ᅠ
Terhanyut dalam kehampaan yang ditinggalkan oleh sang terkasih, terhimpit di antara perasaan khawatir menunggu kembalinya sang pujaan hati. Tepat di ujung jalur kepulangan, ruang untuk menanti telah disediakan. Selamat datang di Stasiun Senandika.
ᅠ
ᅠ
Kesempatan kedua yang diberikan secara cuma-cuma terkadang menoreh luka yang lebih dalam. Jika memang ia milikmu, ia akan kembali ke dalam dekapanmu di waktu yang tepat. Jangan berputus asa dahulu selama masih ada jalan.
ᅠ
Izin penulis mengambil alih. Terimakasih yang sudah berinteraksi dan ngajak seru-seruan bersama. Mohon maaf kalau Lyney belum nge-Lyney banget dan belum bondingmaxxing. Kalau ingin berteman boleh reply saja, nanti penulis yang hampirin. Semoga ketemu lagi di lain waktu!
As the sky ignites with a thousand lanterns, I, Lyney, release my lingering regrets into the night. I leave the past’s shadows behind, letting this flame carry my resolve. May the lantern light the path to my future self, glowing with a resolution that never fades.
Companions from Sumeru and Natlan: Nahida, Kaveh, Kinich, Mualani, Citlali, Nilou, and Hat Guy, shared a collective prayer for freedom, safety, and the clarity of a wandering soul.
A gentle breeze then brought companions from Mondstadt: Venti, Durin, Varka, Klee, and Diluc. Their hopes were carried on the wind—praying that the gales would always guide them towards happy endings and fill every corner of Teyvat with joy.