Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memenuhi janjinya di depan Komisi IV DPR RI untuk menindak terduga pelaku penyebab bencana banjir dan longsor di Sumatera.
Keren! 👍
Ada dua proses:
1. Unggah C Plano dan pembacaan C Plano oleh AI
2. Hitung ulang manual dan input data manual dengan saksi dari berbagai partai.
Ada dua tipe kesalahan:
1. Kesalahan hitung pada dokumen C Plano
2. Kesalahan input angka ke Sirekap dari angka pada dokumen C Plano.
Pdukung salah satu paslon yg pakai jaket hijau syal merah putih mengacungkan tangan mereka tinggi2 berkali kali di saat ada paslon yg menjwb. Apakah ini dibolehkan, mengingat konsentransi para paslon bisa terganggu? Hal inilah yg sy & Isyana tanyakan ke moderator saat jeda iklan
Wkt menjwb hny 1-2 menit. Mari kita para pdukung slg menghormati agr smua paslon bs mjwb dgn baik. Stlh paslon menjwb, pendukung bole merespon. Namun gestur2 spt ini di saat paslon bicara, apalagi posisi persis di blkg moderator, berpotensi mengganggu konsentrasi semua paslon.
@temponewsroom@RajaJuliAntoni@kokokdirgantoro@Giring_Ganesha Tempo terus serang Jokowi & PSI. PSI yg tdk pernah terlibat kasus korupsi spt partai2 lain diasosiasilan dg korupsi. PSI divis-a-viskan dg imaji Parpol dg idealitas yg mustahil ada di dunia. Bahkan PSI yg tdk pny kekuasaan digambarkan sbg penentu UU Omnibuslaw & revisi UU KPK.
@temponewsroom@RajaJuliAntoni@kokokdirgantoro@Giring_Ganesha Knp PSI dianggap berhianat krn dukung Pak Prabowo? PSI yg pertama kali usung Pak Ganjar saat PDIP anggap ybs nyapres tanpa izin ketum PDIP. Stlh Pak Ganjar resmi diusung Capres, beliau & PDIP tdk anggap PSI. Sdg Pak Prabowo dg hangat sambut PSI & perlakukan PSI scr egaliter.
PSI DAN LIPUTAN TEMPO
Majalah Tempo edisi awal 2024 menyorot secara spesial Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Ada banyak isu tentang PSI yang diangkat. Namun secara keseluruhan, liputan Tempo ini ingin mengungkap penjelasan mengenai pilihan-pilihan politik PSI mutakhir.
Liputan ini didominasi oleh investigasi tentang pendanaan partai. Tempo dengan detail melaporkan bagaimana PSI mencari dan mendapatkan sumber pendanaan. Pada halaman Opini, Tempo secara eksplisit menyatakan PSI bukan partai yang didorong oleh ide. "PSI-- yang sesungguhnya memang tak pernah menjadi partai idealis," ungkap Tempo.
Bahkan Tempo menyebut PSI sejak awal sudah melakukan praktik politik uang karena menggalang dana dari kalangan konglomerat. Namun pernyataan itu jelas keliru. Bukan begitu definisi politik uang. Politik uang atau vote buying (istilah yang umumnya dipakai dalam literatur) tidak terjadi hanya karena ada sumbangan pada partai atau kandidat, melainkan karena ada transaksi jual beli suara di mana ada kandidat atau tim politik yang memberi uang atau hadiah pada pemilih dengan imbalan suara di TPS. Jika unsur jual dan beli suara itu tidak terjadi, misalnya seorang kandidat atau timnya kasih uang pada seorang pemilih tapi sang pemilih tidak memberikan suaranya, maka itu juga tidak masuk dalam kategori vote buying, melainkan penipuan biasa. Intinya Tempo kurang hati-hati dalam penggunaan istilah politik uang.
Ambisi Tempo "membongkar proses pendanaan" PSI membuat majalah ini jatuh ke dalam perspektif tunggal. Gagasan-gagasan atau pilihan-pilihan politik kebijakan PSI kurang dielaborasi secara objektif. Pilihan-pilihan politik dan kebijakan itu disinggung kulit-kulit luarnya saja di tengah "investigasi sumber pendanaan" partai. Akhirnya wacana atau kesan yang terbentuk dari laporan itu adalah bahwa PSI sebenarnya tidak punya gagasan orisinil yang mendasari kebijakan politik mereka.
Laporan Tempo itu seolah ingin mengatakan bahwa yang fundamental adalah dana, kebijakan sekadar mengikut di belakangnya. Menurut saya, ini adalah perspektif yang terlalu simplistis khas teori kritis. Seolah-olah semuanya adalah soal uang: gagasan dan ide ada di belakang dan tidak penting.
Gagasan tentang Jokowisme, misalnya, betapa pun saya tidak setuju, terlihat ada basis argumentasi politik dan programatik di belakangnya.
Dari sisi politik, PSI, seperti umumnya partai politik di Indonesia, membutuhkan figur populer dan kharismatik untuk memperkuat dukungan. Sejak awal, PSI memang selalu memberi tempat spesial pada tokoh-tokoh nasional yang dianggap penting: antara lain Ahok, Nurdin Abdullah (ketika belum diketahui korup), Mahfud MD, Ganjar Pranowo, Yenny Wahid, dan Jokowi. Kalau kemudian PSI sekarang lebih eksplisit mengasosiasikan diri dengan Jokowi, itu bukan hal yang baru. Sejak awal, partai ini memang berusaha mencari figur yang bisa dijadikan acuan oleh kader dan simpatisan partai. Sebagai partai baru, mereka butuh itu. Dari sisi gagasan, di luar sejumlah kekurangannya, Jokowi tampil cukup genuin dengan kerja-kerja teknokratis yang sangat menonjol.
Selain Jokowisme, PSI juga secara konsisten muncul dengan gagasan-gagasan menarik seperti BPJS gratis atau dukungan penuh atas pemberlakuan UU perampasan aset. Pada 2019, partai ini memelopori proses rekrutmen Caleg terbuka, mungkin rujukannya adalah Ahok yang sebelumnya melakukan proses rekrutmen terbuka untuk lurah dan jabatan-jabatan strategis Provinsi DKI Jakarta.
Namun yang paling unik dari PSI adalah konsistensi pembelaannya pada kelompok-kelompok minoritas yang terdiskriminasi. Mungkin PSI adalah satu-satunya partai yang bicara dan membela Meliana di Tanjung Balai. Mereka juga membela jemaat GKI Yasmin dan GBI Bellevue Depok. Partai lain tak terdengar suaranya soal itu.
Untuk isu toleransi, PSI cukup memberi harapan. Setidaknya ada partai yang bisa diajak bicara soal intoleransi. PSI adalah partai politik yang punya jaringan nasional. Punya organisasi yang mau bicara soal intoleransi dan punya jaringan besar itu adalah kemewahan di tengah partai-partai dan organisasi massa yang takut pada kelompok-kelompok dominan yang intoleran.
Kebijakan PSI yang banyak disorot tentu saja adalah bergabung dengan kubu Prabowo. Ini isu yang menarik karena sebelumnya PSI cukup lama berseberangan dengan Prabowo, bahkan menjadi partai pengusung pertama Ganjar Pranowo sebagai calon presiden mendahului PDI Perjuangan. Saya menduga ini pilihan politik yang sulit dan tidak sederhana. Ada banyak faktor yang berkelindan di sana. Lain waktu kita bahas.
Secara umum Tempo terlihat kurang tertarik bicara gagasan. Mungkin lain kali?
DEPOK, 7 JANUARI 2024
SAIDIMAN AHMAD
PSI adalah Jokowi, Jokowi adalah PSI. Menang pasti menang.
Kita harus tetap melakukan kampanye postitif, hindari hoax dan menebarkan kebencian, lakukan poltik riang gembira.
Survei itu bkn dibantah & denial (penyangkalan) pun menipu diri sendiri, dg alasan: survei bayaran, metode salah, dsb, apalagi hasil semua lembaga mirip. Tp mjd masukan untuk evaluasi strategi kemenangan. Tinggal 1.6% lagi & msh 1 bln, semangat @psi_id !
PILIHAN PARTAI DPR RI
PDIP 19.1%, kemudian Gerindra 18.2%, Golkar 9.3%, PKB 7.8%, NasDem 6.2%, PKS 6%, PAN 4.5%, Demokrat 4.4%, sementara partai lain kurang dari 3%, belum menjawab 15.1%.
Pendapat atas keunggulan Mas @gibran_tweet bahkan didukung oleh pemilih Nasdem 45%, PDIP 44% & PKB 38%. Walau tdk ada perubahan material pilihan pasangan Capres-Cawapres untuk 01 turun dibanding survey sblmnya.
Survei @indikatorcoid menghasilkan kesimpulan bahwa responden menilai mas @gibran_tweet paling bagus dalam menyampaikan pendapat/gagasan & memiliki program yang paling baik dgn angka 56% jauh dr 03 24% & 01 12%. Good Job mas!
Selamat ulang tahun ketua umum panutan kami, Mas Kaesang Pangarep.
Semoga sehat dan bahagia senantiasa. Semoga segala hal baik dan mulia yang dicita-citakan segera terlaksana! 🥳✨