dear netizen korea:
daripada cuma ngatain orang indo jelek atau kek monyet yang udah jelas2 gak akan mempan, coba katain ini:
“presiden lu noh zionis”
“wapres lu noh gibran”
“UMR lu noh kecil”
“paspor sama mata uang lu noh lemah”
“makan noh MBG”
“yaah kasian WNI”
dijamin mempan
Sampai saat ini, tidak ada itikad baik dari pelaku maupun brand untuk menghubungi saya, ataupun korban lain dan tidak ada permintaan maaf yang saya, ataupun korban lain terima.
Terkait hal ini. Saya berharap tidak ada lagi ruang untuk pelecehan seksual.
@GabRey99 Sepemikiran 100%.
Menurut keyakinan saya, pak Gema terlalu mendewakan sampai masuk ke level lebay, maaf lancang. 🙏🏼
Apaan banget deh raja, we had way way bigger events in the past. SBF, CZ. 😅
Saya gak setuju sama ini. Apapun yang terjadi sama TR.
Nggak akan impact ke crypto industry.
1. FTX yang segede gitu aja collapse , kepercayaan exchange turun, harga btc drop . Transaksi crypto turun drastis.
Market tetep recover.
(Kecuali TR bisa bikin market global collapse 😀)
2. Kasus ini terjadi cuma di lokal. Kalau trump bikin potong suku bunga,dll dan harga btc naik.
Gw jamin 1000% retail berbondong2 masuk crypto lagi as usual.
3. Yang justru terancam adalah industri jual kelas di semua sektor.
4. Sekarang edukasi crypto gratis bertebaran dimana2. Kalau ga males tinggal belajar aja.
Saya sangat ga setuju 1 industri crypto yang kita bangun bertahun2 dikaitkan ke 1 orang seakan2 bisa buat runtuh semua.
*menurut keyakinan saya 🤭
Influencer Kripto = Penebar Sindrom Cepat Kaya
Selama kurang lebih satu tahun terakhir, ruang publik kripto di Indonesia dibanjiri oleh narasi yang semakin tidak sehat, khususnya bagi Gen Z yang secara psikologis masih berada pada fase pencarian identitas, validasi sosial, dan pembentukan cara berpikir finansial.
Di tengah kondisi tersebut, muncul sosok mentor dan influencer kripto berkaliber nasional, yang secara masif menyebarkan narasi kaya instan, lengkap dengan framing gaya hidup ekstrem yang jauh dari realitas mayoritas pelaku pasar.
Perlu dipahami bersama, Gen Z bukan kelompok usia yang sudah matang secara emosi dan pengalaman hidup.
Mereka bukan generasi yang tumbuh dengan proses panjang akumulasi aset, melainkan generasi visual, generasi algoritma, dan generasi pembanding sosial.
Ketika disuguhi konten flexing berlebihan, maka yang terbentuk bukan inspirasi sehat, melainkan obsesi untuk meniru hasil tanpa memahami proses
Di sinilah masalah besar dimulai.
Saya yg bodoh tidak berpendidikan jadi dong dan mengerti setelah dapat share dr kawan : hitungan Alumni ITB jur matematik menganalisa kenapa terjadi banjir di Sumatra..👇