Jangan berhenti membicarakan Gaza!
Hiroshima: 15.000 ton bom dijatuhkan di wilayah seluas 900 kmยฒ
Gaza: 70.000 ton bom dijatuhkan di wilayah seluas 365 kmยฒ
Kisah dua gadis SMU di Kalimantan Timur yang terperosok di jalan berlumpur dalam perjalanan menuju sekolah.
Bagaimana perasaanmu kalau harus "jatuh bangun" dalam arti yang sebenarnya agar bisa mengenyam pendidikan?
BREAKING : Bocah SMP Lawan Raksasa MBG!
Sambil menggendong boneka putih, siswi ini berdiri tegak dan lantang menyuarakan borok program Makan Bergizi Gratis (MBG) langsung di depan Istana Negara pada Aksi Kamisan ke-816. Saat banyak yang memilih diam, dia justru bicara jujur soal apa yang sebenarnya terjadi di lapanganโberadu nyali langsung dengan Raksasa MBG yang selama ini digembar-gemborkan.
Kecil badannya, tapi kata-katanya setajam pedang. Berani karena benar, bicara karena peduli!
#AksiKamisan #MakanBergiziGratis #RaksasaMBG
#KritikRakyat
#Viral
Melihat video viral seekor Beruang Madu (Helarctos malayanus) yang masuk ke pemukiman warga dengan kondisi kaki belakang yang sudah hilang sebelah, rasanya hati ini seperti diiris.
Satwa yang seharusnya menjadi raja kecil di jantung Borneo, kini harus mengemis sisa makanan dengan kondisi cacat yang diduga akibat jerat.โIni bukan sekadar fenomena satwa masuk desa. Ini adalah sinyal bahaya.
Kalimantan adalah rumah mereka, namun seiring dengan masifnya deforestasi dan alih fungsi lahan, ruang gerak mereka semakin terkunci.โBeruang ini datang bukan untuk menyerang. Ia datang karena lapar, karena bingung rumahnya sudah hilang, dan karena tidak ada lagi tempat untuk mencari makan di alam yang kian menyempit.
Sebagai orang yang hidup berdampingan dengan alam, kejadian ini seharusnya menjadi pengingat keras bagi kita semua:โ"Hutan kita bukan cuma soal kayu dan tambang, tapi soal nyawa-nyawa di dalamnya yang menjaga keseimbangan alam Borneo."โMari kita lebih peduli.
Jangan sampai anak cucu kita nanti hanya bisa melihat Beruang Madu lewat video viral atau buku sejarah saja karena kita gagal menjaga apa yang tersisa.
Guys, Bu Rani Anggrini Dewi konselor pernikahan 25 tahun lebih, sudah menikah 44 tahun bilang sesuatu yang menurut gua adalah penjelasan paling nyesek yang pernah gua dengar tentang kenapa banyak perempuan menyesal setelah menikah.
Dan ini bukan opini.
Ini dari orang yang setiap hari duduk berhadapan dengan pasangan-pasangan yang pernikahannya sedang hancur.
Jawabannya satu kalimat
mereka masuk ke pernikahan
tanpa tahu siapa diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka masuk
semua yang membentuk identitas mereka sebelumnya karir, mimpi, ambisi,
pengembangan diri pelan-pelan hilang.
Bukan karena dirampas.
Tapi karena struktur pernikahan
yang mereka masuki memang tidak dirancang
untuk menampung itu semua.
Bu Rani bilang polanya sangat konsisten dari ribuan kasus yang dia tangani.
Perempuan menikah.
Anak lahir.
Semua fokus beralih ke peran sebagai ibu dan istri.
Pengembangan diri berhenti.
Dan di suatu titik entah dua tahun kemudian atau sepuluh tahun kemudian mereka bangun dan bertanya siapa saya sekarang?
Saya sudah S1,
saya pernah kerja,
saya punya mimpi.
Sekarang saya cuma masak
ngurus anak, dan menunggu suami pulang.
Dan yang membuat ini sistemik dan bukan hanya nasib buruk individu adalah satu fakta yang Bu Rani sebut dengan sangat tegas orang tua Indonesia sekarang sudah sadar untuk menyiapkan anak perempuannya.
Mereka kirim ke universitas terbaik.
Dorong untuk berkarir.
Ajarkan untuk mandiri secara finansial.
Tapi mereka lupa menyiapkan anak laki-lakinya.
Hasilnya adalah collision yang tidak bisa dihindari. Perempuan yang sudah berkembang menikah dengan laki-laki yang masih membawa mindset bahwa suami harus dilayani, urusan rumah tangga dan anak adalah urusan istri, dan suami harus selalu lebih tinggi dari istri dalam segala hal.
Dua orang dengan level perkembangan yang sangat berbeda masuk ke satu institusi.
Dan perempuannya yang selalu diminta untuk menyesuaikan diri ke bawah bukan laki-lakinya yang didorong untuk naik ke atas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari seluruh cerita ini. Banyak perempuan yang menyesal bukan karena suaminya jahat.
Bukan karena pernikahannya penuh kekerasan.
Tapi karena perlahan-lahan tanpa ada satu momen dramatis yang bisa ditunjuk sebagai titik balik mereka kehilangan diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka sadar bahwa yang hilang itu tidak bisa dikembalikan oleh siapapun termasuk oleh suami yang mencintai mereka itulah penyesalan terdalam yang Bu Rani temui dalam kasusnya setiap hari.
perempuan yang menyesal setelah menikah bukan perempuan yang salah pilih pasangan.
Mereka adalah perempuan yang masuk ke struktur yang tidak pernah dirancang untuk menampung mimpi mereka.
Dan selama struktur itu tidak berubah selama anak laki-laki tidak disiapkan dengan cara yang sama dengan anak perempuan angka penyesalan itu tidak akan turun.
Guys, ini salah satu berita yang menurut gue paling mengerikan yang keluar hari ini dan bukan karena dramatis, tapi karena implikasinya sangat nyata terhadap keselamatan jutaan anak Indonesia.
BPOM secara resmi mengakui di depan DPR:
mereka belum pernah melakukan
sampling makanan MBG.
Sama sekali.
Karena tidak ada anggaran.
Mari kita letakkan ini dalam konteks yang benar:
Program MBG sudah berjalan berbulan-bulan.
Sudah menjangkau 27.000 SPPG di seluruh Indonesia.
Sudah menyerap Rp60 triliun anggaran.
Dan selama itu semua tidak ada satu pun sampel makanan yang diuji oleh BPOM.
Tidak ada verifikasi independen bahwa makanan yang masuk ke mulut anak-anak kita itu aman.
Tidak ada pengujian laboratorium resmi.
Tidak ada audit kualitas dari lembaga yang berwenang.
Dan angkanya membuat gue tidak habis pikir:
MBG: Rp60 triliun sudah terserap.
Hampir Rp1 triliun per hari.
Anggaran BPOM untuk mengawasi program ini yang tersedia saat ini: Rp2,9 miliar.
Bukan Rp2,9 triliun.
Bukan Rp2,9 miliar per bulan.
Total Rp2,9 miliar.
Perbandingannya:
anggaran pengawasan keamanan pangan untuk program yang menelan Rp60 triliun hanya 0,005% dari total anggaran program itu sendiri.
Dan kondisinya lebih buruk dari sekadar kekurangan anggaran:
BPOM sebelumnya sudah mengajukan anggaran Rp196 miliar untuk pengawasan MBG.
Sudah disetujui.
Tapi kemudian ada kewajiban pengembalian dana ke bendahara umum negara artinya dana itu dipotong dan tidak bisa digunakan.
Ada juga dana swakelola Rp675 miliar yang sudah disetujui Komisi IX DPR tapi sampai hari ini belum bisa dieksekusi karena masih menunggu tahapan administrasi yang entah kapan selesainya.
Jadi BPOM punya anggaran di atas kertas tapi tidak bisa digunakan.
Sementara makanan untuk jutaan anak terus dikirim setiap hari tanpa pengujian.
Dan ini yang paling ironis:
Kepala BPOM Taruna Ikrar bilang mereka sudah melatih 32.000 lebih tenaga ahli untuk mengawasi SPPG.
Tapi tidak ada anggaran untuk mengambil dan menguji satu pun sampel makanan.
Jadi kita punya 32.000 orang terlatih tapi tidak ada alat ukur yang bisa membuktikan bahwa makanan yang mereka awasi itu aman.
Itu seperti punya 32.000 dokter tapi tidak ada satu pun alat diagnosa.
Mereka bisa melihat.
Tapi tidak bisa membuktikan.
Konteks yang membuat ini semakin mengerikan:
Kita sudah tahu bahwa 6.457 orang dilaporkan terdampak keracunan MBG angka yang BGN sendiri laporkan ke DPR.
Belatung ditemukan dalam makanan MBG dan diakui sendiri oleh Hashim Djojohadikusumo.
Kasus keracunan terjadi di Duren Sawit, Bantul, dan berbagai daerah lain.
Dan selama semua itu terjadi lembaga yang seharusnya bertugas memverifikasi keamanan pangan itu tidak pernah melakukan satu pun uji sampel karena tidak ada anggaran.
Yang tidak masuk akal dari seluruh situasi ini:
BGN punya anggaran untuk:
Motor listrik Rp1,2 triliun
Digitalisasi Rp3,1 triliun
Semir sepatu Rp1,25 miliar
Sikat semir Rp272 juta
Tapi BPOM lembaga yang bertugas memastikan makanan itu tidak meracuni anak-anak hanya tersisa Rp2,9 miliar yang bisa digunakan.
Prioritas anggaran ini mengatakan sesuatu yang sangat jelas tentang apa yang dianggap penting dalam program ini dan apa yang tidak.
Pertanyaan yang harus dijawab:
Satu โ Selama berbulan-bulan program MBG berjalan tanpa pengawasan sampling BPOM, siapa yang bertanggung jawab memastikan keamanan pangan dari 27.000 SPPG itu?
Dua โ Apakah BGN tahu bahwa BPOM tidak bisa melakukan sampling karena tidak ada anggaran? Kalau tahu โ kenapa tidak ada tindakan untuk mengalokasikan anggaran yang memadai?
Tiga โ Apakah 6.457 korban keracunan itu bisa dicegah kalau sampling BPOM berjalan sejak awal? Tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti.
Tapi pertanyaannya sangat valid dan harus ditanyakan.
Empat โ Dana swakelola Rp675 miliar yang sudah disetujui tapi belum bisa dieksekusi apa yang menghalanginya dan siapa yang bertanggung jawab atas kemacetan administrasi itu?
Bottom line:
Indonesia menjalankan program makan gratis terbesar dalam sejarahnya dengan anggaran hampir Rp1 triliun per hari tanpa pengujian keamanan pangan yang independen.
Bukan karena teknologinya tidak ada.
Bukan karena BPOM tidak mau.
Tapi karena anggarannya tidak tersedia sementara di sisi lain uang mengalir untuk motor listrik dan semir sepatu.
Ini bukan kelalaian kecil.
Ini adalah kegagalan sistemik dalam memprioritaskan keselamatan anak-anak di atas kepentingan pengadaan dan administrasi.
Dan yang paling mengejutkan dari semua ini bukan fakta bahwa BPOM tidak punya anggaran.
Yang paling mengejutkan adalah bahwa program senilai Rp60 triliun ini diizinkan untuk terus berjalan hari demi hari tanpa mekanisme pengawasan keamanan pangan yang paling dasar sekalipun.
atau ini bukan program makan bergizi
atau cara menghabiskan anggaran dengan gaya??
e-KTP hilang, rakyat didenda. Tapi kalo uang negara hilang dikorupsi, pejabat tetap santai seolah itu hanya risiko profesi.
Lucunya negeri ini.
Negara begitu teliti menghitung denda administratif rakyatnya, namun mendadak rabun saat menghitung kerugian negara akibat korupsi.
๐ Di tengah puing dan kehancuran, warga gaza tetap nyambut Ramadan dengan dekorasi sederhana di tenda mereka. Bukti kalau harapan itu ga pernah benar2 mati, bahkan saat dunia lagi runtuh. ๐ฅบ๐ฅบ
Di berbagai negara setiap Rumah sakit memiliki SOP keselamatan dlm menangani pasien emergency, warga negara mendapatkan jaminan kesehatan gratis yg diberikan oleh negara.
Beda dgn disini, kalimat pertama di lobi UGD ; "BPJS apa bayar umum ?!"
Tanpa mengaku sbg kapolres, AKBP Arif melapor kehilangan sepeda ke polsek.
Bukannya ditangani serius, ia justru mendapat respons santai hingga ditanya harga sepeda. Itulah fakta di lapangan
Coba petinggi polri jadi rakyat biasa laporan ke polisi
Biar tau pelayanan di lapangan
๐ tau kan alasan kenapa pemerintah gak mau rakyatnya pada pinter? karena takut rakyatnya gak bisa dibodohi dan malah balik ngeritik pemerintah ๐๐