Masih soal fiksi π€£π€£π€£
Jangan bosan ya.
Saya sedikit berbagi pengalaman saja saat saya menjadi seorang development editor untuk sebuah penerbit di Amerika yang menerjemahkan karya penulis Indonesia.
Bagi yang belum tahu apa itu development editor, ia adalah editor yang memeriksa kekonsistenan cerita, baik itu dari segi alur plot, waktu, ruang, dan fakta2 dalam cerita yang bisa dianggap mengganggu.
Saya terus terang kurang tahu apakah editor semacam ini cukup lazim di Indonesia. Pekerjaan ini terlalu berat untuk dirangkap oleh editor bahasa, karena cukup melelahkan.
Ini ada beberapa contoh koreksi yang pernah saya lakukan.
1. Kesinambungan jumlah orang dalam satu adegan. Kalau di awal adegan 10 orang misalnya, sampai akhir adegan ya mesti 10 orang juga. Di film ini juga sering kasus dalam continuity shot. Kalau shot diambil dua kali, padahal adegannya kontinu, bisa jadi ada barang yang hilang atau bergeser.
2. Cek fakta sains. Misalnya jika umur anjing maksimal umumnya adalah 15 tahun, maka jika di dalam cerita digambarkan anjingnya ada sejak tahun 2000 dan masih hidup sampai tahun 2025, tentunya aneh.
3. Cek fakta sejarah. Ini penting banget, terutama untuk novel yang settingnya riil. Misalnya diceritakan ada adegan di mal di suatu kota di tahun 1980, padahal mal pertama di kota itu dibangun tahun 1990. Jadi aneh, bukan.
4. Cek kesinambungan waktu. Misal perjalanan dari titik A ke titik B jika naik kuda dengan kecepatan rata2 maksimal 40 km/jam, dibutuhkan waktu 2 jam, dan di cerita hanya 1 jam, jadi aneh bukan? Kecuali digambarkan dalam dunia fantasi dan kudanya dikasih ramuan khusus atau ada efek sihir.
5. Yang paling sulit adalah kewajaran istilah yang dipakai. Misal kata gokil itu baru dimulai di akhir 70-an. Jadi kalau adegan ceritanya tahun 60-an, pemakaian kata ini jadi terdengar tidak wajar.