Lanjut......
Ada satu lagi plot twist yang baru: Inggris Bebas Visa ke Tiongkok (30 Hari).
Setelah Zaman Es selama 8 tahun, tiba-tiba Xi Jinping kasih karpet merah buat warga Inggris. Media arus utama bakal bilang ini reset hubungan, tapi menurut saya ga cuma itu:
Pengkhianatan Halus Likuiditas:
London sebagai pusat keuangan dunia tahu ke mana arah angin berhembus. Saat sistem Dollar lagi goyah karena shutdown dan tumpukan utang, London butuh akses langsung ke likuiditas Yuan. Ini soal mempermudah bankir-bankir kelas kakap mondar-mandir Beijing-London tanpa hambatan birokrasi.
Membelah Aliansi:
Xi Jinping ini pinter. Dengan kasih bebas visa ke Inggris tapi tetap persulit warga AS, Tiongkok lagi nanam benih perpecahan di aliansi Barat. "Mainlah ke sini, ekonomi kami lebih stabil," bisik China ke Eropa.
Soft Power & Soft Landing:
Berita Xi Jinping fans MU + Bebas Visa Inggris itu satu paket branding. Tiongkok lagi memposisikan diri jadi pelabuhan tenang di tengah badai yang dibikin AS. Mereka mau uang dari London pindah ke pasar mereka saat Nasdaq dan Bitcoin lagi berdarah.
Kesimpulannya? Dunia lagi geser porosnya secara live di depan mata kita. AS sibuk bakar uang buat perang dan birokrasi yang lumpuh, sementara Tiongkok sibuk buka pintu buat pemilik modal dari sekutu terdekat AS.
Nah, pertaruhannya sekarang kita bakal lihat banjir likuiditas karena inflasi yang dipaksa naik, atau justru kekeringan likuiditas karena semua disedot balik ke Emas, Perak, dan Minyak?
Ada yang ketinggalan nggak? Atau ada yang mau nambahin?
It's now happening. The existing fiat monetary order, the domestic political order, and the international geopolitical order are all breaking down, so we are at the brink of wars. It all is happening because of the Big Cycle that is driven by the five big forces I've described repeatedly and laid out in detail in my book and Youtube video titled Principles for Dealing with The Changing World Order. You can find the video linked in the comments below.