Aku gak bisa bayangkan kalau Indonesia negara muslim terbesar di dunia:
‣ Melegalkan LGBT.
Yakin bakalan jadi trending topik tahunan di International.
Itu muka pemuka agama islam, mau ditaruh di mana coba?
Cuma dari sini aku mulai paham loh, sedikit cara kerja agen-agen propaganda itu di Indonesia dalam menyukseskan agendanya:
‣Pertama mereka itu akan kuasai dunia kampus.
‣ Karena Kampus lahan subur buat sebarkan idelogi, propaganda dan agenda.
‣ Soalnya kampus itu perbatasan manusia meninggalkan kursi pendidikan dan terjun ke masyarakat.
‣ Jadi dengan menguasai kampus artinya akan kuasai masyarakat.
‣ Mereka akan menyebarkan lewat diskusi, seminar, kelas-kelas pengembangan diri, dan sejenisnya.
‣ Lalu peetama Mereka akan mulai melarang pemerintah, aparat untuk masuk area kampus. Agar agenda mereka tidak tercium dan gagal total.
Dengan dalih demokrasi, kebebasan dll.
‣ Maka disebarkan keyakinan anti-pemerintah.
‣ Setelah berhasil melarang pemerintah dan aparat masuk kampus, maka agenda mereka mulai di jalankan.
‣Setelah sukses kuasai kampus dengan agendanya, lalu baru disebarkan ke masyarakat luas agendanya.
‣ Mulai masif adakan acara-acara, pamflet, kampaye agenda itu ke publik.
‣ Di sini proses yang sedang dialami di Indonesia sekarang.
‣ Setelah itu, bakalan ada konflik sosial besar yang harus terjadi untuk menganti sistem lama (Reset Indonesia) dengan sistem baru. Misal jatuh korban seperti yang dispill si Fery di podcast bareng Pandji.
‣ Di sini perubahan besar revolusi itu terjadi. Menggerakkan sel-sel tidur dan agen-agennya yang sudah disiapkan lama untuk bergerak serentak di seluruh Indonesia. Demo besar-besaran menuntut Revolusi.
Jadi sudah tinggal 2 tahap akhir, buat mereka sukseskan agendanya di Indonesia.
Jadi, satu-satunya cara buat cegah ini?
‣ Pemerintah harus ambil ahli lagi kampus dari penguasaan agen asing itu.
‣ Kalau repensif resiko gede malah jadi bahan mereka percepat agendanya, jadi harus secara halus.
‣ Yaitu dengan mengaet mahasiswa-mahasiswa yang pro pemerintah, yang selama ini dibungkam petinggi mahasiswa di kampus dan selalu kalah dana di kampaye perebutan ketua BEM.
‣ Jadi sebanyak mungkin, menarik mahasiswa nasionalis ini untuk tampil ke publik, diberikan panggung kalau lebih banyak mahasiswa di kampus pro nasionalis dan cinta tanah air dan tidak anti pemerintah.
‣ Adakan debat resmi mahasiswa pro pemerintah vs anti pemerintah, jadi di sini dipecah imagenya ternyata suara mahasiswa itu tidak bulat anti pemerintah.
‣ Debat ini mungkin bisa join acara debat-debat nasional yang sudah terkenal kayak total politik dll.
‣ Cuma biasanya narasumbernya itu tokoh politik, tapi ini mahasiswa vs mahasiswa.
‣ Dengan mahasiswa debat vs mahasiswa, maka perlahan satu suara itu akan pecah jadi 2 bahkan 3.
‣ Setelah itu petarungan di kampus akan berimbang antara pro dan anti pemerintah.
‣ Aku curiga ketua BEM yang anti pemerintah itu, pas pencalonan ketua BEM ada aliran dana asing/ besar ke mereka buat kampaye dah.
Masa ketua BEM-nya anti pemerintah mulu? Kan aneh.
Dll. harus sehalus mungkin dalam merebut kampus kembali ke pangkuan ibu Pertiwi dari tangan agen asing.
TRAGEDI BINTANG: "Sini Jemput Bintang, Mak..."😱
Pesan WhatsApp memilukan itu menjadi kalimat terakhir dari Bintang (14), seorang santri yang nyawanya dihabisi secara sadis oleh 4 seniornya sendiri di sebuah pesantren pada Februari 2024 lalu. Tragisnya, salah satu pelaku adalah sepupunya sendiri yang dititipkan untuk menjaganya.
🔥 Kronologi Singkat:
Motif Sepele: Korban dihajar hingga tewas hanya karena absen salat berjamaah akibat sakit (efek penganiayaan sebelumnya) dan karena mengadu ke ibunya.
Ditutupi Selimut Semalaman: Setelah dipastikan meninggal, jasad Bintang diletakkan di kasur pojok kamar pesantren dan dibiarkan semalaman bersama santri lain yang sedang tidur.
Kebohongan Terbongkar: Pihak pesantren awalnya berdalih korban "terpeleset di kamar mandi". Namun, keluarga histeris saat membuka kain kafan dan menemukan luka lebam, bekas sundutan api, hingga jeratan di leher.
⚖️ Akhir Kasus:
Polres Kediri Kota berhasil mengusut tuntas kasus ini. Dua pelaku dewasa divonis 15 tahun penjara, sementara dua pelaku di bawah umur divonis 6,5 tahun penjara.
Apakah hukuman ini sudah setimpal bagi para pelaku yang tega menghabisi nyawa adik kelasnya?
Honestly im pro china because I’m an accelerationist that believed if china were to invade and obliterate the Indonesian army it will kill and destroy orba once and for all
@fendri_p Secara biologis dan psikis emang susah orang Indonesia untuk mengerti konsep dasar kek gini the best thing you can do is sabar dan tunggu samsara orang indonesia selesai
@idwiki Kalau Parjo masih pengen maksa ngembangin institusi ini yang berakhir kalau ga mereka tumbang oleh kelompok hijau/putih yah faktor eksternal nanti sendiri yang jatuhin