::
Pengupas Bawang
Rp. 700.000,00/kg
*Waspada. Bawang Merah itu jahat daripada yg mana Bawang Putih.
🎵 Indonesia Merah Bawangku, Putih Bawangmu bersatu dalam keringatku
Gebyar gebyar pelangi jingga🎵
MBG [Mengupas Bawang Gembrobyos]💧💧
••
Yang Mau...
BERGURU Jadi Muridnya Nyai Susanna Agar Bisa NGUPAS BAWANG Dengan CEPAT & BERPENGHASILAN JUTAAN RUPIAH
🤣😄🤣
#NgupasBawangAjaDulu#NgupasBawangAjaDulu
Orang lahir tahun 70-80an pasti setiap 17 agustusan suka nonton film Si pitung atw Janur kuning layar tancap,tapi zaman sekarang perfilman sudah sirna artisnya sudah pd tua dan diganti dgn digital Youtube,anak kelahiran 70an pasti kangen spt dulu dpt nonton film layar tancap
Telah terjadi Aksi Baku hantam antar warga saat acara Karnaval di Tagog apu, Kec. Padalarang Kab. Bandung Barat, informasi beberapa orang mengalami luka-luka akibat kejadian ini.
Akhir-akhir ini Emosi Warga mudah sekali terpancing .
VIRAL! SOSOK MIRIP “BABI NGEPET” TEREKAM DI DEPAN RUMAH
Awalnya mungkin terlihat seperti sesuatu yang sulit dipercaya. Dalam rekaman ini, terlihat seseorang berada di depan rumah warga dengan posisi yang kemudian dikaitkan dengan fenomena “babi ngepet”.
Yang menarik, warganet langsung menghubungkannya dengan cerita mistis yang selama ini sudah begitu dikenal di masyarakat.
Tapi menurut saya, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa manusia benar-benar bisa berubah menjadi babi. Bisa saja ini hanya aksi seseorang yang sengaja membuat konten, melakukan prank, atau memang ada penjelasan lain yang lebih masuk akal.
Justru di era media sosial seperti sekarang, kita harus lebih kritis. Viral belum tentu berarti benar.🙏🫢
Judulnya menarik: “Kisah manusia yang difitnah berabad-abad oleh sejarah.”
Video ini sepertinya mencoba membingkai ulang tokoh kolonial (kemungkinan besar terkait periode Inggris di Jawa) sebagai sosok yang lebih kompleks, bahkan mungkin “difitnah”. Memang, sejarah sering ditulis oleh pemenang, dan tokoh-tokoh masa lalu mudah sekali dijadikan hitam atau putih sepenuhnya.
Tapi kita perlu hati-hati. Tokoh kolonial seperti Raffles atau pejabat VOC/Belanda lainnya memang membawa kebijakan yang sebagian terlihat “progresif” di zamannya (misalnya pembatasan kerja rodi, dokumentasi budaya, atau reformasi administrasi). Namun mereka tetap bagian dari sistem penjajahan yang mengekstraksi sumber daya, menguasai tanah, dan menempatkan penduduk lokal sebagai subjek, bukan warga setara.
Membela satu sisi sambil mengabaikan sisi lain justru mengulangi kesalahan yang sama: menyederhanakan sejarah. Kolonialisme bukan hanya soal individu baik atau jahat, melainkan struktur kekuasaan yang timpang. Bahkan pejabat yang “baik hati” tetap bekerja dalam kerangka yang merugikan rakyat setempat.
Apalagi video semacam ini kini banyak dibuat dengan AI. Visualnya bagus, dramatis, dan mudah viral. Tapi akurasi sejarahnya perlu dicek ulang. Jangan sampai kita menelan narasi baru hanya karena kemasan visualnya menarik.
Sejarah terbaik adalah yang berani melihat nuansa: ada kebijakan yang relatif lebih manusiawi, ada pula eksploitasi yang kejam. Bukan untuk membenarkan penjajahan, tapi agar kita tidak mengulangi polarisasi yang sama di masa kini.
Manusia masa lalu jarang sepenuhnya pahlawan atau penjahat. Mereka produk zamannya. Tugas kita hari ini adalah membaca mereka dengan kritis, bukan sekadar mencari versi yang paling enak didengar.