Kita sering kali lebih mudah menilai seseorang dari apa yang terlihat daripada memahami apa yang sedang mereka alami. Namun, Yesus mengajarkan kita untuk membangun koneksi sebelum mengoreksi dan menyampaikan kebenaran dengan kasih.
Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu,
Doa hari ini:
Bapa yang baik, ajar kami untuk mengasihi sesama seperti Engkau telah mengasihi kami. Lembutkan hati kami agar mampu mengampuni mereka yang menyakiti kami dan tidak menyimpan kepahitan.
Siapa yang paling sulit Saudara kasihi saat ini?
Apakah seseorang yang berbeda pandangan, pernah mengecewakan, atau bahkan menyakiti Saudara? Yesus mengingatkan kita untuk tidak membatasi kasih hanya kepada orang yang mudah dikasihi.
Kita tidak harus melakukan sesuatu yang besar untuk menunjukkan kasih. Terkadang, mendengarkan, menemani, atau hadir bagi seseorang sudah menjadi langkah yang berarti.
Dunia tidak hanya mendengar perkataan kita tentang kasih, tetapi juga melihat bagaimana kita memperlakukan sesama. Yesus mengajarkan bahwa kasih yang sejati diwujudkan melalui tindakan, seperti orang Samaria yang berhenti dan menolong orang yang terluka.
Mengasihi bukan berarti kita harus menyetujui semua tindakan seseorang. Kita tetap dapat memperjuangkan kebenaran dan meminta pertanggungjawaban tanpa membiarkan kebencian menguasai hati.
Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus TUHAN, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan,
Sebab, bukan kesempurnaan kita yang membuat kita layak di hadapan Tuhan, melainkan kasih karunia-Nya.
Sudahkah kita menunjukkan kasih karunia yang sama kepada orang lain, seperti yang Tuhan berikan kepada kita? 🤍✨
Merasa lebih benar daripada orang lain bisa membuat kita lupa bahwa kita pun membutuhkan kasih karunia Tuhan. Roma 2:1 mengingatkan bahwa kita tidak memiliki alasan untuk menyombongkan diri atau menghakimi sesama.
Mungkin ada bagian dari hidup kita yang masih dipenuhi rasa malu, penyesalan, atau perasaan tidak diterima. Namun, Yesus mengenal kita sepenuhnya dan tetap menawarkan kasih serta identitas yang baru di dalam-Nya. Mari datang kepada-Nya dan izinkan kasih-Nya memulihkan hati kita.
Kasih yang sejati tidak berhenti pada perasaan atau perkataan, tetapi dinyatakan melalui tindakan nyata. Setelah mengalami kasih Yesus, Zakheus mengambil langkah untuk memulihkan kerugian yang pernah ia sebabkan dan memberkati orang lain.
Mengapa perubahan perilaku saja tidak selalu membawa perubahan yang sejati? Karena perubahan yg bertahan dimulai dari hati yang disentuh oleh kasih Allah. Ketika kita menyadari betapa besar kasih yang telah kita terima, kita pun dimampukan untuk mengampuni & mengasihi orang lain.
Kita semua membutuhkan kasih karunia Allah dan kesempatan untuk bertobat. Alih-alih sibuk menghakimi, mari izinkan kebaikan Tuhan membentuk hati kita terlebih dahulu.
Pernahkah kita begitu mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sulit menyadari kekurangan diri sendiri? Roma 2 mengingatkan kita bahwa tidak seorang pun memiliki alasan untuk merasa lebih layak daripada orang lain.