Tujuan di syariatkan sholat:
من مقاصد الصلاة الإستراحة من أنكاد الدنيا
Termasuk tujuan disyariatkan sholat itu untuk istirahat dari kehidupan duniawi yang melelahkan.
-Imam syathibi ra
▪️ الإمام الشاطبيؒ
📚 الاع��صام
Sa’id bin al-Musayyib pernah mengatakan:
“Suatu ketika, aku sedang duduk di antara makam Nabi Saw dan minbar beliau, Raudhah. Tiba-tiba, aku mendengar seseorang berdoa:
َّاللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عَمَلًا بَارًّا، وَرِزْقًا دَارًّا، وَعَيْشًا قَارا
Allaahumma inni as-aluka ‘amalan baarran, wa rizqan daarran, wa ‘aisyan qaarran.
‘Ya Allah, aku meminta kepada-Mu amal yang penuh kebajikan, rezeki yang melimpah dan terus mengalir, serta kehidupan yang tenang dan mapan.’
Lalu aku menoleh, tetapi tidak melihat seorang pun. Sejak saat itu, aku terus mengamalkan doa tersebut, dan tidaklah aku mendapatkan sesuatu darinya kecuali kebaikan.”
Pak, di kampungku ada seorang laki-laki. Badannya tegap. Gagah. Suaranya berwibawa. Tokoh masyarakat. Selalu hadir di tempat ibadah.
Orang-orang segan sama dia.
Aku sering ngobrol dengannya setelah ibadah, Tapi aku sadar satu pola:
Setiap jam 21.30, dia buru-buru pamit pulang.
Apapun yang sedang dibahas. Apapun yang belum selesai.
Jam setengah sembilan, dia pergi.
Tiga Nasihat Seekor Burung
Dikisahkan, seorang lelaki dari Bani Israil menangkap seekor burung.
Lalu, burung itu berkata: “Apa yang ingin kau lakukan denganku?”
Lelaki itu pun menjawab: “Aku akan menyembelihmu lalu memakanmu.”
Burung itu berkata:
“Demi Allah, tubuhku tidak akan mengenyangkanmu dan tidak pula menghilangkan laparmu. Tetapi jika kau melepaskanku, aku akan memberimu tiga nasihat yang jauh lebih berharga daripada memakanku.
Nasihat pertama akan kusampaikan saat aku masih di tanganmu, yang kedua saat aku berada di atas pohon, dan yang ketiga saat aku hinggap di atas batu.”
Lelaki itu berkata: “Katakan yang pertama.”
Burung berkata: “Jangan terus-menerus menyesali sesuatu yang telah hilang darimu.”
Maka lelaki itu melepaskannya. Burung pun terbang dan hinggap di pohon.
Lelaki itu berkata: “Sekarang katakan nasihat kedua.”
Burung berkata: “Jangan pernah percaya pada sesuatu yang mustahil terjadi.”
Kemudian burung itu terbang ke atas batu dan berkata:
“Wahai orang malang! Seandainya tadi kau menyembelihku, niscaya kau akan menemukan mutiara seberat dua puluh mitsqal di dalam tembolokku!”
Mendengar itu, lelaki tersebut langsung menyesal, menggigit bibirnya, dan meratap. Lalu ia berkata: “Sekarang katakan nasihat ketiga!”
Burung itu menjawab:
“Bagaimana mungkin aku mengajarkan nasihat ketiga sementara kau telah melupakan dua nasihat pertama?
Bukankah tadi aku berkata: ‘Jangan bersedih atas sesuatu yang hilang darimu’? Tetapi kau malah menyesal setelah melepaskanku.
Dan bukankah aku juga berkata: ‘Jangan percaya pada sesuatu yang mustahil’? Sedangkan kau mempercayai perkataanku! Berat tubuhku saja bahkan tidak mencapai dua puluh mitsqal bersama tulang dan buluku. Bagaimana mungkin ada mutiara sebesar itu di dalam perutku?”
Dikisahkan, Imam al-Haramain al-Juwaini—guru dari Imam al-Ghazali—pernah dilihat dalam mimpi oleh seseorang. Orang itu lalu bertanya:
“Apa yang Allah lakukan terhadap engkau?”
Beliau menjawab: “Allah mengampuni dosa-dosaku karena satu kalimat yang dahulu aku baca ketika melihat jenazah. Kalimat itu juga diriwayatkan dibaca oleh Sayyidina Utsman bin Affan Ra.
Doa tersebut adalah:
سُبْحَانَ الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوْتُ
“Maha Suci Dzat Yang Maha Hidup, yang tidak akan pernah mati.”
Kisah ini dinukil oleh Imam Fakhr al-Din al-Razi dalam tafsirnya Mafatih al-Ghaib sebagai bentuk kemuliaan Abu Bakar ash-Shiddiq Ra dan kedekatannya dengan Rasulullah Saw.
Berikut adalah kisahnya: ketika jenazah Abu Bakar dibawa menuju makam Rasulullah Saw, para sahabat pun berkata:
“Assalamu ‘alaika ya Rasulallah, ini Abu Bakar berada di depan pintu.”
Maka, pintu pun terbuka dan terdengar seruan:
أدخلوا الحبيب إلى الحبيب
“Bawalah sang kekasih menuju Sang Kekasih.”
Betapa indah ungkapan itu. Seolah seluruh hidup Abu Bakar memang hanyalah perjalanan untuk tetap dekat dengan Rasulullah Saw, baik dalam dakwah, hijrah, tangis, perjuangan, hingga akhirnya di peristirahatan terakhirnya pun ia kembali berada di sisi manusia yang paling ia cintai.
Tatkala ku masih kecil aku melihat allah, aku melihat para malaikat dn aku melihat rahasi alam semesta dari yg paling tinggi dn yg paling rendah, aku mengira bahwa semua manusia melihat apa yg aku lihat, namun dgn cepat berlalu aku tau bahwa mereka tdk melihat apa yg aku lihat.
Sebagian para ahli hikmah berkata:
“Barang siapa dianugerahi empat perkara, maka ia tidak akan terhalang dari empat perkara lainnya:
siapa yang diberi kemampuan bersyukur, tidak akan dihalangi dari tambahan nikmat;
siapa yang diberi taufik untuk bertaubat, tidak akan dihalangi dari diterimanya taubat;
siapa yang diberi taufik untuk beristikharah, tidak akan dihalangi dari pilihan terbaik;
dan siapa yang diberi kemampuan bermusyawarah, tidak akan dihalangi dari kebenaran.”
—Uyun al-Akhbar
إن كان الشيطان يرانا من حيث لا نراه فالله يراه من حيث لا يرى الله فاستعن بالله عليه
“Jika setan melihat kita dari arah yang tidak kita lihat, maka Allah melihatnya dari arah yang ia tidak melihat Allah. Maka, mohonlah pertolongan kepada Allah atasnya.”
—Dzun Nun al-Mishri
“Barang siapa memperlakukan Allah dengan ketakwaan dan ketaatan di saat lapang, maka Dia akan memperlakukannya dengan kelembutan dan pertolongan di saat sempit.”
—Ibn Rajab al-Hanbali
Al-Mawardi berkata:
“Orang yang paling lemah adalah yang tidak mampu menyimpan rahasianya, yang paling kuat adalah yang mampu menahan amarahnya, yang paling sabar adalah yang menutupi kekurangannya, dan yang paling kaya adalah yang merasa cukup dengan segala sesuatu yang dimudahkan baginya.”
Namun, di zaman sekarang ini, semua hal terasa ingin dibagikan: rahasia jadi konten, emosi jadi status, dan kekurangan jadi cerita yang diumbar. Padahal, tidak semua yang kita rasakan harus diketahui orang lain. Ada kekuatan dalam diam, ada kemuliaan dalam menahan, dan ada harga diri dalam menjaga privasi.
Pujian Seratus Kata
Kepada Nabi Muhammad SAW
Ditulis oleh Kaisar Hongwu yang bernama Zhu Yuanzhang
Kaisar pertama Dinasti Ming pada abad ke-14.
Pujian Seratus Kata:
Dalam kitab Ighatsah al-Lahfan, Imam Ibn al-Jauzi mengatakan:
“Pada dasarnya, manusia memiliki naluri atau kencenderungan mencintai dirinya sendiri, sehingga ia memandang dirinya baik dan benar; ia membenci orang yang berselisih dengannya, sehingga yang dilihat darinya hanyalah keburukannya. Bahkan, ketika kecintaannya kepada diri sendiri semakin kuat, ia bisa sampai pada titik melihat keburukan dirinya sebagai kebaikan.”
Misalnya, saat kita mudah membenarkan diri saat bersalah, namun cepat menyalahkan orang lain meski belum tentu benar. Dalam perdebatan, kita merasa paling logis; dalam konflik, kita merasa paling tersakiti. Padahal bisa jadi itu hanya bias cinta diri. Karena itu, terkadang, kita perlu berhenti sejenak sebelum bertindak, dan bertanya dengan jujur pada diri: “Apakah ini kebenaran, atau hanya pembelaan untuk diriku sendiri?”
Rasulullah Saw bersabda: "Sungguh, aku mengucapkan: "Subhanallah, Walhamdulillah, Wa la ilaha illallah, Wallahu Akbar; adalah lebih aku cintai daripada apa yang matahari terbit di atasnya (dunia dan seisinya).
أخذَ الحبيبُ عليَّ عهدًا
أن أُعذَّبَ في هواهُ
Kekasihku membuatku berjanji untuk menyiksaku dengan cintanya.
ومِن العَجائبِ أنني
راضٍ وأسألهُ رضاهُ!
Dan ajaibnya aku rela tersiksa untuknya dan aku selalu meminta ridlonya.
-sidi arrofi'i