JADWAL PIALA DUNIA 2026 ๐๐
Bookmark postingan ini biar gak ada pertandingan yang kelewatan! ๐ฅ
Repost dan share ke teman, tongkrongan, dan grup keluarga. Siap-siap begadang selama sebulan penuh ๐
Teman gue beli Avanza 2019.
Harga 135 juta.
Murah dikit dari pasaran.
BPKB ada. STNK ada. Pajak hidup.
Nama di BPKB sesuai KTP penjual.
Semua keliatan beres.
Langsung deal. Langsung transfer.๏ฟผ
3 bulan kemudian.
Dia mau jual lagi karena butuh uang.
Calon pembeli baru minta cek fisik dulu.
Bareng ke Samsat.
Petugas cek nomor rangka.
Diam lama.
Terus bilang:
"Pak, BPKB ini diduga palsu."๏ฟผ
Teman gue shock.
Kira salah baca.
Petugas tunjuk satu per satu.
Serat kertas diterawang, gak ada benang merah biru.
Nomor seri dicek di sistem, gak terdaftar.
Hologram terlalu mulus. Terlalu licin.
Palsu. Tapi hampir sempurna.๏ฟผ
Balik ke penjual.
Nomor masih aktif hari pertama.
Jawabnya:
"Saya juga gak tau Pak, saya beli kondisi gitu."
Telepon berikutnya.
Tidak diangkat.
Berikutnya lagi.
Nomornya tidak aktif.๏ฟผ
Lapor polisi.
Mobilnya ditahan sebagai barang bukti.
Penjual belum ketangkap.
135 juta raib.
Mobilnya raib.
Penjualnya raib.๏ฟผ
BPKB palsu sekarang bukan kaleng-kaleng.
Kertas mirip. Hologram mirip. Tanda tangan mirip.
Mata telanjang gak akan ketahuan.
Tapi ada 3 hal yang selalu ninggalin jejak:
1. Serat kertas.
BPKB asli kalau diterawang โ ada benang merah dan biru di dalam kertas.
Palsu: polos. Atau seratnya dicetak, bukan tertanam.๏ฟผ
2. Nomor seri.
Tiap BPKB punya nomor seri unik yang terdaftar di sistem Polri.
Cek di: https://t.co/UA5mhtlZUI
Palsu: nomornya gak akan muncul. Atau muncul tapi datanya beda.
3. Tekstur cover.
BPKB asli covernya agak kasar, ada tekstur grid halus.
Palsu: terlalu mulus dan licin waktu dipegang.๏ฟผ
Tapi cek dokumen saja gak cukup.
Nomor rangka dan mesin juga bisa dimanipulasi.
Digerinda halus. Di-stamp ulang.
Kelihatan mulus kalau cuma dilihat sekilas.
Yang bisa deteksi: senter kuat + kaca pembesar.
Sorot miring ke nomor rangka.
Kalau ada bekas gerindaan, batalkan transaksi.๏ฟผ
Ini checklist wajib sebelum bayar:
Terawang kertas BPKB โ cek serat merah biru.
Cek nomor seri BPKB โ ke website Korlantas Polri.
Pegang cover BPKB โ harus kasar, bukan licin.
Sorot nomor rangka pakai senter โ cek bekas gerindaan.
Bandingkan digit per digit โ satu angka beda = batalkan.
Minta cek fisik bareng ke Samsat โ gratis, 30 menit.๏ฟผ
TAMPARAN TERAKHIR:
Lo pegang BPKB-nya.
Tapi gak diterawang.
Lo baca nomornya.
Tapi gak dicek ke sistem.
Lo lihat hologramnya.
Tapi gak diraba teksturnya.
Semua butuh kurang dari 5 menit.
Tapi di-skip.
Dan itu yang bikin 135 juta raib semalam.๏ฟผ
Konate & Dumfries emang dibutuhin. Kalo kejadian bagus banget. Masih ada pos penting lainnya tapi
CDM = tempo, press resistance, pivot
RW = creator, goalscorer, left footed
ST = target man, poacher
Sisanya:
Gonzalo stay
Pelapis Vini (Rodrygo imo)
Pemain La Fabrica ke first team
Sering denger saham bank itu bagus buat jangka panjang, tapi tau ga cara ngitung harga wajarnya?
Harga sekarang itu beneran lagi diskon murah atau aslinya masih kemahalan? ๐งย
Di thread ini, kita bakal bedah pake metode hitungan matematika yang biasa dipake analis profesional, tapi pake bahasa yang super awam. Yuk belajar bareng! (Bukan ajakan beli/jual ya, pure edukasi)๐
Salah satu momen gilak di fina Liga Champions
Hanya berapa menit atau bahkan berapa detik dari gelar juara UCL Atletico tp semua buyar
Gimana perasaanmu pas gol ini?
Sy waktu itu ngira ya juara Atletico, tiba2 โedan cuk ramos golโ ๐คฃ๐คฃ๐คฃ๐คฃ
Guys, semua orang lagi puja-puji BYD.
Mobil paling laris di dunia.
Mengalahkan Tesla.
Masuk ke Indonesia dengan harga yang bikin Toyota dan Honda keringat dingin.
Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dengan jujur:
BYD menang karena lebih inovatif atau karena negara adidaya yang membiayai semuanya dari belakang?
Dan kalau jawabannya yang kedua implikasinya jauh lebih besar dari sekadar urusan beli mobil murah.
Mulai dari bukti yang paling konkret:
Antara 2018 sampai 2022 BYD menerima subsidi langsung sekitar 3,7 miliar dolar dari pemerintah China. Itu menurut riset dari Kiel Institute.
Tapi yang lebih mengejutkan:
di tahun 2019 jumlah subsidi yang diterima BYD
lebih besar dari total keuntungan operasional mereka. Artinya tanpa suntikan uang negara
BYD di tahun itu rugi total.
Mereka tidak menghasilkan uang sendiri.
Mereka bukan perusahaan yang profitable.
Mereka adalah entitas yang dihidupkan secara paksa oleh uang negara China.
Dan ini analoginya yang paling mudah dipahami:
Bayangkan kamu buka warung nasi padang.
Modal sendiri.
Sewa tempat sendiri.
Belanja bahan sendiri.
Bayar pajak sendiri.
Tiba-tiba muncul warung baru di seberang jalan. Tempatnya lebih bagus.
Porsinya dua kali lebih banyak.
Harganya 30% lebih murah.
Kamu pikir: wah, supply chain-nya pasti sangat efisien.
Tapi ternyata:
pemerintah kota menutup 60% biaya bahan baku mereka setiap hari.
Tanahnya dikasih gratis oleh negara.
Dan setiap pelanggan yang makan di sana dapat cashback langsung dari kas daerah.
Itu bukan kompetisi bisnis.
Itu pembantaian industri yang dibungkus rapi dalam istilah persaingan pasar bebas.
Dan persis itulah yang terjadi di skala global dengan BYD.
Dan ini kenapa China mau membakar uang puluhan triliun untuk satu perusahaan mobil:
Pertama โ leverage geopolitik.
Kalau setengah armada bus di Eropa, Afrika, dan Asia Tenggara pakai baterai BYD bayangkan apa yang terjadi kalau suatu hari China memutus supply chain suku cadang mereka.
Infrastruktur transportasi negara lain mati total. Ketergantungan strategis tercipta tanpa perlu satu peluru pun ditembakkan.
Kedua โ reverse tech transfer.
Dulu China dipandang sebelah mata dan dipaksa membeli teknologi dari Amerika dan Eropa.
Sekarang dibalik: pabrikan Jerman, Jepang, dan Amerika yang antre untuk mengakses teknologi baterai murah dari China.
Ketiga โ stabilitas sosial.
BYD dan seluruh ekosistem suppliernya mempekerjakan ratusan ribu orang di China.
Di negara otokratis manapun menyerap tenaga kerja massal dan membuat perut rakyat kenyang adalah alat politik paling ampuh untuk mencegah revolusi domestik.
Dan ini yang membuat BYD benar-benar tidak bisa dilawan bahkan oleh Toyota atau Ford:
Bukan teknologinya yang paling canggih.
Tapi vertical integration yang paling brutal dalam sejarah industri otomotif.
Tesla jago desain aerodinamis, bikin software, jualan mobil.
Tapi BYD jago menambang bahan bakunya, mencetak mesinnya, membangun jalan tolnya, membuat mobilnya, sampai menjual tiket tolnya.
Dari menambang litium di Tibet sampai pabrik sel baterai, chip semikonduktor, armada kapal kargo laut semua milik mereka sendiri.
Bukti paling nyata: krisis chip global 2021-2022.
Ford, GM, Toyota terpaksa parkir ratusan ribu mobil setengah jadi di lapangan terbuka karena menunggu chip dari Taiwan.
Rugi miliaran dolar.
BYD?
Tinggal telepon anak perusahaannya sendiri:
BYD Semiconductor.
Produksi tidak terganggu satu hari pun.
Tapi ini bagian yang tidak diceritakan oleh narasi BYD yang keren:
Awal 2025 lembaga riset independen GMT Research di Hong Kong merilis dokumen mengejutkan.
Hutang real BYD bukan 27 miliar yuan seperti yang tercatat rapi di laporan keuangan resmi mereka.
Angka real-nya diestimasi mendekati 323 miliar yuan hampir 12 kali lipat lebih tinggi dari yang dilaporkan ke publik.
Kemana ratusan triliun itu disembunyikan?
Dalam celah akuntansi yang disebut supply chain financing.
Standar industri otomotif global:
bayar vendor dalam 50-60 hari setelah barang dikirim.
BYD?
Memaksa vendor dibayar rata-rata dalam 275 hari hampir 9 bulan.
Artinya ribuan vendor kecil dan menengah dipaksa membiayai ekspansi gila-gilaan BYD dari kantong mereka sendiri tanpa bunga sepeserpun.
BYD pada dasarnya numpang hidup dari cash flow pihak ketiga.
Dan pola ini menurut analis Wall Street identik dengan yang dilakukan Evergrande sebelum kolaps dan memicu krisis ekonomi yang menggetarkan Asia.
Dan ini yang paling relevan untuk Indonesia:
BYD sudah ada di jalan tol kita.
Di lobi mall kita.
Pabriknya dibangun di Subang dengan narasi:
investasi triliunan, lapangan kerja puluhan ribu untuk warga lokal.
Tapi ingat kasus Brazil BYD masuk daftar hitam Kementerian Tenaga Kerja Brazil karena kondisi yang secara resmi digambarkan sebagai analog perbudakan.
163 pekerja didatangkan langsung dari China.
Paspor disita manajemen.
Kerja 14 jam sehari tanpa hari libur.
Dan Indonesia punya lebih dari 1.500 perusahaan komponen otomotif lokal di Cikarang sampai Karawang yang urat nadinya hidup dari mensuplai Toyota, Honda, Daihatsu, Suzuki.
Kalau pabrikan Jepang mulai tutup pabrik karena margin hancur vendor-vendor lokal itu bisa kolaps berantai.
Bisakah mereka beralih suplai komponen ke BYD? Hampir tidak.
Karena BYD memegang vertical integration yang sangat tertutup. Komponen utamanya dari ekosistem China sendiri.
Dan ini tiga skenario yang paling penting:
Skenario pertama:
kamu sebagai konsumen senang dapat mobil murah. Pabrikan Jepang panik kasih diskon puluhan juta.
Tapi kalau 3-5 tahun ke depan Toyota dan Honda memutuskan margin di Indonesia tidak sustainable lalu angkat kaki kamu 100% bergantung pada ekosistem service kendaraan China.
Kalau harga spare part tiba-tiba naik 300% tidak ada pilihan lain.
Skenario kedua: industri komponen lokal mati berantai tanpa bisa beralih ke ekosistem BYD yang tertutup.
Skenario ketiga: lapangan kerja yang dijanjikan dari pabrik BYD kalau polanya sama dengan Brazil bukan untuk rakyat Indonesia tapi untuk pekerja yang diimpor langsung dari China.
BYD bukan perusahaan biasa yang menang karena inovasinya paling hebat.
BYD adalah senjata ekonomi geopolitik China yang dibiayai uang negara dirancang untuk mendominasi industri otomotif global dengan cara yang tidak bisa ditandingi oleh kompetitor swasta manapun yang harus bermain dengan uang sendiri dan aturan pasar yang normal.
Apakah BYD akan bangkrut bulan depan? Tidak.
Mereka punya cadangan kas besar dan pelindung mutlak bernama negara adidaya.
Tapi sinyal alarm finansialnya nyata.
Hutang tersembunyi 12 kali lipat dari yang dilaporkan.
Pola identik dengan Evergrande.
Manipulasi angka penjualan yang bocor dari dalam.
Penarikan paksa ratusan ribu unit dalam dua tahun terakhir.
Dan kalau bubble ini meledak dampaknya tidak akan berhenti di Beijing.
Ia akan menjalar ke seluruh ekosistem otomotif global.
Termasuk ke konsumen Indonesia yang sudah terlanjur bergantung pada ekosistem yang supply chain-nya sepenuhnya ada di luar kendali kita.