Kalau syarat kerja mulai diuji dari kemampuan mengaji, pertanyaannya sederhana: ini negara demokrasi atau seleksi masuk lembaga keagamaan?
Negara ini berdiri untuk semua warga negara, bukan cuma untuk yang memenuhi standar keyakinan tertentu. Profesionalisme mestinya diukur dari kerja dan kompetensi, bukan keyakinan tertentu
Masyarakat Indonesia harus membiasakan dan melepaskan anggapan bahwa seorang ulama, syekh, pendeta, biksu, atau sebutan kyai itu sbg sosok mulia, panutan.
Sejatinya mereka adalah org biasa, gak ada yg spesial kecuali titel.
Menghormati perlu, tapi jangan mengkultuskan.
@istianah_nissa@seebs_jbs26@PostinusGul@subtansi Ngotot banget jem, paham gak sih dia katolik dan di katolik itu pastor bukan pendeta. Lagian sewot banget soal agama orang, ulama agamamu udah sempurna semua? Bukannya kalian ya yg banyak "oknum"nya ππ
@AAlmukhtara@aewin86 Akal sehatku adalah tidak peduli kebencian para pemain politik. Hidupku damai dan baikΒ² saja bro. Bereskan amarahmu kalo memang berakal sehat. Gak lulus tes masuk institusi yg katamu najis ?? Hmm ...ππ
@GybrantR53927@matjanmi@aewin86 Diskusi dgn argumen kek elu sama aja merendahkan logika sih π.
Orang yg dari sisi bahasa aja gak beretika tp menuntut selevel mantan presiden meladeni sampah politik