Rizq blockers:
• missing Fajr
• Overeating
• Porn
• Gossip
• Riba
•Lack of Istighfar
You ask why life feels stuck.
But you’re locking the doors yourself
Tante... tebak kenapa genz banyak yang gamau nikah, karena gamau mewariskan trauma yg sama ke anaknya Tante. sadar kalau jadi orangtua itu berat jadi ga pengen mengulang kesalahan yang sama😊
Namanya Bu Soe Tjen Marching Dosen di London dan penulis
Seorang dosen Financial freedom tapi masih peduli keadaan bangsa dan negara
Itu buzzer rupiah untuk makan dan bayar sekolah anak harus jual kesedihan dan nipu dulu
Kok bisa bisanya jilat jilat penguasa
Kenapa ada cewe yang kemana2 gak prepare tissue, permen, parfum, toothpick, atau barang2 lain yang udah jadi essential needs dia di dalam tasnya. Tapi gak sungkan2 buat mintain terus ke temennya yang selalu bawa. Padahal akupun selalu sedia itu karena gak mau repotin orang dengan minta2. Hal remeh sih cuma lama-lama jadi nyebelin.
I have plan buat nikah, selalu ada dan masuk rencana itu, tp aku SEPAKAT sama bagian settle for less. Jujur, kayak gw berjuang buat diri gw sendiri supaya bisa hidup dengan layak dan bahagia, jadi please let me meet with someone yg bener2 baik dan bahagia dengan dirinya sendiriiii🥺💗💗
Golongan Masyarakat yg sudah demo dan menyuarakan STOP MBG :
- Emak-emak
- Mbak-mbak
- Mahasiswa
- Guru
- Honorer
- Ojol
- Influencer
- Warga tiktok, thread, fb, x
- Pedagang UMKM
- Kantin sekolah
- Supplier MBG
Butuh berapa kelompok masyarakat lagi nih yg demo supaya MBG bener2 stop?
Ini Fatimah lembut banget jawabnya, kalo gue yang ada di situ, mungkin akan jawab:
NAH ITU LO TAU AKSES KESEKOLAH JELEK!!! NAPA GAK LO BENERIN DULU SEBELOM EMBEGE2AN??? HAH???🙂🫵🏻🙏🏻
Poster2 tuntutan Aliansi Perempuan Indonesia dalam aksi Tuntut Prabowo Turunkan Harga, ciptakan lapangan kerja, dan hentikan MBG di Jakarta pada Kamis, 18 Juni 2026.
“kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur sppg, kami mau melapor ke TNI, TNI punya dapur sppg, kami mau melapor ke DPR, DPR pun punya dapur sppg. jadi ini jalan terakhir kami untuk mengadu, kepada konstitusilah kami berharap”
—ucap seorang guru, pendidik anak bangsa. ironi.
Teman-teman, saya ingin menjelaskan menstruasi kepada para laki-laki.
Sebagian laki-laki mengira menstruasi hanyalah beberapa hari rasa tidak nyaman, sedikit perubahan mood, lalu selesai.
Padahal, jarang sekali yang benar-benar menghitungnya.
Seorang perempuan berada dalam masa subur itu kurang lebih selama 40 tahun.
Menstruasi datang sekitar setiap 28 hari.
Artinya, dalam hidupnya, seorang perempuan mengalami sekitar 521 kali menstruasi.
Setiap menstruasi berlangsung kurang lebih 5 hari.
Jika dijumlahkan, itu sekitar 2.607 hari.
Hampir 7 tahun hidupnya dilalui dalam keadaan berdarah.
Dan bukan kiasan, dia benar-benar berdarah.
Rata-rata darah yang dikeluarkan sekitar 80 mililiter.
Jika dijumlahkan sepanjang hidup, jumlah darah terbuang mencapai sekitar 42 liter.
Rata-rata tubuh kita berisi sekitar 5 liter darah.
Empat puluh dua dibagi lima.
Artinya, sepanjang hidupnya, seorang perempuan mengeluarkan darah setara lebih dari 8x seluruh darah dalam tubuhnya sendiri,
Delapan volume darah tubuh keluar dari satu perempuan.
Dan ada bagian yang lebih jarang dibicarakan.
Ia memulai semua ini sejak usia 11 tahun.
Sebelas tahun.
Usia ketika sebagian besar dari kita masih belajar memahami tubuh sendiri.
Ia menyembunyikan pembalut di balik lengan saat berjalan ke toilet.
Berdoa agar darahnya tidak tembus ke rok.
Mencari alasan kepada guru olahraga.
Berbisik kepada teman-temannya.
Malu luar biasa jika ada anak laki-laki yang tahu trus menertawakan.
Lalu kebiasaan itu terbawa bertahun-tahun.
Menyembunyikan.
Menutupi.
Berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Di sekolah.
Di tempat kerja.
Saat bepergian.
Di ruang rapat.
Di tengah kesibukan.
Di setiap ruangan yang ia masuki.
Ia bisa sedang nyeri, lelah, tidak nyaman, bahkan cemas darahnya tembus. Namun tetap tersenyum.
Tetap bekerja.
Tetap terlihat baik-baik saja.
Tujuh tahun perdarahan.
Empat puluh tahun belajar menyembunyikannya.
Lalu sebagian laki-laki masih menyebutnya, “Ah, cuma moody sebulan sekali.”
Bahkan bikin kepanjangan baru dari PMS, "Prepare to Meet Satan."
Teman-teman,
tugas kita bukan memperbaiki semuanya.
memang tidak akan bisa.
Tugas kita adalah menjadi lebih dewasa dalam memahaminya.
Belikan pembalut tanpa merasa aneh.
Tanyakan apa yang ia butuhkan tanpa menghakimi.
Jangan memasang wajah jijik.
Jangan menjadikan menstruasi sebagai bahan candaan murahan.
Jangan bertanya, “Lagi datang bulan ya?” dengan nada yang ngenyek merendahkan.
Jangan membuat perempuan merasa tubuhnya adalah sesuatu yang harus disembunyikan.
Ia sudah belajar menyembunyikannya sejak usia belasan tahun.
Maka jadilah orang yang membuatnya merasa aman.
Yang membuatnya merasa nyaman
Yang membuatnya tidak perlu lagi bersembunyi.