Malam itu, di Desa Alas Purwo, Ki Lurah Somad duduk termangu di balai desa. Di hadapannya terhampar dupa yang mengepulkan asapnya ke udara, mengaburkan pandangan ke arah plang kayu lapuk di gerbang desa PONDOK MAYIT.
@um_menfess amit amit banget gua nder, jangan sampe ada tmn kampus gua modelan kyk lu, yg ada nnti gua tampar depan muka karna banyak syirik hal yg ga masuk akal😭
Singkatnya aku lewat jalur yang warna biru di map (gambar diatas), motong jalan daripada lewat kulon progo YIA.
Pas mulai nanjak di tanjakan bibis mulai deh, aku pake gigi motor 1 biar kuat nanjak.
Malam itu, di Bantul bagian selatan, udara terasa jauh lebih berat dari biasanya. Saya sedang menyeruput kopi di teras depan, memandangi L300 putih itu terparkir di bawah lampu jalan yang temaram. Garis bodi mobil bekas rumah sakit bedah itu tampak kaku, seperti raksasa tua yang sedang tertidur.
Cklek. Pintu kamar tengah tiba-tiba terbuka dari dalam. Begitu pintu terbuka lebar, bau busuk yang luar biasa menyengat langsung menampar wajah kami berempat. Ini bukan bau karbol wangi melati kayak kemarin sore. Ini murni bau kembang kamboja yang sudah layu dicampur bau tajam kapur barus. Persis banget sama bau ruangan tempat memandikan mayat yang siap dikafani. Perutku langsung mual.
Di sudut kamar, Mita, Lisna, dan Rahma saling berpelukan erat sambil menangis histeris. Mereka menunjuk ke arah tengah kasur dengan tangan gemetar parah.
Di sana, Desi si cewek tomboy yang biasanya paling berani dan bar-bar, duduk bersila dengan kepala menunduk. Rambutnya yang sebahu menutupi wajahnya, bajunya berantakan. Tapi bahunya bergetar hebat. Dari mulutnya, perlahan keluar suara tawa tipis, melengking, dan panjang banget.
Hihihihihi... hihihihihihi...
Tawanya bergema, mengisi seluruh sudut kamar yang pengap itu. Bulu kudukku bukan cuma berdiri, tapi rasanya kayak mau rontok semua.
Suara itu persis dengan tawa cewek yang ngeledek aku di kamar mandi tadi! Desi kesurupan kuntilanak.
Jono dan Bowo refleks mundur, saking takutnya mereka sampai nabrak kusen pintu. Aku sendiri kaku, rasanya nyawaku ditarik paksa. Belum sempat kami bereaksi atau nolongin cewek-cewek yang lain, Desi tiba-tiba mendongak. Matanya melotot tajam, bagian putihnya mendominasi, dan senyumnya menyeringai lebar.
Dalam sekejap mata, tubuh Desi melompat dari kasur dengan kelincahan yang di luar nalar manusia normal. Dia menerobos kami berempat yang berdiri mematung di depan pintu, berlari kencang menyusuri lorong menuju arah dapur dan pintu belakang.
"Desi! Mau ke mana?!" teriak Rahma panik, langsung lari menyusul sambil terisak, yang otomatis bikin kami semua ikut mengejar.
Kami mengejarnya sampai ke pintu belakang yang ternyata sudah terbuka. Hujan di luar masih rintik-rintik, membasahi pekarangan kebon kosong milik Pak Bambang yang penuh pohon pisang dan bambu rimbun.
Di tengah kebon yang berlumpur dan gelap gulita itu, pemandangan sinting tersaji di depan mata kami. Desi menari-nari. Gerakannya patah-patah tapi luwes, tangannya melenggok ke kanan dan ke kiri seperti penari, tapi dengan tempo yang aneh dan sangat mengerikan. Tawanya makin kencang, suaranya sampai serak beradu dengan suara rintik hujan.
Gatot yang biasanya sok jagoan, sekarang cuma bisa berdiri kaku di ambang pintu belakang, bibirnya bergetar parah nyebut nama Tuhan.
Tiba-tiba, tarian Desi berhenti. Tubuhnya ambruk, berlutut di atas kubangan tanah lumpur yang basah. Dan yang bikin kami semua nyaris jantungan, tangannya mulai mengeruk tanah becek itu. Tanpa jeda, dia memasukkan segenggam penuh tanah lumpur basah itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan rakus.
"Ya Allah, Desi! Jangan dimakan, Des!" Lisna menjerit histeris. Dia nyaris lari ke tengah hujan tapi langsung kutahan lengannya kuat-kuat. Terlalu bahaya mendekati orang kesurupan yang lagi lepas kendali di kebon gelap begitu.
Sambil masih mengunyah tanah, kepala Desi perlahan menoleh ke arah kami. Mulutnya belepotan lumpur. Matanya menatap kami satu per satu dengan kilat amarah dan kebencian yang sangat pekat.
Lalu, dengan suara serak dan berat, suara yang benar-benar bukan suara Desi, sosok yang merasuki tubuhnya itu berteriak lantang menembus derasnya hujan.
"KOE SING LUNGO, OPO BOCAH IKI SING MATI!!!" (Kamu yang pergi, atau anak ini yang mati!!!)
Suaranya menggelegar, langsung menusuk ulu hati kami. Ancaman itu benar-benar nyata dan ditujukan langsung ke kami semua. Rumah ini mengusir kami paksa, dengan nyawa teman kami sebagai jaminannya.
"Iyo, Tot, aku ngandel! Masalahe saiki, demite kuwi iso nyamar dadi kowe, Cuk! Rupane, porsi awake, tekan suarane podo plek!" balasku setengah histeris tapi suaranya kutahan sebisa mungkin. (Iya, Tot, aku percaya! Masalahnya sekarang, setannya itu bisa nyamar jadi kamu, Cuk! Mukanya, ukuran badannya, sampai suaranya sama persis!)
Suasana kamar yang lembab itu mendadak terasa sepuluh kali lipat lebih mencekam. Kami berdua saling tatap dalam diam. Insting bertahanku aktif. Aku merangkak mundur, menjauh dari kasur dan menyenderkan punggungku ke dinding di sebelah pintu kamar. Mataku waspada menyapu seluruh sudut ruangan.
Nah, pas aku lagi nyender dan ndongak ke atas itu... mataku menangkap sebuah pemandangan ganjil.
Tepat di atas kusen pintu kamar kami, terselip di antara celah tembok dan kayu yang berdebu, ada sebuah benda kecil yang dibungkus kain putih usang. Bentuknya sekepalan tangan anak kecil. Itu sebuah jimat yang dibungkus kain mori, diikat kencang dengan benang merah yang warnanya sudah memudar. Posisinya benar-benar tersembunyi, nggak bakal kelihatan kalau nggak mendongak dari sudut yang pas.
Pantas saja hawa kamar ini dari awal rasanya beda. Piring sajen kembang setaman di pojokan, ditambah jimat kain mori di atas pintu.
Belum sempat aku ngasih tahu Gatot soal jimat itu, tiba-tiba...
Tok... tok... tok...
Pintu kamar kami diketuk dari luar. Pelan, tapi iramanya teratur.
Aku dan Gatot serempak berhenti bernapas. Gatot langsung melompat dari kasur dan ikut nyender di dinding sebelahku merapat.
"Ris..." terdengar suara dari balik pintu. Suara itu berbisik serak,persis banget sama suara Gatot. "Ris... jare meh gantian nguyuh... ayo to, Ris... kancani aku..." (Ris... katanya mau gantian kencing... ayo to, Ris... temenin aku...)
Gatot di sebelahku langsung nutup mulutnya pakai kedua tangan, matanya berkaca-kaca menahan nangis. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan brutal ke arahku, seolah menegaskan, Itu bukan aku, Cuk! Aku di sini!
Bener-bener Kontrakan tanah jahanam! Setan ini ngajak main games.
Baru saja aku mau komat-kamit baca ayat kursi untuk mengusir jin copycat di luar sana, tiba-tiba terdengar suara jeritan melengking yang sangat nyaring. Suaranya bukan dari luar kamar kami, melainkan dari arah ruang tengah!
"AAAAA!!! PERGI!!! TOLOOONG!!!"
Itu suara Mita! Disusul jeritan panik Rahma dan Desi. Suaranya bener-bener histeris, disusul bunyi barang-barang yang berjatuhan dan dibanting.
Brak! Prang! Aku dan Gatot tersentak kaget. Rasa takut kami pada 'Gatot palsu' di balik pintu mendadak bertabrakan dengan insting pahlawan kesiangan kami. Mereka dalam bahaya! Mita menjerit ketakutan, dan Lisna... ya Tuhan, Lisna ada di sana!
"Tot! Cah wedok, Tot!" seruku panik.
Terdengar suara tangisan Lisna yang bikin hatiku langsung mencelos. Persetan dengan setan! Kalau sampai pujaan hatiku kenapa-napa gara-gara aku sembunyi kayak pecundang, mending aku telan galon sekalian!
"Minggir, Tot! Bismillahirrohmanirrohim, minggat kowe demit!"
Aku nekat menarik grendel, memutar kenop, dan membuka pintu kamar kami sekuat tenaga.
BRAK! Pintu terbuka lebar, membentur tembok. Aku dan Gatot memejamkan mata sambil teriak serabutan, siap menerjang makhluk apapun yang ada di depan pintu. Tapi ternyata... lorong itu kosong! Setan 'Gatot palsu' itu udah hilang.
Tanpa buang waktu, kami berdua lari terbirit-birit menuju kamar tengah. Di depan kamar itu, Jono dan Bowo ternyata juga baru keluar dari kamar depan mereka dengan muka bantal. Kami berempat saling tubruk di depan pintu kamar cewek-cewek yang masih tertutup rapat, sementara jeritan dari dalam terus terdengar sahut-sahutan.
"Mita! Lisna! Buka pintunya!" teriakku sambil menggedor pintu dengan brutal. Situasi benar-benar kacau, horornya sudah di luar batas kendali!
Suka banget sama Quotes ini
“Kita usahakan jadi manusia yang di otaknya ada ilmu, di dompetnya ada uang, dihatinya ada kebaikan, diwajahnya ada kepercayaan diri. Dan dijiwanya ada tanggung jawab”
Tugas Suami Dan Istri Wajib Kamu Pahami
TUGAS SUAMI
1. Memasak
2. Mencuci baju
3. Mendidik anak
4. Menyetrika pakaian
5. Membersihkan rumah
6. Menafkahi keluarganya
7. Membimbing keluarga untuk bisa masuk surga
TUGAS ISTRI
Tugas istri sebenarnya hanyalah satu yaitu ta'at kepada suami.
Jadi jika suami menyuruh untuk mengerjakan ini itu maka ta'atilah. Karena mentaati suami adalah WAJIB hukumnya. Selagi suami tidak mengajak atau memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah.