Jadi mari kita mulai cerita ini dari awal, agar tidak langsung percaya dqn berekspektasi tinggi, sama orang yang baru dikenal, apalagi kenal dari apps.......
~~~
-A thread-
Kenapa orang Jawa dicap "nrimo, sopan, penurut" sementara suku di luar Jawa (kayak Minang, Batak, Bugis) sering dicap "keras, pembangkang, licik, atau banyak bacot"?
Funfact ini doktrin politik yang dibangun sejak era penjajahan wkwk, dan terus kebawa sampai sekarang.
Pemerintah Hindia Belanda sengaja bikin klasifikasi karakter ini buat mecah belah masyarakat biar nggak bersatu a.k.a Devide et Impera.
Mereka butuh orang Jawa dikondisikan kalem supaya gampang dijadikan tenaga kerja murah dan birokrat rendahan yang nurut sama atasan.
Di sisi lain, suku-suku Sumatera yang punya tradisi merantau suka dagang dan jago lobi politik sengaja diawasi ketat dan dicitrakan negatif sebagai "tukang ngolah" atau "pembangkang" biar suku lain males berbaur sama mereka.
Jadi, stereotip itu hasil cuci otak ratusan tahun buat ngamanin aset penjajah. Dan bodohnya mayoritas kita masih memakai stereotip macam tu.
"Orang-orang Jawa cinta damai"
Who decided that!? 🤣🤣
Faktanya, rezim Orde Baru yang sangat Jawa-sentris justru ngebangun kekuasaannya lewat sistem premanisme dan kekerasan negara.
Mulai dari pembantaian 65-66 dilanjut Petrus sampai ormas-ormas yang dipakai buat ngegulung lawan politik nya 🐧
Guys, DPR baru saja mengusulkan sesuatu yang menurut gue paling sempurna menggambarkan betapa jauhnya jarak antara para wakil rakyat dengan kenyataan rakyat yang mereka wakili.
Di tengah rupiah Rp17.700.
Di tengah badai PHK yang mengintai.
Di tengah guru honorer yang digaji Rp1,5 juta per bulan.
Di tengah anggaran pendidikan
yang dipotong 44% untuk MBG.
Anggota DPR dari Fraksi Gerindra mengusulkan:
Alokasi APBN 2027 untuk membangun 1.000 layar bioskop di desa.
Gue perlu berhenti sejenak dan baca ulang itu:
Seribu Layar Bioskop Di desa.
Dari APBN.
Dari uang pajak rakyat.
Di 2027.
Dan ini yang paling menggelikan:
Alasannya mulia.
Untuk mendukung rumah produksi kecil di daerah.
Untuk menampilkan potensi dan budaya lokal.
Untuk memberi akses sinema kepada rakyat desa.
Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dalam rapat itu:
Rakyat desa yang gajinya di bawah UMR dengan harga bahan pokok yang terus naik mau beli tiket bioskop pakai uang apa?
Dan ini datanya yang harus dihadapkan langsung:
88% kepala rumah tangga Indonesia tidak punya pendidikan S1.
IQ rata-rata Indonesia 78,9 hampir juru kunci dunia.
Skor PISA Indonesia peringkat 69 dari 81 negara.
50% pegawai Indonesia pernah mengalami stunting waktu kecil yang artinya perkembangan otak mereka terganggu sejak masa paling kritis.
Guru honorer yang seharusnya menjadi satu-satunya harapan untuk memutus rantai kebodohan struktural ini — digaji Rp1,5-2,8 juta per bulan.
Di bawah UMP. Di bawah standar hidup layak.
Dan anggaran pendidikan yang seharusnya mengurus semua ini dipotong 44% untuk program makan siang.
Tapi DPR punya solusi:
Bukan 1.000 sekolah baru di daerah terpencil yang belum punya akses pendidikan layak.
Bukan rekrut 100.000 guru berkualitas dengan gaji Rp40 juta per bulan yang total biayanya hanya Rp50 triliun atau 7% dari anggaran pendidikan yang ada.
Bukan perpustakaan desa.
Bukan laboratorium sains.
Bukan akses internet untuk sekolah-sekolah yang masih mengajar dengan papan tulis kapur.
Tapi bioskop.
Dan ini logika yang paling sederhana:
Dr. Tirta sudah bilang:
rakyat yang pintar adalah ancaman bagi penguasa yang tidak kompeten.
Karena rakyat yang pintar akan mempertanyakan kebijakan yang tidak ada gunanya.
Ahok sudah bilang:
kebodohan struktural bukan kebetulan. Ini by design. Tidak ada pemerintah otoriter yang ingin punya warga yang benar-benar cerdas.
Mahfud MD sudah bilang:
demokrasi tidak akan berhasil sebelum pendapatan per kapita mencapai 5.500 dolar.
Rakyat yang masih miskin dan tidak berpendidikan pasti menjual suaranya.
Dan sekarang alih-alih memperbaiki pendidikan yang bisa mengubah semua itu DPR mengusulkan membangun bioskop.
Rakyat yang tidak pintar tapi punya bioskop jauh lebih mudah dihibur.
Jauh lebih mudah dialihkan perhatiannya.
Jauh lebih mudah diberi sesuatu yang kelihatan seperti pemberian tanpa benar-benar mengubah kondisinya.
Dan ini yang paling menohok:
Orang desa yang gajinya Rp2-3 juta per bulan yang harga kedelai dan telurnya sudah naik karena rupiah melemah yang anaknya sekolah dengan guru yang mau resign karena gajinya tidak cukup untuk makan
Tidak butuh bioskop.
Mereka butuh guru yang digaji layak supaya anaknya tidak tumbuh dengan IQ 78.
Mereka butuh sekolah yang layak supaya anaknya bisa bersaing.
Mereka butuh sistem pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis bukan menghafal untuk ujian.
Karena bioskop tidak mengubah nasib.
Bioskop hanya menghibur orang yang nasibnya tidak berubah.
Dan angkanya bicara sendiri:
1.000 layar bioskop dengan asumsi biaya pembangunan, peralatan, dan operasional bisa menghabiskan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah dari APBN.
Uang yang sama bisa dipakai untuk:
menggaji 25.000 guru berkualitas selama satu tahun penuh. Atau membangun ratusan perpustakaan desa dengan koleksi buku yang memadai.
Atau memberikan beasiswa bagi ribuan anak desa yang putus sekolah karena tidak mampu.
Tapi yang diusulkan adalah bioskop.
DPR bukan Dewan Perwakilan Rakyat.
DPR adalah Dewan Penghibur Rakyat.
Rakyat tidak dirancang untuk pintar karena rakyat yang pintar tidak bisa dihibur dengan bioskop.
Rakyat yang pintar akan tanya:
kenapa anggaran pendidikan dipotong tapi ada uang untuk bioskop desa?
Kenapa guru digaji Rp1,5 juta tapi ada dana untuk layar sinema?
Kenapa stunting masih 21% tapi kita bahas distribusi film nasional?
Dan pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berbahaya bagi mereka yang duduk di kursi DPR daripada rakyat yang diam di depan layar bioskop desa sambil lupa bahwa hidupnya tidak berubah.
@AdamPrabata Kalo kerja RS atau tim SAR, pemadam kebakaran dan polisi , penjaga gunung berapi, tukang jaga rel. Dan transportasi umum dkk
Masih bisa ane terima
Karna kaitan nya dengan kepentingan halayak umum.
Kalo sektor swasta yg orientasi adalah profit buat si owner... Meh
@mhuseinali bohong banget itu guys. jangan percaya.
ekonomi indo tetep bangkit karena warganya bandel buat tetep kerja & dagang.
gaada andil opung & mulyono yg kerasa selain jadi penguasa alkes. lebih condong ke nyengsarain aja. mudah2an jumlah nyawa yg ilang bakal mereka tanggung
BREAKING !!!! 🚨
Kini giliran Presiden Kolombia yang dituding Trump bandar narkoba.
AS : kalau kamu tidak mau jadi anak buah yang patuh, label penjahat langsung ditempel di jidat. Dulu Panama, kemarin Venezuela, sekarang Kolombia. Aneh ya, AS selalu sibuk menuding halaman rumah orang lain kotor, padahal mereka sendiri adalah konsumen narkoba terbesar di dunia.
Akankah Presiden Kolombia bakal dicomot dan diborgol layaknya pelaku kriminal biasa hanya berdasarkan tuduhan sepihak? Kalau pemimpin negara berdaulat saja bisa diperlakukan seperti buronan kasino oleh AS, maka tidak ada negara yang benar-benar aman dari arogansi mereka.
Kenapa nggak sekalian saja Trump klaim seluruh Amerika Latin itu properti pribadinya? Gaya Koboi Global ini sudah basi. Di saat Tiongkok fokus bangun infrastruktur, AS malah sibuk bikin daftar belanjaan negara mana lagi yang mau diintimidasi.
Dunia sudah bosan dengan hegemoni satu arah. Kedaulatan itu harga mati, bukan barang dagangan yang bisa dibarter dengan ancaman sanksi atau militer!
MBG tidak akan pernah libur.
Anak sekolah boleh libur.
Boleh puasa bulan Ramadan.
Tapi MBG harus tetap jalan.
karena memang tujuan utamanya sejak awal bukan untuk kasih makan anak sekolahan,
tapi pemilik dapur🤣
@txtdrimedia 🐒.
SPBU swasta jualan kopi karena gaada stok BBM, banting stir dikit biar pegawai kagak di PHK, ntar bangkrut pegawai kena PHK, pengangguran naik, negara ga terima. Anjing.
Jelek, goblok lagi
Kadang gue ga tega kalo ngomongin soal financial ke cowo. Karna mereka aja hidup untuk menghidupi, bahkan untuk ngerasain cinta, mereka diliat dari apa yang mereka kasih
Untuk semua laki laki diluar sana, apapun yang sedang kalian usahakan semoga sesuai harapan ya. SEMANGAT🔥🔥
So far, keburukan HRD Indo yg sangat mencolok adalah tidak mengabari kandidat jika mereka tidak lolos.
Why?! Itu orang nyari rezeki lohh, nungguin juga, malah klian gantungin gitu. I mean kalo ga ketrima kabarin biar bisa nyari yg lain lebih bagus dri perusahaan klian☺️
@hwang_gya Kmrn barusan test english council dan salah satu teks di soalnya bahas soal ini wkwkw katanya berdasarkan studi emg hasil jepretan kamera tuh bikin lebih jelek dari aslinya, salah satu contohnya bikin hidung keliatan lebih besar (karna letaknya di tengah foto)