Secara umum, menurut anda apakah Indonesia sekarang sedang bergerak ke arah yang benar, atau ke arah yang salah? repost kalau ke arah yang benar, like kl ke arah yang salah. trims🙏
Ini perbandingan Proyek Kereta Cepat Whoosh (PT. KCIC) dengan LRT Jabodetabek (PT. KAI/Pemerintah Pusat). Kelihatan jauh sekali lebih menguntungkan dan prospek secara bisnis WHOOSH.
Boleh ndak suka Jokowi, tapi jangan juga membuat cerita ngarang2 buruk dari sesuatu yang jelas sangat baik untuk negara ini.
Saya bukan pendukung Pak Jokowi dari awal, saya justru pendukung pak Prabowo, malah salah satu pimpinan relawannya saat Pilpres 2014. Tapi jika selama memerintah Jokowi bagus dalam pembangunan infrastruktur, menorehkan sejarah emas, ya harus diapresiasi dan dilanjutkan apa yang sudah dicapai. Seperti Whoosh ini.
-----
Kereta Cepat ini secara wilayah pulau-pulau di Indonesia yang luas, seperti Jawa yang juga padat penduduknya, tinggi pertumbuhan ekonominya, sangat dibutuhkan.
Ya mungkin ada kekurangan di sana-sini di awal proyeknya, tapi itu sudah berlalu, tinggal diperbaiki saat ini. Bukan malah selalu dibuat isu buruk, seolah Kereta Cepat ini ndak layak, merugikan Indonesia, utang se-gunung.
-----------
Dilihat dari sisi mana saja, Whoosh ini jauh lebih baik dari LRT Jabodetabek milik PT. KAI.
Sekarang saja, Whoosh sudah bisa meraih Laba operasi (EBITDA positif) sampai Rp340 miliar (tahun buku 2025). Bandingkan LRT Jabodetabek yang secara operasi justru merugi jika tidak ditopang subsidi dari APBN lewat PSO yang nilainya Rp450 miliar/tahun. Edan ndak?
Utang proyek KCIC bagian Indonesia (PT. PBSI) sekitar Rp50 triliunan, dengan bunga 2% (awal) dan 3,4% (cost overrun), lebih kurang Rp1,2 Triliun per-tahun, yang ditanggung langsung oleh KCIC dari hasil operasi Whoosh. Bila kurang, baru ditanggung PT. PSBI sebesar 60%, dan 40% konsorsium China.
Bandingkam dengan LRT Jabodetabek, utangnya lebih kecil Rp22 triliun, tapi karena bunganya mencapai 6,75% membuat tiap tahun harus merogoh kantong sampai Rp1,4 triliun untuk bunganya saja. Lebih besar dari bunga yang harus dibayar Whoosh. Dan cilakanya kantong yg dirogoh bukan kantong PT. KAI tapi kantong APBN tiap tahun. Ya, uang pajak rakyat.
----
Point yang ingin saya sampaikan, Whoosh ini proyek yang sudah jadi. Jelas teknologinya dibutuhkan Indonesia. Akan berdampak besar bagi mobilisasi penduduk, juga barang. Yang ujungnya akan berdampak juga bagi pertumbuhan ekonomi. Oleh karenanya pemerintah saat ini ndak perlu membuat kesan ini proyek merugikan, proyek beban, karena faktanya tidak demikian.
Jika dikelola dengan baik, apalagi ada rencana diperpanjang sampai ke Jawa Timur, maka Whoosh ini akan sangat menguntungkan sekali secara bisnis.
Tentu, namanya transportasi publik, harus ada dukungan pemerintah, ndak bisa dilepaskan begitu saja, karena mahalnya infrastrukturnya.
----------------
Saya membayangkan, persoalan utang Whoosh ini sebenarnya ndak sulit-sulit amat diselesaikan, baik dilihat dari kondisi keuangan Danantara, maupun jor-jorannya buang uang pemerintahan era Prabowo ini.
Hanya Rp50 triliunan saja, sekali bayar. Jauh lebih kecil dibanding anggaran MBG yang tiap tahun ratusan Triliun digelontorkan, habis begitu saja.
Sisi lain, hemat saya, prospek bisnis Kereta Cepat ini akan jauh lebih baik jika pengelolaan operasi Whoosh (Kereta-Gerbong) dipisahkan dengan pemilik infrastruktur (Rel, Stasiun, dll).
Investasi terbesar Whoosh itu ada di infrastruktur, yang pengembaliannya pasti lama. Sementara pendapatan operasi Whoosh itu didapat dari operasi baik penjualan tiket atau pengelolaan TOD.
Infrastrukturnya mestinya oleh negara. Sementara Whoosh (KCIC) sebagai penyewa infrastrukturnya. Sehingga dengan cara ini, Whoosh bisa lebih sehat, bisa ekspansi lebih cepat. Negara juga diuntungkan, punya infrastruktur yang disewakan dan jadi income negara (PNBP).
Dengan cara ini, pengembangan jalur ke Surabaya akan lebih mudah. Negara bertanggungjawab di infrstrukturnya, KCIC (atau operator lain yg nanti mungkin ada) membayar sewanya.
Salam
FK
Penyebab deforestrasi terbesar di dunia itu justru dari peternakan sapi (41%) dibanding sawit (6%).
Makanya SJW lingkungan harus konsisten, kalo peduli lingkungan ya jadi vegetarian dan tidak makan daging sapi. Sekalian juga hindari kopi susu kekinian yang biasa dinikmati kala senja. Kalo gak konsisten ya namanya bukan nyawit tapi nyapi.
Ternyata cara buat ngebalikin motivasi yang hilang akibat burnout bukan dengan liburan mahal, tapi dengan metode ilmiah bernama NSDR (Non-Sleep Deep Rest).
Ya memang itu yg selama ini dilakukan, TNI AU memang menyediakan lahannya saja.
Yang mengurus masyarakat, bekerja sama dengan pabrik tebu di dekat pangkalan.
Anggota TNI AU yang ngurusin ya yang memang tugasnya di situ (korps perbekalan, administrasi, hukum dan pengamanan), bukan pilot, korps teknik yg ngurusin pemeliharaan pesawat dan senjata, serta korps lain yg tidak berhubungan dengan lahan dan tebu.
Jawaban anda yg menurut saya terlalu terburu-buru tanpa menelaah lebih jauh membuat saya tersenyum.
TNI AU itu memiliki banyak korps, saya yg korps pilot tidak ngurusin tebu, ada rekan saya yg memang bertugas ngurusin itu, dinasnya di staf teritorial.
Oh iya satu lagi, kalau saya bodoh, masa saya jadi pilot?
Pukimak betul kalian ini. Berkelahi dan saling mempermalukan satu sama kalian lalu cipokan didepan kami. Besok-besok jangan lagi gunakan kalimat ‘Kita ini negara hukum’. Kalian menunjukkan ini bukan negara hukum tp ini negara milik nenek klean.
Orang2 barat sok2an nyuruh orang2 negara dunia ketiga buat "selamatkan bumi" dan "save the climate", padahal mereka yg ngabisin energi paling gede dan doyan buang2 energi untuk sesuatu yg gak efisien.
Duit hasil referral shopee bisa masuk database pajak.
tapi emas 74kg dan uang ratusan miliar tidak terdetekai sama sekali.
The real underground economy.
Dibanding ngubek2 UMKM, mending DJP cek semua keuangan + gaya hidup anggota TNI + Polri + Kejaksaan beserta keluarga.
Pasti bisa dapat banyak😂
Edan, ini keren banget.
Dari dulu sy pengen ngembangin produk turunan dari pisang atau bawang.
Ternyata tinggal search di website ini, langsung bisa dapet database peneliti-peneliti hebat di Indonesia sesuai bidang yang kita cari.
Jadi lebih gampang buat cari partner riset, kolaborasi, atau bahkan validasi ide produk sebelum masuk tahap produksi. 🚀
https://t.co/aTUOf2LvUv
@Jateng_Twit Ini bkn prestasi ya, tetapi kontrol standar yg seharusnya dilakukan dr awal sejak program ini mulai jalan.
Dan baru skrg akan dijalani, krn sblmnya kalian tol....
Saya sdh bilang.
Tuntutan mahasiswa itu lemah.
Tbukti ihsg n rupiah malah makin menguat.
Tuntutan mereka ga esensial
Keliatan bgt dibuat2 utk membuat kekacauan.
ORKESTRA PRABOWONOMICS.
Oleh: Fahri Hamzah.
Dalam perdebatan publik Indonesia, ada kecenderungan untuk membaca kebijakan pemerintah secara terpisah-pisah. Setiap program dibedah dalam ruangnya sendiri, diperdebatkan anggarannya, dipersoalkan targetnya, lalu dinilai berhasil atau gagal tanpa pernah benar-benar ditempatkan dalam konteks yang lebih besar.
Akibatnya, kita sering gagal melihat arsitektur yang sedang dibangun.
Hal itu tampaknya juga terjadi terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Makan Bergizi Gratis dibahas sebagai program gizi. Sekolah Rakyat dibahas sebagai program pendidikan. Koperasi Desa Merah Putih dianggap sekadar kebijakan koperasi. Program Tiga Juta Rumah dipandang sebagai proyek konstruksi. Kampung Nelayan Merah Putih diperlakukan sebagai program sektoral untuk masyarakat pesisir.
Padahal jika diperhatikan secara lebih cermat, berbagai program tersebut tampak memiliki benang merah yang kuat. Mereka bukan kebijakan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sebuah rancangan yang saling terhubung.
Mungkin karena itulah istilah yang paling tepat untuk menggambarkannya bukanlah kumpulan program, melainkan sebuah orkestra.
Dalam sebuah orkestra, setiap instrumen memainkan peran yang berbeda. Tidak semua menghasilkan bunyi yang sama. Bahkan jika didengar secara terpisah, sebagian nada mungkin terdengar tidak berhubungan satu sama lain. Namun ketika seluruh instrumen dimainkan secara bersamaan, muncul sebuah komposisi yang utuh.
Cara membaca seperti itu tampaknya lebih membantu untuk memahami apa yang sedang terjadi hari ini.
Makan Bergizi Gratis, misalnya, sering diperdebatkan semata-mata dari sisi biaya dan pelaksanaannya. Padahal program ini sesungguhnya berada pada persimpangan antara kebijakan sosial dan kebijakan ekonomi. Di satu sisi ia bertujuan memperbaiki kualitas gizi anak-anak Indonesia. Di sisi lain ia menciptakan permintaan pangan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jutaan porsi makanan yang harus disediakan setiap hari secara otomatis membentuk pasar baru bagi petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha pangan di berbagai daerah.
Di titik inilah program tersebut mulai terhubung dengan Koperasi Desa Merah Putih.
Selama bertahun-tahun, persoalan utama ekonomi rakyat bukan semata-mata rendahnya produksi, melainkan lemahnya organisasi produksi. Petani memproduksi sendiri-sendiri. Nelayan menjual hasil tangkapan sendiri-sendiri. Skala usaha yang kecil membuat posisi tawar mereka lemah dalam rantai distribusi. Koperasi Desa Merah Putih tampaknya dirancang untuk menjawab persoalan tersebut dengan mengonsolidasikan kekuatan ekonomi rakyat pada tingkat desa.
Jika Makan Bergizi Gratis menciptakan permintaan, maka koperasi menyediakan mekanisme agar permintaan itu dapat dijawab oleh produksi rakyat sendiri.
Hubungan yang sama terlihat pada Kampung Nelayan Merah Putih. Program ini tidak hanya menyangkut pembangunan rumah atau penataan kawasan pesisir. Di dalamnya terdapat gagasan yang lebih luas tentang bagaimana wilayah pesisir diintegrasikan ke dalam strategi pembangunan nasional. Nelayan tidak lagi diposisikan sebagai kelompok penerima bantuan, melainkan sebagai bagian penting dari rantai pasok pangan nasional.
Perspektif yang sama juga dapat digunakan untuk membaca Program Tiga Juta Rumah.
Banyak kritik muncul karena program ini dianggap terlalu besar dan terlalu mahal. Namun sejarah pembangunan menunjukkan bahwa sektor perumahan hampir selalu menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi yang paling kuat. Perumahan tidak hanya menghasilkan rumah. Ia menggerakkan industri semen, baja, kaca, keramik, kayu, furnitur, jasa konstruksi, logistik, hingga sektor pembiayaan.
Lebih penting lagi, rumah merupakan aset ekonomi pertama yang dimiliki sebagian besar keluarga. Karena itu pembangunan perumahan sesungguhnya bukan hanya soal menyediakan tempat tinggal, melainkan juga membangun fondasi kesejahteraan jangka panjang.
Siang-siang yang awalnya mata ngantuk langsung menyala terang benderang.
Anak 10 tahun, demam tinggi batuk pilek sejak 3 hari, gak bisa napas lewat hidung, bisanya cuma lewat mulut, suaranya juga hilang, kalau bicara gak ada suaranya.
Ku tengok dari meja IGD, udah nampak tuh facies difteri, bullneck kiri kanan, pas dibuka mulutnya bener aja… Tonsil T4-T4, beslag (+) kiri kanan
Dalam hati menyebut nama hewan karena tau bentar lagi pasiennya bisa jatuh ke gawat napas karena obstruksi jalan napas atas dan gak mungkin pasang tracheostomy di RS mini ini 😵💫
Selagi pasien KU masih alert ya, compos mentis harus dirujuk se fast mungkin…. Untung punya ordal kakak aing yang lagi PPDS pediatri di RS Tipe A, pas stase infeksi dan jaganya PICU lagi 😮💨