Asap Kalimantan Tiap Tahun: Salah Petani, Salah Alam, atau Salah Izin?
Tiap tahun, pemandangannya sama. Kalimantan diselimuti asap tebal, penerbangan ditunda, sekolah diliburkan, warga rame-rame kena ISPA. Tahun ini aja kasus ISPA di Kalimantan Selatan udah tembus 7.000, di Kayong Utara 934 orang, di Kotawaringin Timur 704 orang, dan ratusan kasus lain nyebar di beberapa puskesmas Kotawaringin Barat.
Terus muncul pertanyaan yang sama tiap musim kemarau: ini beneran ulah orang yang sengaja bakar lahan buat buka kebun sawit baru, atau ada cerita lain di baliknya?
Faktor alam emang ada, dan enggak bisa diabaikan. Kalimantan punya lahan gambut yang luas banget, terutama di Kalbar, Kalteng, dan Kalsel. Begitu musim kemarau datang, apalagi diperparah El Nino yang bikin curah hujan anjlok drastis, gambut itu kering dan jadi bahan yang gampang banget kebakar, bahkan bisa membara di bawah permukaan tanpa kelihatan dari atas.
Data Januari sampai Juli 2026 aja udah nunjukkin 34.262 titik panas di Kalimantan, dengan 33.837 hektar lahan terbakar. Kalimantan Barat jadi yang paling parah, mencapai 17.236 titik panas. Bulan Juli kemarin lonjakannya juga tajam banget, 615 hotspot dalam sebulan, padahal bulan-bulan lain paling banter cuma sekitar 74.
Tapi kalau cuma soal cuaca, kenapa titik apinya nggak nyebar acak?
Data terbaru dari analisis WALHI atas titik panas periode yang sama justru nunjukkin pola yang jauh dari acak. Dari total 34.262 titik panas di Kalimantan, 74 persen alias 25.524 titik ada di dalam lahan berizin milik perusahaan. Rinciannya, 10.739 titik di konsesi sawit, 7.880 di konsesi tambang, dan 6.905 di konsesi kehutanan. Sisanya, sekitar 8.738 titik, baru di luar area konsesi yang teridentifikasi. Artinya mayoritas api itu nyala di lahan yang jelas-jelas ada pemiliknya, bukan di ladang liar tanpa tuan.
Yang bikin makin janggal, ini bukan kejadian sekali doang. Laporan WALHI yang lain nemuin pola lahan perusahaan yang kebakar berulang di lokasi yang sama, tahun demi tahun, bahkan setelah divonis bersalah pengadilan.
Ada perusahaan yang udah dipidana dua kali sejak 2016, eh tetap aja ada titik api baru di lahannya tahun 2025. Nggak ada eksekusi putusan, nggak ada pencabutan izin, bisnisnya jalan terus kayak nggak ada apa-apa.
Dari ratusan perusahaan sawit yang beroperasi di jutaan hektar lahan gambut, belum pernah ada evaluasi menyeluruh soal siapa yang benar-benar bertanggung jawab.
Investigasi Mongabay juga nunjukkin akar masalah yang lebih dalam dari sekadar "bakar lahan buat buka kebun". Sejak era 2000-an, izin-izin diberikan di kawasan hidrologis gambut, dan perusahaan bikin kanal buat mengeringkan gambut demi kebutuhan operasional mereka. Efeknya bukan cuma sekali panen, tapi area itu jadi rentan kebakaran bertahun-tahun setelahnya, bahkan pas nggak ada aktivitas pembukaan lahan baru sekalipun.
Asosiasi pengusaha sawit lewat GAPKI menyerukan tindakan tegas ke pelaku pembakaran, dengan posisi itu ulah oknum, bukan industri secara keseluruhan. Sementara GIMNI, ngutip data dari 2019, bilang dari 1,64 juta hektar area terbakar nasional waktu itu, 76 persen justru di lahan terlantar, cuma 3 persen di sawit dan 3 persen di hutan. Argumennya, lahan produktif harusnya lebih dijaga demi kepentingan ekonomi perusahaan sendiri, ngapain dibakar. Cuma, data itu udah tujuh tahun lalu, sementara data WALHI dan Mongabay yang aku pakai di atas pakai metode overlay peta konsesi yang jauh lebih baru.
Dampaknya juga udah melewati batas provinsi. Bulan Agustus ini Singapura sampai ngimbau warganya buat waspada kabut asap kiriman dari Kalimantan, Malaysia juga kena imbasnya.
Kementerian Luar Negeri RI sempat bilang belum terima protes resmi dari kedua negara, dan ngeklaim lagi koordinasi lewat ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution sambil jalanin patroli dan water bombing. Masalahnya, El Nino disebut-sebut juga bikin efektivitas cloud seeding buat modifikasi cuaca ikut terganggu, jadi salah satu senjata utama buat nanggulangi asap malah kurang mempan. Sementara itu anggaran BNPB buat karhutla nasional cuma sekitar tiga sampai empat triliun rupiah, jauh di bawah level anggaran krisis yang pernah dikucurkan pada 2015 sampai 2024.
Jadi, apa benar ini soal petani kecil yang sengaja bakar buat buka kebun sawit baru? Datanya nggak sesederhana itu. Aktivitas perladangan tradisional bahkan tercatat turun tajam belakangan ini, tapi angka kebakaran tetap tinggi. Yang lebih kuat kelihatan justru soal lahan berizin yang udah lama dikeringkan dan dikelola dengan cara yang bikin gampang kebakar, ditambah penegakan hukum yang lemah ke perusahaan besar yang harusnya paling punya sumber daya buat mencegah.
Pola yang keliatan di data-data ini udah cukup jelas nunjukkin ke mana arah evaluasi harusnya difokuskan. Selama izin-izin bermasalah masih dibiarkan jalan tanpa sanksi yang beneran mengikat, dan selama korban yang paling menderita tetap warga biasa yang cuma bisa nutup hidung sambil nunggu ISPA reda, siklus ini kemungkinan besar bakal kita liat lagi tahun depan. Semoga aja para pengambil kebijakan mau mulai ngeliat data ini dengan serius.
Data titik panas di atas diolah dari analisis WALHI yang dimuat Betahita dan Mongabay Indonesia edisi Agustus 2026.
iniloh di Kalimantan sungai sungai mengering, air bersih smkin sedikit, listrik suka padam, semua pom bensin ngantri panjang, bahan mahal mahal, pluss polusi udara semakin menjadi akibat banyaknya kebakaran... tp gk ad kah tindakan dri pemerintah??
NTT gempa
Kalimantan berasap
Dan pemimpin di Jakarta semua seolah baik-baik saja.
Takut banget ya ngaku negara lagi gak baik baik aja.
Mana jiwa kesatrianya?
walaupun prov ku luasny pling sedikit, tpi efek nya jga ga main main! 😩💔
bibir sering pecah klo ga pke lipblam/mnum air. pke kipas malah semburan naga api yg keluar 🙂. stay save buat warga kalimantann
PRAY FOR KALIMANTAN!!!
⚠️ Rincian Karhutla di Kalimantan ⚠️
•🚩 Kalimantan Barat:
Jumlah Titik Panas: 17.236 titik
Luas Lahan Terbakar: 28.680 Ha.
•🚩 Kalimantan Tengah:
Jumlah Titik Panas: 570 titik
Luas Lahan Terbakar: 3.657,72 Ha.
•🚩 Kalimantan Selatan:
Jumlah Titik Panas: 5.695 titik
Luas Lahan Terbakar: 3.387 Ha.
•🚩 Kalimantan Utara:
Luas Lahan Terbakar: 52,82 Ha.
•🚩 Kalimantan Timur:
Luas Lahan Terbakar: 1.963 Ha.
PRAY FOR KALIMANTAN!!!
⚠️ Rincian Karhutla di Kalimantan ⚠️
•🚩 Kalimantan Barat:
Jumlah Titik Panas: 17.236 titik
Luas Lahan Terbakar: 28.680 Ha.
•🚩 Kalimantan Tengah:
Jumlah Titik Panas: 570 titik
Luas Lahan Terbakar: 3.657,72 Ha.
•🚩 Kalimantan Selatan:
Jumlah Titik Panas: 5.695 titik
Luas Lahan Terbakar: 3.387 Ha.
•🚩 Kalimantan Utara:
Luas Lahan Terbakar: 52,82 Ha.
•🚩 Kalimantan Timur:
Luas Lahan Terbakar: 1.963 Ha.
Saya paham kok di Kalimantan kami naik t-rex, buru brontosuarus, tapi kalau dihajar asap juga semua dino yg kami perdayakan sebagai transportasi dan ternak itu jg bakalan mati, KITA TIDAK KEBAL ASAP YA GONGONG.
Ini kuyang juga cuti semua wo, takut jadi jeroan asap
BUNGULNYA EHHH
KALIMANTAN HAMPIR SEMUA MERAH.
Negara kasih izin perusahaan buka konsesi lahan, lalu api datang dan rakyat yg sesak napas.
SEKALI LAGI, NEGARA MEMBERIKAN IZIN PERUSAHAAN UNTUK KONSESI LAHAN!!!
Data Walhi kalsel menyatakan :
71% titik panas kebakaran hutan di Kalsel berada di lahan konsesi milik perusahaan.
Ada 875 titik berada di konsesi tambang & 32 titik di perkebunan sawit.
Ada orang yg sibuk membela pembukaan lahan rawa berskala besar dengan dalih swasembada .
Tapi dia amnesia bahwa demi membuka lahan itu, ekosistem gambut harus dikeringkan .
Begitu gambut kering, tanah itu berubah jadi kayu bakar raksasa.
Karhutla hebat di Kalimantan hari ini adalah bukti nyata dari logika ekstraktif yang dia bela.
Membela proyek destruktif di atas ekosistem gambut yang dikeringkan itu bukan memperjuangkan isi perut rakyat, tapi sedang merampok paru-paru mereka.
Inilah saatnya #PANDAVVA me-review isi tas PANDAVVARNA! Tas sekolah, tas kerja, tas pergi-pergi, semuanya bisa!
Yuk, reply dengan foto isi tas kamu beserta hashtag #JUMAVVA, maksimal 1 foto aja! 👌
Foto terpilih akan di-review di JUMAVVA besok! Ditunggu isi tasnya! 🥳