Apa lantas kita akan memaki karena naiknya harga barang disebabkan fenomena ini?
Lalu kita bisa apa, sementara di saat mementum itu tiba, kita silau oleh pencitraan.
Ah, mohon izin untuk muntab.....
"Selamat menikmati buah ketololanmu"
DID YOU KNOW? Prophet Muhammad ﷺ had instructed his Ummah to kill wall geckos whenever they see any. In recent time, modern medicine has discovered from findings that this animal (Gecko) skins are more dangerous than snake's venom, a drop from it can clear entire family when mistakenly taking along with meals. Ignorantly people sees this animal as been harmless, also helps them to eat up other unwanted known insects like mosquitos, cockroaches and others, without knowing that this is the most dangerous killer in the household and environment. This reptile can kill within 60 seconds if not medically attended to. Please becareful, wipe this animal today , before it wipe the family. To eradicate it totally in your home, just mix salt with garlic and put it in different corners of your room. You will never see them again. Save a life today and be happy tomorrow. May Allah save us from this dangerous reptile 🦎. AMEEN 🤲
Sahih Buhari 3359
Sahih Muslim 2237
Di dunia tani, kita memang akrab dengan bahasa alam. Banyak petani sejak dulu belajar membaca tanda-tanda kecil di sekeliling mereka, bukan dari radar, bukan dari satelit, tapi dari perilaku makhluk hidup yang berbagi langit dan tanah yang sama.
Capung terbang rendah sebelum hujan?
Semut memindahkan telur saat udara terasa makin lembab?
Bagi banyak petani, itu bukan sekadar cerita, tapi hasil pengamatan puluhan tahun.
Menariknya, sebagian dari kearifan itu memang punya dasar ilmiah.
Saat udara menjadi lembab dan tekanan udara menurun, tanda hujan akan datang, serangga kecil terbang lebih rendah karena kondisi udara berubah. Capung, sebagai predator, ikut turun mengikuti mangsanya. Begitu pula semut, ketika tanah mulai lembab dan berpotensi tergenang, mereka memindahkan telur ke tempat yang lebih aman. Bukan karena meramal, tetapi karena mereka merespons perubahan lingkungan mikro di sekitarnya.
Artinya, kebijaksanaan petani itu bukan mitos kosong. Ia lahir dari kepekaan, kesabaran, dan kedekatan mereka dengan alam. Namun, di saat yang sama, kita juga perlu mengakui bahwa ilmu pengetahuan modern bekerja di tingkat yang lebih luas. BMKG menggunakan satelit, radar, dan model atmosfer untuk membaca cuaca dalam skala besar. Jadi, bukan soal siapa yang lebih benar, melainkan soal dua jenis pengetahuan yang saling melengkapi, kearifan lokal yang membaca tanda-tanda dekat, dan sains yang membaca gambaran besar.
Dari petani, kita belajar bahwa kecerdasan tidak selalu lahir dari ruang laboratorium. Kadang, ia tumbuh dari tanah, hujan, dan keheningan yang membuat manusia belajar mendengar alam.
Semoga kita tidak hanya pintar secara teknologi, tapi juga peka secara hati, mampu membaca ilmu, sekaligus tetap menghargai hikmah yang dititipkan Tuhan melalui alam.
Peradaban dibangun dari kesadaran yang sunyi, teknologi hanyalah cahaya yang membantu kita melihat jalan.
Sesempurna apa pun AI, manusia tetap lebih utuh.
AI bisa mengolah data, mengenali pola, bahkan meniru empati.
Namun AI tidak memiliki kesadaran.
Ia tidak mengalami hidup, tidak memikul tanggung jawab moral, dan tidak menanggung konsekuensi atas pilihannya.
Manusia berbeda.
Manusia memiliki kesadaran, nilai, dan nurani yang lahir dari pengalaman, luka, refleksi, dan pilihan sadar. Manusia bisa keliru, tetapi justru dari situlah tanggung jawab dan makna tumbuh.
AI bisa benar tanpa makna.
Manusia bisa salah, namun tetap bermartabat.
Maka mengatakan bahwa manusia tetap lebih “sempurna” daripada AI bukanlah penolakan terhadap teknologi, melainkan pengakuan atas martabat kemanusiaan. Bahwa akal budi, nilai, dan tanggung jawab etis tidak boleh diserahkan sepenuhnya pada mesin.
Teknologi seharusnya membantu manusia berpikir lebih jernih,
bukan menggantikan kesadaran,
bukan mengambil alih nilai,
dan bukan meniadakan nurani.
Solo, 13-12-25
#RAyAD
Ketika muncul gagasan bahwa aparat perlu “menindak buzzer tanpa delik”, di situ sebenarnya kita sedang menghadapi persoalan yang jauh lebih fundamental daripada sekadar perdebatan politik yaitu pemahaman dasar tentang prinsip negara hukum.
Dalam sistem hukum modern, terdapat asas yang tidak boleh dinegosiasikan, yaitu asas legalitas (nullum crimen sine lege). Artinya, tidak ada perbuatan yang dapat dipidana tanpa rumusan delik yang jelas dalam undang-undang.
Konsekuensinya sederhana : istilah sosial seperti buzzer, baik yang pro maupun kontra, tidak pernah berdiri sebagai delik hukum.
Kalau seseorang melakukan hoaks, fitnah, atau ancaman, maka deliknya hoaks, fitnah, atau ancaman, bukan “buzzer”.
Kalau seseorang hanya mengkritik, berdiskusi, atau berbeda pendapat, maka itu adalah bagian dari hak konstitusional warga negara.
Justru di titik ini publik perlu paham bahwa :
Kritik bukan serangan, melainkan mekanisme koreksi kebijakan.
Dalam teori pemerintahan demokratis, lembaga publik memiliki obligation to tolerate criticism karena mandatnya berasal dari rakyat. Kritik melekat sebagai resiko jabatan, bukan ancaman.
Penggunaan aparat tanpa dasar delik menciptakan ruang arbitrariness (kesewenang-wenangan).
Secara akademik, ini disebut rule by discretion, bukan rule of law.
Dan setiap kali hukum dioperasikan tanpa delik, yang hilang bukan hanya kebebasan berekspresi, tetapi juga integritas lembaganya sendiri.
Istilah “buzzer” tidak memiliki definisi hukum positif.
Karena itu, ia tidak bisa menjadi dasar tindakan pidana.
Menindak “buzzer”, tanpa membedakan apakah dia penyebar hoaks atau sekadar pengkritik, justru berpotensi membungkam partisipasi publik dan mengaburkan mana tindakan yang benar² melanggar hukum.
Intinya bagi publik :
Yang harus diperkuat bukan siapa yang mengkritik, tetapi substansi kritiknya.
Dan lembaga negara, termasuk DPR, semestinya menjadi pihak pertama yang menjaga agar hukum tetap bertumpu pada rasionalitas, proporsionalitas, dan asas legalitas.
Kalau asas dasarnya saja ingin dilewati, maka diskusinya bukan lagi tentang buzzer, tetapi tentang masa depan demokrasi itu sendiri.