Presiden Soekarno dan istrinya, Dewi, terbang dengan helikopter dari Jakarta ke Palabuhanratu untuk meninjau pembangunan Samudra Beach Hotel yang sudah hampir rampung.
Hotel ini dibangun pada 1962 dan dibuka pada Februari 1966, dibiayai dana pampasan perang Jepang.
Selain hotel ini, ada tiga hotel mewah lain yang dibangun dengan dana tersebut, yaitu Hotel Indonesia di Jakarta, Ambarrukmo Palace Hotel di Yogyakarta, dan Bali Beach Hotel di Denpasar.
Beda dengan ketiga hotel tersebut, hotel di Pantai Selatan Jawa ini terus merugi karena lokasinya yang terpencil. Baru mencatatkan keuntungan puluhan tahun kemudian setelah infrastruktur jalan diperbaiki.
Hal unik dari Samudra Beach Hotel ini adalah adanya kamar yang didedikasikan khusus untuk Nyi Roro Kidul, tokoh mistis yang tenar di wilayah Pantai Selatan Jawa. Anehnya, kamar serupa juga ada di Bali Beach Hotel.
Blitar
- Biaya hidup rendah
- Bandara ke Dhoho / Abdul Rachman Saleh
- Enggak polusi
- Kriminalitas rendah
- Pendidikan ada SMP,SMA 1 yg terkenal bagus, lulusan bnyak ke ITB,ITS, UNAIR etc
- Lanjut ke Malang gampang, ada KA Local juga ke Malang.
Jangan lupa, ada perpustakan bung karno :))
🚨🚨 EXCLUSIVE: ARNE SLOT AND LIVERPOOL TO PART WAYS WITH IMMEDIATE EFFECT. 💣
It’s over between the Dutch manager and Liverpool after end of the season review. 👋🏼
Andoni Iraola, clear favorite to take over as next #LFC head coach.
Indonesia >
Very important to keep a close look at Indonesia and possible attempts of destabilisation through “colour revolution” playbook tactics.
In the US containment strategy, the Malacca strait is a center piece.
If the US succeed in a blockade on Malacca choke point, there are additional Indonesian controlled chocke points >>> Sunda and Lombok straits that, if blockaded, could create major problems for China.
🫅 DAFTAR NAMA ISTRI SOEKARNO
1. Siti Oetari Tjokroaminoto
2. Inggit Garnasih
3. Fatmawati
4. Siti Hartini
5. Kartini Manopo
6. Ratna Sari Dewi Soekarno
7. Haryati
8. Yurike sanger
9. Helda Djafar
10. Saliku Maesaroh
11. Maharani wisma Susana Siregar
12. Sasiko kanase
13. Amelia de la Rama ( disebut sebagai istri terakhir dalam beberapa sumber Filipina)
Ini belum lengkap.
Politik luar negeri Soekarno mengisolasi Indonesia dari perdagangan. Juche.
Padahal, Indonesia masih impor beras.
Apa Soekarno lalu cetak sawah buat memproduksi beras?
Nope. Uang yang ada malah dihamburkan ke proyek mercusuar.
Berarti tidak ada beras. Lah terus populasi Indonesia makan apa?
Ternyata, Soekarno tidak peduli.
Ternyata, ini masalah skala prioritas saja.
Yang Soekarno prioritaskan adalah ego NPD nya yang sangat besar sampai tidak rasional. Soekarno ingin punya istana besar, stadion besar, monumen besar dan LARPing terlihat keren di dunia, seperti Firaun pada zaman Nabi Musa.
Untuk memuaskan ego maniak Soekarno ini, rakyat pun kembali terpecut lapar seperti di zaman romusha, yang mana Soekarno adalah mandornya.
Rakyat lapar karena dirampok Belanda, rakyat lapar karena dirampok Jepang, dan sekarang rakyat lapar karena semua uangnya sudah diambil oleh Soekarno untuk bikin istana dan monumen dan Gelora Bung Karno dan Menara Bung Karno (yang terakhir gagal).
Kritik dibungkam. Orang yang protes dengan kediktatoran Soekarno yang makin ngawur, seperti Buya Hamka, ditangkap dan disiksa selama 2 tahun.
Iya, Buya Hamka yang ditangkap dengan seenaknya lalu disiksa secara psikologis: ruang sel menyedihkan dan tidak manusiawi, orang-orang sekitarnya diancam, dan ia diintimidasi dan dikasari aparat sampai depresi sempat terpikir untuk bunuh diri.
Alhamdulillah Buya Hamka berhasil kembali teguh di bawah injakan besi aparat dan bahkan menghabiskan waktunya dengan menyelesaikan Tafsir Al-Azhar.
Hatta tidak seberani Buya Hamka sehingga kicep.
Sementara rakyat menjerit kelaparan, Soekarno hidup mewah bak raja dan berfoya-foya hedon dengan harem animenya di 6 istana, seperti Kim Jong Il yang hidup mewah pada masa Kelaparan Besar tahun 1990an di Korea Utara.
Orang-orang Orde Baru awal seperti Menteri Ekonomi Hamengkubuwono IX pun jadi sangat terobsesi dengan swasembada beras dan produksi beras, ya gara-gara trauma kegagalan pengadaan beras di masa rezim Soekarno yang asal-asalan ini.
Di sisi dalam negeri, HB IX dan timnya ini memang kebalikannya Soekarno yang sombong. HB IX dan timnya tidak muncul, tidak membacot di podium, tidak minta disembah, tidak minta dicatat di buku sekolah atau dibuatkan patung. Tahu-tahu, beras sudah tersedia dan pupuknya sudah tersedia dan jalan logistik dan sistem irigasinya sudah dibangun.
Di sisi luar negeri, kebijakan luar negeri Soekarno paling ngawur dan merusak adalah Konfrontasi. Semua tokoh yang bertanggung jawab atas terjadinya Konfrontasi adalah tolol dan harus digantung. Sampai hari ini luka perpecahan dan kebencian kultural antara Indonesia dan Malaysia yang dikoyak Konfrontasi belum sepenuhnya sembuh.
Soekarno sendiri akhirnya lengser, jadi tahanan politik, ditelantarkan Soeharto untuk sakit keras bertahun-tahun, dan meninggal.
Ketika mayat Soekarno disholatkan, yang mengimami sholatnya adalah Buya Hamka.
Introvert itu seringnya ada di belakang layar. Mereka tidak banyak bicara, tidak suka menonjolkan diri, dan jarang mencari perhatian. Karena itu, di hari-hari spesial mereka sering terlupakan. Jarang ada yang mengingat, jarang juga ada yang sekadar bertanya bagaimana kabarnya.
Tapi anehnya, ketika seseorang sedang butuh bantuan, butuh didengarkan, atau butuh orang yang bisa diandalkan, justru introvert yang sering diingat. Karena mereka dikenal sabar, tidak menghakimi, dan bisa mendengarkan tanpa memotong cerita.
De-soekarnoisasi Indonesia dampak terbesarnya adalah bangsa ini kehilangan taringnya.
Dulu kita padahal negara baru merdeka tapi berani bikin gebrakan gerakan nonblok, konferensi asia - afrika, dsb.
Eh 70 tahun kemudian ngambil sikap aja gak bisa. Cuma menyesalkan doang.
Proyek nation and character building Soekarno itu penting. Tapi bukan tanpa resiko. Harganya mahal, modal sosial dan modal kapital ga murah.
Orang bisa bilang ini upaya dekolonial Soekarno. Tapi sejarah membuktikan hasilnya justru jadi perdebatan lintasi generasi.
Nasionalisasi aset kolonial, konfrontasi simbolik dgn raksasa dr barat, politik luar negeri anti-imperialisme, dekolonialisasi teritorial. Di atas kertas it semua terdengar luar biasa. Bahkan dalam kompas moral skrg, ini tetap pembangunan identitas kontra kolonial yg sempurna.
Namun pertanyaan krusialnya adalah: apa yang terjadi setelahnya? Pengusiran Tionghoa 1959, pengusiran Belanda 1958. Bagi ane itu upaya pengukuhan identitas yg paling kebablasan.
Belom lagi pembangunanan monumen simbolik yg dibutuhkan utk menunjang proyek ambisius Soekarno. Fungsi sosial banggunan ini emang dahsyat, sedahsyat beban fiskalnya 😐
Dalam kondisi kapasitas fiskal yang rapuh, pilihan tata kelola macam ini nyaris mengisyaratkan bahwa keruntuhan ekonomi akan jadi keniscayaan.
Memang ada negara-negara pascakolonial yang mengalami transisi relatif mulus dan kini menjelma menjadi raksasa ekonomi. Banyak di antara mereka “beruntung” karena api revolusi tidak melahap seluruh legacy penting ekonomi lama. Indonesia tidak termasuk dalam kategori itu.
Upaya dekolonialisme kita berdarah-darah. Khusus bagian it, Belanda mengambil porsi dosa yg besar karna ga mau melepas kita dgn damai.
Soekarno mungkin benar dalam memahami bahaya mental inlander, dia memberikan banyak resep yg tepat dalam upaya dekolonialisasi pikiran.
Tetapi modal psikologis kolektif, betapapun pentingnya, tidak cukup untuk membangun negara. Kapasitas teknis dan administratif sama krusialnya.
Barangkali Hatta sempat mengisi ruang itu, namun sejarah juga menunjukkan bahwa figur seperti Hatta tidak pernah benar-benar populer.
Pada akhirnya kita tau bagaimana akhirnya kekuasaan Soekarno berakhir. Ia. Ia runtuh bersama demokrasi terpimpin. Meninggalkan kekacauan yg melahirkan Orde Baru
Jadi apakah semua kekacauan it salah Soekarno? Tentu ngga. Dia adalah produk zaman dari penindasan kolonial. Kemunculan Soekarno it wajar dalam siklus sejarah. Dia adalah ekses dr penindasan kolonial. Kelompok terjajah selalu mendampakan Ratu Adil macam Soekarno.
Namun mitos Ratu Adil tidak dirancang untuk menguji kapasitas tata kelola negara
Jadi mari menaruh Soekarno dgn adil.
Pada akhirnya Soekarno menjalankan dekolonialisasi yang “baik secara moral”, tapi rapuh secara institusional. Ia berhasil meletakkan fondasi identitas nation-state yang perkasa.
Ironisnya, fondasi itulah yang kelak menjadi pijakan penting bagi Orde Baru dan hari ini justru dinikmati oleh banyak politisi yang inkompeten, tak mampu bekerja, tetapi gemar melempar seluruh kegagalan dengan kalimat:
“Ini semua salah antek asing.”
One of my favorite quotes is the one from Marcus Aurelius: ‘The happiness of your life depends upon the quality of your thoughts.’
I think it’s always good to remember it.