Ga wajar menurutku. Reward dan punishment itu harus setara.
Kalo 1 menit dipotong Rp35.000, berarti kerja 8 jam/hari selama 24 hari, gajinya harusnya Rp403.200.000. Tapi apa iya gajinya segitu? wkwk
Kantor yang wajar itu motongnya proporsional. Misal gaji 8 juta, dipotong 1 menit berarti cuma Rp694. Beda jauh kan.
Dan kalau logika Rp35.000/menit itu konsisten, harusnya lembur juga dihitung sama. 1 menit overtime = nambah Rp35.000. Tapi apa iya kantor yang motong segitu mau bayar segitu juga? Ya jelas ga.
Satu hal lagi yang sering kelewat: peraturan ini "tidak tertulis." Itu bukan cuma masalah etika, tapi bermasalah secara hukum. Pemotongan gaji tanpa dasar kontrak atau kebijakan tertulis itu ga sesuai UU Ketenagakerjaan. Beda ceritanya kalau ada hitam di atas putih.
Dan berlaku ke anak magang? Itu bahkan lebih ga bisa dibenarkan. Status magang beda secara struktural, kontraknya beda, hak dan kewajibannya beda. Nyamain mereka dengan karyawan tetap dalam hal punishment itu logikanya ga nyambung.
Perspektif owner ya pasti ga mau rugi, itu wajar.
Tapi ingat, hubungan perusahaan dan karyawan itu transaksional. Ga boleh jomplang satu arah. Kalau standarnya ga ditegakkan, bukan "budaya disiplin" yang terbentuk, tapi normalisasi eksploitasi.
Logika kebalik balik ya gini.
Jalan rusak, akses susah dijangkau bukannya dibenerin malah buat beli motor......listrik.
Ngomongin serius, hayuk. Secara spare part, perawatan batere, yg di kota besar aja masih engap2an kek presiden lo kalo lg ngomong panjang. Itu baru di kota, belom di daerah 3T.
Itu motor per unit harganya Rp42 juta.
Satu motor bisa buat 4,000+ porsi MBG (kalo memang itu beneran jadi prioritas ya)
Motor listrik Rp42 juta dipake buat melakukan pekerjaan yang motor bensin Rp18-20 juta kayak Supra/Revo aja bisa.
Efisiensi tai kucing.
Kalo emang mau malak & korupsi di siang bolong mah bilang aja gapapa. Dipenjaranya masih 3 tahun lagi ini.
Orang miskin itu kurang rajin apa?
Tukang panggul di pasar bekerja dari Subuh sampe sore tapi tetap ga kaya. Petani yg ga punya sawah juga bekerja dari pag sampe sore.
Kita harus akui kalo pekerja upah Indo ga bisa dikategorikan layak dibandingkan dgn biaya hidup