dilunaskan segala hutan, ditutup aib rapat rapat, dilancarkan segala rezeki baik harta maupun yang lain dan disehatkan selalu batin serta fisik yang ada
tolong ya Allah kabulkan ini semua untuk kita
Prabowo
TAK PERNAH JADI DANDIM
TAK PERNAH JADI DANREM
TAK PERNAH JADI PANGDAM
Tidak pernah berada benar-benar dari bawah.
Ia tidak lahir dari jalur kewilayahan.
Tak pernah ditempa oleh ritme desa,
tak pernah membaca denyut rakyat dari meja Danramil, tak pernah menghirup bau keringat petani lewat lintasan Babinsa.
Ia asing pada bahasa sungai, buta pada logika hutan, dan tak pernah memahami wilayah sebagai ruang hidup—bukan sekadar batas administratif.
Bagi dirinya, kewilayahan hanyalah koordinat di slide presentasi.
Ia berbicara wilayah seperti turis berbicara kampung:
fasih istilah, miskin pemahaman.
Yang muncul bukan kepekaan ruang,
melainkan refleks kekuasaan.
Rakyat direduksi menjadi objek bantuan, bukan subjek pemulihan.
Ia mengalami gagap struktural:
pengalaman komandonya terputus dari realitas tanah, sungai, dan desa.
Tak heran, kebijakannya sering jatuh seperti sepatu bot di lumpur:
berat, bising, namun tak pernah benar-benar melangkah.
Namun perlu ditegaskan:
🔹️Ini bukan soal kepedulian personal.
🔹️Ini soal formasi mental.
Sejak awal, ia dibesarkan untuk menguasai, bukan memahami.
Wilayah tidak pernah tunduk pada mereka yang hanya mengenal peta
tanpa pernah menjejak tanah.
Pada akhirnya, ini bukan kritik emosional, melainkan evaluasi struktural atas kepemimpinan yang kehilangan rasa tanah.
Karena negeri ini tidak dibangun dari PowerPoint, melainkan dari lumpur, sungai, hutan, dan manusia yang hidup di dalamnya.
Dan siapa pun yang gagal memahami itu, akan selalu salah alamat—betapapun tinggi jabatannya.
:: WeKa ::