atau kebodohan kaum miskin adalah pandangan yang dangkal dan tidak berdasar. Jangan sampai kita terjebak kekeliruan berpikir seperti itu, karena hanya akan membuat kita ikut memperburuk keadaan alih-alih membantu menyelesaikan masalah.
Yang bilang "Kan sama aja 11%?"
Beda, iya nominal yang dibayar sama-sama 11% tapiiii...
1) Buat keperluan administrasi kaya invoice, kuitansi, faktur pajak, dll semua labelnya tetep PPN 12%.
2) Artinya 110.000 dari sepeda Avi ini ya PPN 12% itu. Kenapa bisa gitu? Karena PPN diitung dari DPP, DPP-nya 11/12 dari harga.
3) Jadi:
- PPN 12% diatur di UU HPP 7/2021
- DPP 11/12 dari harga diatur sama Permenkeu 131/2024
***
Terus masalahnya apa?
a) Ya berarti Peraturan Menteri bisa "mengubah" UU dong kalau gini? Kan dibilang PPN 12% tapi kenyataannya tetep bayar 11%?
b) Bisa pake alasan, kan PPN-nya tetep 12%? Yang diubah kan DPP-nya?
Nah, gimana kalau ke arah sebaliknya? Kalau itu DPP dibikin 15/12 gimana? Kan PPN-nya tetep 12%?
c) Kan amanat UU HPP range PPN bisa maksimal 15%? Balik lagi, kan kalau gini PPN-nya tetep 12%, DPP-nya yang berubah.
d) Di luar masalah hukum, gimana ngejelasin ini ke konsumen asing? Angka 11/12 itu juga bikin mereka ragu, kapan berubah lagi? Mereka perlu kepastian hukum.
***
Gak bisa tambal sulam aturan gini.
Mesti harus ada Perpu atau UU baru yang mengatur.
Pajak maunya kayak negara Nordic
Pendidikan maunya kayak kurikulum Finlandia
Tapi gurunya bisa ada yang digaji seminggu padahal ngajar 4 minggu
Tapi kasih UMR buat gaji orang kayak di Jogja
Tapi bikin transportasi umum kayak di Bandung
Bikin dan tegakin hukum ketenagakerjaan gak jelas
Lagi cuti atau libur dihubungi soal kerjaan kayak jaman Romusha
Terus minta kita setuju pajaknya dinaikin?