Ada di kerja remote, pergi ke linkedin, section jobs, pilih lokasi nya APAC atau EUROPE atau US.
Staff 15 juta mah dapet bgt blm komisi.
Coba ini posisi SDR, (tech sales).
Sedihnya, orang2 kayak ibu ini akan senang dan bangga dapet uang 100k. Dia gatau kalo uang itu dari pajak dia sendiri. Dia gatau klo suara, tenaga, dan masa depan keluarganya dibeli dengan harga 100k.
Aku, aku! Aku berobat tanpa ngasih tau orang tua aku! ^____^ kalau mereka tau, aku lagi yang disalahin dan dikatain LEBAY. Pada akhirnya antara dianter sama abang/om/tanteku, they don’t even know I have asthma! :D
“Orang tua paling kenal anaknya” They don’t know me at all! 🩷
this is why my dua is always about kelancaran, kemudahan, diangkat hal hal yang membebaninya, dekatkan oportunitiesnya, dan kalau belum, dihalalkan rezekinya
mungkin bertahun tahun kemudian orang tua bakalan lupa pernah setega ini sama anak sendiri, tapi anakmu ngga akan lupa, they carried the wound for the rest of their lives
meskipun gak boleh self-diagnosed, tapi ini adalah habbit yg selalu gue pertanyakan ke diri sendiri.
“kenapa response defensif gue tinggi bgt pdhl mereka cuma nanya hal basic?”
setidak cukup memberi pencerahan untuk WHY backgroundnya.
Aku pernah wawancara dengan manager di suatu perusahaan sekuritas yg cukup terkenal :D
trus aku ditanya hal teknis, AKU GATAU SEBENERNYA tp aku jawab sengaja di dasar bgttt. Dia mancing aku dengan nanya-nanya pertanyaan lain. DAN YA DIA TAU AKU GA NGERTI.
Karena apa?
Dia nanya ada 5 pertanyaan, 5 pertanyaan tersebut saling berhubungan sebab akibat, tp aku ga bisa hubunginnya, disana aku keliatan kayak pemula.
Intinya MANAGER itu PINTER. Jadi just be yourself, kalo ga tau bilang GA TAU, tp TUNJUKIN KEMAUAN BELAJAR kamu.
"Maaf pak Saya tidak tahu tentang itu"
kalo kamu tahu dasarnya kamu bisa jelasin dikit
"Setahu saya itu tentang bla bla bla"
+ Keinginan belajar
"Saya akan pelajari lebih lanjut hal itu"
orng yg ada di posisi manager itu udh pasti orng pinter dengan minimal 5 years pengalaman jadi beneran just be yourself, mereka udah ngelewati interview berkali2....
Aku freshgrads btw, correct me if i'm wrong. Dari iinterview yang pernah aku lewatin. Aku emg paling takut sama user MANAGER😔
Makanya gw takuuut bgt klo suatu saat gw harus balik ke Indo dan apply kerja 😭
Gw pas interview untuk kerjaan gw sekarang tuh cuman 1x interview user. Gak pake interview HR dan gak ada tahapan interview berlapis-lapis apalagi pake MCU segala.
Bahkan kocaknya (lebih ke hoki), beberapa menit gw lagi perjalanan pulang interview naik Bus, gw dapet email dari team leader yg barusan interview gw klo gw diundang untuk Probetag (hari test kerja atau cuman ngeliat aja proses kerjanya gimana) 😭🥲
Bayangin cuman dalam hitungan menit langsung dpt kabar baik huhuhu.
Setelahnya ya udah beberapa hari kemudian gw tanda tangan kontrak kerja alhamdulillah.
PIUTANG PLN KE PEMERINTAH NAIK 156%.
ARTINYA PEMERINTAH NUNGGAK BAYAR KE PLN SEHINGGA PLN TIDAK PUNYA DUIT.
TIDAK PUNYA DUIT SEHINGGA TIDAK BISA BEKI BATUBARA
TIDAK BISA BELI BATUBARA, SUPLAI LISTRIK BERKURANG.
SIAP2 MENYALA BERGILIR
BUKAN PEMADAMAN BERGILIR
Dari foto laporan keuangan PLN yang beredar, ada satu angka yang langsung mencolok begitu kamu lihat.
Piutang dari Pemerintah tercatat Rp 110,738 triliun di periode terbaru, naik drastis dari sebelumnya Rp 43,290 triliun. Kenaikannya lebih dari 156% dalam satu periode.
Bukan naik tipis. Ini lonjakan yang sangat besar dan perlu dijelaskan.
PLN adalah perusahaan negara yang menjual listrik ke rakyat dengan tarif yang tidak selalu mencerminkan biaya produksi sebenarnya.
Untuk pelanggan rumah tangga 450 VA dan 900 VA bersubsidi, PLN menjual listrik jauh di bawah harga pokok produksinya.
Selisihnya ditanggung pemerintah dalam bentuk subsidi dan kompensasi.
Tapi pemerintah tidak selalu bayar langsung.
PLN dulu bayar dulu ke produsen energi, ke kontraktor, ke supplier batu bara dan gas, lalu nagih ke pemerintah belakangan. Tagihan yang belum dibayar pemerintah ini yang dicatat sebagai "piutang dari pemerintah" di neraca PLN.
Sederhana:
PLN sudah keluar uang, tapi pemerintah belum bayar.
KENAPA ANGKANYA BISA MELEDAK SEGITU?
Ada beberapa faktor yang menjelaskan lonjakan ini.
pertama adalah program diskon listrik 50% Januari-Februari 2025. Pemerintah mengumumkan diskon tarif listrik untuk seluruh pelanggan di bawah 2.200 VA selama dua bulan. Biayanya ditanggung negara tapi dibayar PLN dulu. Total tagihannya saja sudah Rp 13,61 triliun hanya dari program dua bulan itu.
kedua adalah mekanisme pembayaran yang lambat. Selama ini pemerintah membayar kompensasi ke PLN per tiga bulan atau bahkan per enam bulan sekali. Artinya PLN harus talang dulu berbulan-bulan sebelum uangnya balik. Semakin lama jeda bayar, semakin besar piutang yang menumpuk.
ketiga adalah subsidi dan kompensasi yang terus membengkak. Pada 2025, realisasi subsidi dan kompensasi listrik sudah menyentuh lebih dari Rp 210 triliun. Sementara tarif dasar listrik tidak naik karena alasan politik. Selisih antara biaya produksi dan tarif yang dibayar rakyat inilah yang jadi beban yang terus menumpuk.
DARI MANA PEMERINTAH BAYARNYA?
Sumber pembayarannya ada di APBN, tepatnya dari pos Belanja Subsidi dan Kompensasi Energi. Pada 2024 saja, total subsidi dan kompensasi energi (BBM, gas, listrik, pupuk) mencapai Rp 434,3 triliun. Khusus listrik yang dikompensasi, salah satu contohnya adalah pelanggan 900 VA non-subsidi yang mendapat kompensasi Rp 400 per kWh, artinya dari harga seharusnya Rp 1.800 per kWh, mereka hanya bayar Rp 1.400 per kWh. Selisih Rp 400 itu ditanggung APBN, dan ada 50,6 juta pelanggan yang masuk kategori ini.
Masalahnya bukan soal ada atau tidak anggarannya.
Masalahnya adalah timing pencairannya.
Komisi XI DPR sempat melaporkan bahwa kompensasi kuartal I-2025 untuk PLN senilai Rp 27,6 triliun belum dibayarkan.
Bahkan ada tagihan 2024 yang dibebankan ke APBN 2025. Jadi tagihan lama belum lunas, tagihan baru sudah datang.
PLN yang punya piutang besar tapi belum cair ini berdampak ke kemampuan perusahaan membayar supplier dan produsen listrik swasta tepat waktu.
Kalau pembayaran ke IPP terlambat, ada risiko gangguan pasokan.
Dalam jangka panjang, ini juga mempengaruhi rating kredit PLN dan kemampuan pinjam untuk investasi infrastruktur.
Untuk kita sebagai pelanggan, selama tarif listrik tidak disesuaikan dengan harga pokok produksi, maka subsidi dan kompensasi akan terus menggelembung, piutang PLN ke pemerintah akan terus naik, dan beban APBN akan semakin berat.
Ada wacana perbaikan skema pembayaran menjadi bulanan agar piutang tidak menumpuk terlalu lama.
Tapi selama tidak ada reformasi tarif dan pembenahan kontrak IPP, akar masalahnya tetap ada.
Rakyat bayar murah.
PLN tombok dulu.
APBN yang bayar belakangan
Dan siklusnya terus berulang setiap tahun
APAKAH KEDEPANNYA BENERAN GELAP?