Presiden RI ke-7 Jokowi akan berkeliling ke sejumlah daerah di Indonesia untuk menemui pengurus daerah PSI.
PSI Lampung mengungkapkan rencana kunjungan Jokowi ke Lampung akan dilakukan pada akhir Juni.
"Kerinduan itu tumbuh berkat berbagai pembangunan dan perhatian yang telah beliau berikan selama memimpin Indonesia."
Ada yang rindu juga sama Pak Jokowi? 🥰
https://t.co/C1Hsf3EJu8
JAWA ITU KANDANG GAJAH
Ini bukan cerita tentang kebangkitan sebuah partai politik di Indonesia. Namun dulu pernah ada masanya ketika gajah mendiami hutan-hutan di Pulau Jawa.
Jawa pernah memiliki subspesies endemik Gajah Asia sendiri, Elephas maximus sondaicus. Meski memiliki banyak kemiripan dengan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan Gajah Kalimantan (Elephas maximus borneensis), Gajah Jawa memiliki karekteristik yang sedikit berbeda dengan dua kerabat terdekatnya ini.
Elephas maximus sondaicus pertama kali diusulkan pada 1953 oleh seorang ahli zoologi dan paleontolog asal Sri Lanka, Paules Edward Pieris Deraniyagala. Uniknya, usulan ini tidak didasarkan pada fosil atau spesimen fisik, melainkan pada pengamatannya terhadap relief gajah pada Candi Borobudur di Jawa Tengah. Ia berpendapat, gajah yang digambarkan memiliki ciri fisik yang berbeda, sehingga kemungkinan adalah subspesies yang unik dan telah punah.
Walau demikian, hingga saat ini banyak pihak yang cenderung menganggap Gajah Jawa identik atau sama dengan Gajah Sumatera karena bukti fisiknya sangat minim.
Meski tidak ada catatan ilmiah detail tentang penampilannya, berikut gambaran umum Gajah Jawa berdasarkan berbagai sumber:
· Ukuran Tubuh: Digambarkan lebih kecil dari gajah Asia pada umumnya, yang jantannya bisa mencapai tinggi 3 meter. Gajah Jawa jantan diperkirakan memiliki tinggi 1,7 hingga 2,6 meter dan betina 1,5 hingga 2,5 meter.
· Perbandingan dengan Gajah Borneo: Ciri-ciri ini sangat mirip dengan Gajah Kalimantan saat ini, yang diyakini sebagai kerabat dekatnya, terutama ukurannya yang lebih kecil serta sifatnya yang cenderung kurang agresif dibanding subspesies lainnya.
Sebagaimana namanya, Elephas maximus sondaicus adalah subspesies asli yang mendiami Pulau Jawa. Bukti keberadaan mereka di masa lalu terutama berasal dari dua hal:
· Catatan Sejarah: Kronik Tiongkok kuno mencatat bahwa pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Jawa, gajah ditunggangi oleh para raja dan gading-gadingnya diekspor ke Tiongkok.
· Rekam Arkeologi: Fosil gajah Asia, yang diduga kuat berasal dari subspesies ini, ditemukan pada endapan masa Pleistosen di berbagai lokasi di Pulau Jawa.
Kepunahan Elephas maximus sondaicus diperkirakan terjadi pada periode antara akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19, dipicu oleh kombinasi faktor berikut:
· Perburuan Besar-besaran: Terutama untuk diambil gadingnya.
· Hilangnya Habitat: Konversi hutan menjadi lahan pertanian, pemukiman, dan infrastruktur.
· Masa Kolonial: Perburuan semakin intensif dengan masuknya bangsa Eropa yang menjadikan perburuan sebagai olahraga "prestise".
Selain faktor di atas, ada dugaan bahwa penggundulan hutan yang masif juga menyebabkan fragmentasi habitat, yang mengisolasi populasi gajah dan mengganggu rute migrasi mereka.
Meski punah di Jawa, Elephas maximus sondaicus meninggalkan jejak budaya yang kuat serta misteri yang menarik:
· Simbol Kekuasaan: Di masa lalu, memiliki Gajah Jawa adalah simbol status dan kekuasaan tertinggi bagi para raja, digunakan dalam upacara kerajaan hingga peperangan.
· Legenda Rakyat: Warisannya hidup dalam berbagai cerita rakyat setempat.
· Warisan Genetik: Banyak ilmuwan menduga bahwa Gajah Kalimantan saat ini (Elephas maximus borneensis) adalah keturunan langsung dari Gajah Jawa yang dibawa ke Kalimantan berabad-abad lalu, kemungkinan sebagai hadiah diplomatik antara para penguasa. Hasil uji DNA memang menunjukkan bahwa gajah Kalimantan secara genetik berbeda dan terisolasi dari gajah Sumatra atau daratan Asia, mendukung teori ini.
@sigitwid Seribu tahun lalu profesi mahalimān (pawang gajah) mendapat tempat istimewa di hadapan Mahārāja Airlangga tatkala berperang mengalahkan musuh-musuhnya.
Profesi ini juga tercatat pada masa pemerintahan Mahārāja Balitung (Prasasti Poh, 905M).
Sekretaris Jenderal PSI Raja Juli Antoni menilai Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang status ibu kota negara memberikan kepastian hukum terhadap keberlanjutan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 38/PUU-XXIV/2026 mempertegas bahwa pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) berada di jalur konstitusional dan memiliki kepastian hukum yang kuat.”
https://t.co/X667rFN5ha
Kekuatan terbesar kita sebagai bangsa terletak pada persatuan dan kerukunan untuk berdiri tegak di tengah tantangan zaman.
Mari kita satukan langkah, berkolaborasi untuk meneruskan estafet perjuangan para pendahulu kita. Dengan semangat tersebut kita pasti bisa bangkit, untuk mewujudkan Indonesia yang lebih maju, tangguh, dan sejahtera.
Selamat Hari Kebangkitan Nasional 🇲🇨
Sekretaris Jenderal PSI Raja Juli Antoni menilai Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang status ibu kota negara memberikan kepastian hukum terhadap keberlanjutan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 38/PUU-XXIV/2026 mempertegas bahwa pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) berada di jalur konstitusional dan memiliki kepastian hukum yang kuat.”
https://t.co/X667rFN5ha
Sekretaris Jenderal PSI Raja Juli Antoni menilai Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang status ibu kota negara memberikan kepastian hukum terhadap keberlanjutan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 38/PUU-XXIV/2026 mempertegas bahwa pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) berada di jalur konstitusional dan memiliki kepastian hukum yang kuat.”
https://t.co/X667rFN5ha