Inilah pertanyaan-pertanyaan penting yang membutuhkan jawaban bersama dari kalangan cyber-activist Indonesia. Itu pula yang hendak dicoba diproblematisasi oleh lembaga baru kami: PUBLIK BARU
Mereka membentuk jaringan diskusi politik yg meliputi berbagai macam isu publik. Politisasi media sosial baru seperti facebook dan twitter tampaknya juga merupakan pertanda terjadinya politisasi cyber-space Indonesia. Tapi ke mana arah politisasi ruang cybernetics Indonesia itu?
Berpuncak pada kampanye “Dari Jakarta Baru Menuju Indonesia Baru,” para cyberactivists itu dengan sadar mulai menjadikan media-sosial sebagai alat gerakan sipil demi tujuan-tujuan politik (PVI 2014)
Mulai tumbuh sebuah ruang-publik politik yang dipelopori para cyberactivists. Komunitas-komunitas itu terutama memang muncul di kota-kota besar Indonesia, dan mulai terlibat mempengaruhi proses-proses politik elektoral nasional maupun lokal (Yanuar Nugroho 2012, Merlyna Lim 2012)
Tapi selama beberapa tahun terakhir ini, terjadi perkembangan menarik. Media sosial digital menjadi lokus dibukanya kembali ruang-publik untuk isu-isu politik di antara sesama anggota komunitas kewargaan
Kekuatan-kekuatan bisnis, kelompok-kelompok kepentingan primordial, juga faksi-faksi politik elite oligarkis – dengan atau tanpa partai-partai politik yang menjadi kaki-tangannya – selalu menjadi antitesa bagi munculnya ruang-publik yang bersifat civic
Dalam konteks Indonesia, demokratisasi yang berlangsung pada masa pasca Orde Baru tidak serta merta membuat masyarakat sipil bangkit untuk menciptakan ruang-publik mereka sendiri
Ketika itu warganegara terdegradasi sekadar menjadi konsumen barang dan jasa, serta konsumen administrasi pemerintahan. Media dan kaum elite mendefinisikan dan mendiktekan kepentingan mereka
Itu adalah fenomena regresi ruang-publik pada abad ke-18 dan ke-19. Sejak abad ke-20, ketika kapitalisme negara, industri budaya pop, dan korporat bisnis besar menjadi kekuatan-kekuatan yang mendikte ruang publik
Dulu, sebelum munculnya cyber-space, Habermas (1989) mengingatkan adanya transformasi ruang publik. Pernah menjadi lokus bagi tumbuhnya gagasan-gagasan mengenai public-good, ruang-publik makin terprivatisasi dan hanya berfungsi untuk penyemaian gagasan kebebasan individual
Apakah dewasa ini cyber-space memungkinkan munculnya ruang-publik untuk memajukan pembicaraan menyangkut isu-isu publik melalui perdebatan publik yang luas dan bisa mempengaruhi kebijakan publik pada tingkat bangsa dan negara?
Itu sebab ruang-publik pada kenyataannya adalah ruang-diskursif di mana berbagai individu dan kelompok bergabung untuk membicarakan masalah-masalah bersama (Hauser 1999)
Diskusi menyangkut isu publik atau kepentingan umum menjadi elemen terpenting di mana sebuah ruang yang terbuka menjadi bersifat publik. Diskusi-diskusi tersebut sering menjadi debat-publik yang menghadirkan berbagai pandangan yang saling berbeda bahkan bertentangan
Istilah cyber-space memang dipakai untuk mengaitkan segala sesuatu yang berhubungan dengan interaksi sosial melalui internet. Interaksi sosial yang difasilitasi internet itu melahirkan kebudayaan internet
Aksesibilitas u/ komunikasi dan interaksi publik tetap terbuka bagi semua orang; hanya sekarang berlangsung di dunia digital, dan difasilitasi teknologi cyber. Interaksi sosial yang berkembang di cyber-space inilah yang menciptakan ruang publik baru, juga subjek-politik baru.
Definisi paling elementer mengenai ruang-publik selalu merujuk pada ruang terbuka yang bisa diakses semua orang untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi. Tidak ada yang berubah dari definisi itu ketika kita mengidentifikasi ruang-publik di media sosial.