kemenangan Persib memang pantas dirayakan, ungkapan gembira adalah hak setiap orang dan wajar, silih bebaskeun. Tapi tong nepi ngarugikeun batur euy, komo ngancam keselamatan dengan mawa sajam. Kesenangan pribadi tidak sepatutnya diletakkan di atas hak serta kenyamanan bersama.
Tidak sama sekali membenarkan segala aktivitas yang bertolak belakang dengan korelasi sepakbola. Tapi naha maraneh (mahasiswaitbygbersangkutan) giliran kanu kieu gesit, mun tentang isu sosial kamarana? Ngabetem wae. Jeung maraneh teh kaum terpelajar, teu kudu nepi ka rasis euy.
Tanpa pemahaman yang benar tentang esensi feminisme, upaya untuk mengembangkan gerakan ini akan terus terhalangi oleh konsep yang menyimpang dari tujuan aslinya.
Di tengah dinamika perkembangan gerakan hak-hak perempuan di Indonesia, muncul fenomena yang menarik untuk dikaji secara kritis: kesulitan feminisme untuk tumbuh secara substansial, salah satunya karena banyak wanita justru ingin bentuk pengistimewaan yang kerap dipermasalahkan.
Padahal, kesetaraan yang digaungkan feminisme justru memberikan kebebasan bagi perempuan untuk tidak terikat pada peran yang ditentukan oleh norma sosial, serta memiliki akses yang sama dalam pendidikan, pekerjaan, dan pengambilan keputusan.
Di konteks Indonesia, kesalahpahaman ini diperparah oleh konten media sosial yang seringkali menyajikan narasi pengistimewaan sebagai bentuk cinta atau penghormatan.
fokus nya memperjuangkan hak suara bagi wanita, bukan untuk diistimewakan atau diposisikan sebagai pihak yang lebih unggul. Gerakan tersebut bertujuan untuk menghapus batasan yang menghalangi perempuan mengakses ruang yang sama dengan laki-laki dalam kehidupan publik.
Dasar dari gerakan ini adalah kesetaraan, kesempatan, hak, dan tanggung jawab yang sama antara perempuan dan laki-laki tanpa diskriminasi apapun. Sejarah mencatat bahwa pergerakan feminisme gelombang pertama di abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Ini bukanlah women empowerment, melainkan bentuk lain dari kontrol patriarki yang menyembunyikan diri di balik label positif. Perlu ditegaskan bahwa feminisme sejati tidak pernah berbicara tentang pengistimewaan perempuan.
Meskipun kedua isu ini muncul dari keinginan akan rasa dihargai, esensinya justru menegakkan pembagian peran yang tidak seimbang di mana perempuan diposisikan sebagai pihak yang perlu "dipelihara" atau "dimanjakan" oleh laki-laki.
Sementara itu, "queen/princess treatment" membawa konsep perempuan sebagai pihak yang harus diistimewakan, dihormati secara khusus, dan mendapatkan layanan yang lebih tinggi dibandingkan pasangan.
Perbincangan seputar "bare minimum"/ "queen treatment" yang kini ramai diperbincangkan di platform media sosial menjadi cermin dari hal ini yang seringkali disalahartikan sebagai bentuk pemberdayaan perempuan, padahal pada hakikatnya merupakan wujud patriarki dengan kemasan baru.
Oleh karena itu, kita semua memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa PIP benar-benar tepat sasaran dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi mereka yang membutuhkan.
Program Indonesia Pintar (PIP), yang digagas sebagai jembatan bagi siswa kurang mampu untuk meraih pendidikan berkualitas, sayangnya, seringkali menjadi cermin buram yang merefleksikan ketidakadilan.
PIP adalah program yang sangat penting dan strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Namun, jika program ini terus menerus diwarnai oleh praktik salah sasaran, maka tujuan mulia tersebut akan sulit tercapai.