Ohh mereka ternyata uda “NGEBET” banget yaa..!!
Ddpn JKW
Mrk minta Gibran-KDM dipasangkan. Artinya mrk gak lagi sama @prabowo gitu..??
& Jkw tersenyum2 mendengar usulan ini
Ok uda Jelas..Jelas
BREAKING NEWS
Purbaya pangkas target Bea Cukai Rp 4 Triliun
Target pendapatan awal sebesar Rp 320,6 Triliun di RAPBN 2026 menjadi Rp 316,6 Triliun di 2027
Anies ingin buka Kampung Haji Indonesia di Tanah Suci dan terkait biaya Haji/Umroh yg sangat mahal, Abah Anies :“Bahwa mereka² yg akan berangkat haji ini harus dipandang tamu Allah bukan sebagai komoditas usaha”
Masyaallah, semoga #AMINmenang sehingga semua terealisasi, Aamiin🤲
🔴 العالم كله الآن كله تقريبا يرفض ما حدث للفريق المصري من غش و خداع من أجل أن تصعد الأرجنتين و ميسي المحتال الي نهائيات كأس العالم ، وحسام حسن يقول لن أشاهد أية مباريات باقية في هذا الكأس و تضامن معه المذيع و آخرين ..👏👏👏
Yth. Kepala @Kepolisian_RI (@ListyoSigitP),c.q. Kepala @PoldaMetro,Saya,@ProfylHenuk dari Universitas Nusa Lontar (UNSTAR) ROTE di Kabupaten ROTE NDAO - NTT Siap Dipanggil Untuk Mengklarifikasi Soal Laporan @jokowi Ijazah S1 Hilang Dimana Bisa Beri Kasaksian:"Dia DO dari thn 83".
Guys, ada satu hal yang menurut gue paling jahat dan paling halus yang sedang dilakukan pemerintah ke kita semua sekarang.
Bukan dengan kekerasan.
Bukan dengan ancaman langsung.
Tapi dengan satu metode yang jauh lebih efektif:
Normalisasi.
Pelan-pelan.
Bertahap.
Sampai kita semua lupa bahwa hal yang sekarang kita anggap "ya begitulah" sebenarnya dulu adalah sesuatu yang tidak masuk akal.
Mari kita mulai dari awal:
Dulu Gibran tidak memenuhi syarat usia untuk jadi calon wakil presiden.
Aturan jelas.
Batas usia jelas.
Tidak ada ruang abu-abu.
Lalu tiba-tiba aturannya diubah.
Batas usia digeser.
Dan Gibran bisa maju.
Saat itu semua orang ribut.
Demo.
Kritik.
Headline media penuh dengan kata
"konstitusi dirobek".
Sekarang?
Sudah lewat lebih satu tahun.
Sudah jadi sejarah.
Tidak ada yang ribut lagi.
Yang dulu dianggap pelanggaran konstitusi terbesar sekarang dianggap "ya sudah terjadi, mau gimana lagi".
Itu normalisasi yang pertama.
Lalu janji-janji politik:
Selama kampanye segala macam janji diucapkan.
Yang didengar rakyat: harga akan turun, kesejahteraan akan naik, korupsi akan diberantas habis.
Sekarang janji-janji itu satu per satu menguap.
Harga naik bukan turun.
Subsidi dipotong bukan ditambah.
Dan ketika ditanya jawabannya selalu sama:
"kondisi global", "tidak sesederhana itu", "butuh proses".
Dan kita semua mulai menerima jawaban itu.
Padahal dulu janji itu yang membuat kita memilih.
Itu normalisasi yang kedua.
Lalu MBG:
Program senilai Rp335 triliun.
Korupsi terbongkar sebelum setahun berjalan.
Kepala BGN ditangkap.
Dapur SPPG meledak dari 21.000 jadi 27.000 dengan jual beli titik yang terungkap sendiri oleh Zulhas.
Reaksi pertama kaget.
Marah.
Gila, ini program flagship sudah korupsi dari awal!
Sekarang?
Ya namanya program besar pasti ada yang nyolong. Yang penting programnya jalan.
Itu normalisasi yang ketiga.
Dan ini yang paling licik penangkapan korupsi dijadikan prestasi:
Setiap kali ada pejabat ditangkap karena korupsi pemerintah dan pendukungnya langsung framing:
"Lihat, ini bukti pemerintah serius berantas korupsi!"
Tapi tunggu.
Penangkapan itu bukan prestasi.
Penangkapan itu adalah bukti bahwa korupsi terjadi di program yang dirancang dan dijalankan oleh pemerintah itu sendiri.
Bayangkan rumah kamu kebakaran karena kompornya bocor dan kamu malah dipuji karena berhasil memadamkan apinya.
Padahal yang harusnya dipertanyakan adalah:
kenapa kompornya bocor dari awal?
Itu normalisasi yang keempat dan ini paling berbahaya karena membalik logika sebab-akibat.
Lalu kenaikan BBM:
Dulu waktu dolar tembus Rp15.000 itu dianggap krisis nasional.
Headline besar.
Rapat darurat.
Semua orang panik.
Sekarang rupiah di Rp18.000.
Dan reaksinya?
"Ya begitulah kondisi global, semua negara juga kena."
Pertamax naik. Pertalite ikut terdampak abang ojol harus antri jam 4 pagi sebelum SPBU buka.
Tapi narasinya:
"Pertalite kan tidak naik, jadi rakyat kecil tidak terdampak."
Itu normalisasi yang kelima.
Dan ini yang paling menyeramkan buzer yang menyerang siapapun yang masih kritis:
Connie Rahakundini Bakri sampai harus lari ke Rusia karena nyawanya terancam.
Dino Patti Djalal diserang karena mengkritik biaya perjalanan presiden.
Saiful Mujani dikriminalkan.
Dokter Tifa dipolisikan.
Dan setiap kali ada yang kritis buzer langsung bergerak. Framing langsung dibentuk:
"ini cuma pencari sensasi",
"ini bagian dari konspirasi asing",
"ini orang yang tidak puas karena tidak dapat jabatan".
Pelan-pelan orang-orang yang masih berani bicara jadi makin sedikit.
Bukan karena mereka salah.
Tapi karena ongkos untuk bicara jadi terlalu mahal.
Itu normalisasi yang keenam dan ini yang membuat seluruh proses normalisasi sebelumnya bisa berjalan tanpa perlawanan.
Dan ini yang paling jahat dari semuanya kita mulai lelah:
Setiap normalisasi butuh energi untuk dilawan.
Setiap kali ada yang salah butuh tenaga untuk marah, untuk kritik, untuk turun ke jalan, untuk bertanya "kok bisa begini?"
Tapi ketika hal-hal yang salah ini datang terus-menerus satu demi satu, hampir tanpa henti energi kita untuk marah pun habis.
Dan ketika energi untuk marah habis yang tersisa hanya satu hal: menerima.
"Ya sudahlah."
"Mau gimana lagi."
"Memang begini negaranya."
"Capek juga kalau terus-terusan marah."
Dan itulah tujuan sebenarnya dari seluruh proses ini.
Bukan untuk membuat kita setuju.
Tapi untuk membuat kita terlalu lelah untuk tidak setuju.
Normalisasi bukan terjadi karena rakyat bodoh.
Normalisasi terjadi karena rakyat dibuat lelah secara sistematis satu krisis demi satu krisis,
satu pelanggaran demi satu pelanggaran,
satu janji yang diingkari demi satu janji lainnya sampai titik di mana melawan terasa lebih melelahkan daripada menerima.
Dan ketika seluruh generasi sudah tumbuh dengan menganggap semua ini "normal" tidak akan ada lagi yang bertanya "kenapa harus seperti ini?" Karena bagi mereka memang dari awal sudah seperti ini.
Itulah kenapa melawan kelelahan untuk tetap bertanya, tetap kritis, tetap mengingat bagaimana seharusnya adalah hal paling penting yang bisa kita lakukan sekarang.
Karena begitu kita berhenti bertanya itulah saat normalisasi benar-benar menang.
Kalau kamu bingung gimana cara membawa diri di tempat kerja,
nih, kenalin CHOKY SITOHANG.
TOP GLOBAL NGOLAH
Dari 1 konten videonya aja, banyak pelajaran yang bisa kita catat.
1. 00:13 "Kita kan menyesuaikan jadwal abang"
Kalau ditanya kapan mampir, atau ketemuan dengan seseorang yang "mungkin" lebih tinggi pangkat, status sosial, atau at least kamu hormati, kamu bisa pake kata-kata ini.
2. 00:21 "Bang, saya izin laporan ke yang bersangkutan"
Ini dipake ketika ingin menyudahi percakapan atau small talk tapi dengan cara yang halus.
3. 00:27 "Assalamualaikum, shallom, namo budaya, salam kebajikan"
Konteksnya karena di dalam ada bebeberapa orang dengan berbeda keyakinan, jadi sekalian sapa dengan salam sesuai kepercayaan mereka.
4. 00:45 "Akhirnya kita kenal juga, bang Asep"
Orang itu bakal lebih senang kalau kita tau nama dia, even baru pertama kali jumpa. Bisa baca name tag seandainya kamu benar-benar have no idea siapa nama dia.
5. 01:04 "Kapolres mohon izin, terima kasih Panglima, terima kasih Kapolda"
Detail kecil tapi berarti, untuk kasi respect ke orang yang kamu hormati. Misal di kantor dibeliin pizza sama bos, nah kamu bisa pake ini. "Bos, makasih ya pizzanya. Izin saya ambil, ya."
Siap buat ngolah? 😅