Akan ada Tantrum Massal
Pada 29 September 2026, Presiden Prabowo memberikan arahan kepada sejumlah kementerian/lembaga untuk melakukan pembenahan atau “bersih-bersih”. Menkum Supratman menyebut pesan tersebut mencakup seluruh kementerian dan lembaga.
Ini terjadi setelah Prabowo juga membuka kemungkinan reshuffle dan mengatakan evaluasi dapat berujung pada penggantian pejabat, antara lain untuk menempatkan orang yang tepat atau ketika terdapat persoalan yang harus dipertanggungjawabkan.
Kalau dibaca secara neuropolitika, ada beberapa konsekuensi yang perlu diamati
1. Semakin banyak kepentingan yang tersentuh → semakin banyak aktor yang merasa dirugikan.
Jika “bersih-bersih” benar-benar menyentuh jabatan, anggaran, proyek, jaringan birokrasi, atau kepentingan lama, maka kritik terhadap pemerintah dapat datang dari berbagai arah.
2. Kritik dapat bergeser dari kritik kebijakan menjadi kritik terhadap personal Presiden.
Ini penting.
Publik perlu membedakan:
kritik terhadap kebijakan,
kritik terhadap menteri/pejabat,
konflik antar-elite,
pemberitaan investigatif,
dan serangan politik yang memang diarahkan kepada Presiden.
3. Momentum dua tahun pemerintahan membuat evaluasi menjadi lebih politis.
Prabowo sendiri menyebut dua tahun sebagai waktu yang logis bagi evaluasi karena para menteri sudah mempunyai kesempatan menunjukkan kemampuan.
4. Pergantian pejabat dapat menjadi pemicu konflik baru.
“Semakin dalam proses konsolidasi dan pembersihan pemerintahan Prabowo, semakin besar pula potensi munculnya kontestasi kepentingan, kritik, dan konflik politik di sekitar Presiden.”
Siap-siap. Mulai tanggal 1 Oktober hingga 20 Oktober 2026, akan banyak jantung berdenyut lebih kencang, bahkan bisa terjadi Kejang-Kejang Massal.