Pancatera yang foto bareng presiden menegaskan bahwa perempuan tidak mengalami penindasan yang sama. Perempuan yang menikmati privilese karena kelas atau ras belum tentu dapat berempati kepada perempuan dari kelas dan ras lain yang tertindas.
Perayaan Kemerdekaan di Istana adalah pesta, seperti laiknya pesta yang tampak adalah kemewahan, kemegahan, suka cita. Tapi dari setiap pesta selalu ada yang tidak terlihat dan disembunyikan yakni dapur kotor yang memungkinkan pesta itu berlangsung.
Pemimpin negeri ini senang sekali dengan angka (sering nggak akurat lagi), bicaranya makro dan kerapkali tidak menggambarkan realitas yang sebenarnya, dan mengabaikan kasus2 karena secara persentase kecil. Contohnya angka keracunan MBG.
Please, stop menyebut logistik dari negara untuk korban bencana sebagai "bantuan". Itu kewajiban negara terhadap warga negaranya dan hak bagi warga negara. Kecuali dari kantong pribadi bukan hasil korupsi bisa disebut bantuan.
Yang hilang dari negeri ini adalah Empati, berapa duit untuk outfit para pejabat dan wakil rakyat untuk hadir sidang tahunan MPR, berapa duit untuk mobil mewah dan perawatannya yang berjejer di gedung DPR, sementara ada warga negara yang mati karena nggak dapat kamar rawat inap.
Analogi penasehat presiden itu tidak tepat, masa kritik rakyat kepada pemerintah dianalogikan dengan lalu lintas dua arah. Kalo Rakyat boleh kritik pemerintah, pemerintah boleh kritik rakyat dong. Soal rakyat yang tidak diterima disebut Londo Ireng disebut contraflow, kocak.
Wajah orde kekerasan semakin hari semakin nampak jelas. Gejalanya secara sporadis telah muncul, amuk massa pencuri ayam, satpam ditenggelamkan di bendungan, tawuran di matraman. Nampaknya peristiwa2 itu berdiri sendiri2, sejatinya saling berkaitan dan sistemik.
Seorang ayah mati dihakimi massa di Bali karena diduga mencuri seekor ayam. Siapa yg salah? seandainya benar mencuri,mungkin karena kemiskinan, dan massa yg mudah tersulut amarah itupun mungkin hidup mereka susah. Negara harus bertanggungjawab atas gagalnya mensejahterakan rakyat
Rezim ini nampak kembali pada norma gender tradisional. Presiden mencitrakan diri sebagai bapak yang memberi makan perempuan & anak, melindungi SDA, menyelamatkan negara dari ancaman asing dll. sebaliknya perempuan dinarasikan sebagai yang butuh pemberian dan perlindungan.
Anggota DPR RI Ahmad Sahroni kembali berulah dengan melecehkan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda dengan ungkapan "Tante Cantik yang siap menerima kunjungan para lelaki seluruh republik ini". Pernyataan ini Seksis, merendahkan dan menjadikan perempuan objek.
Banyak begal di Jawa Barat bukannya koordinasi dengan Polda Jabar, KDM malah bikin sayembara. ini bukan solusi tapi justru merusak tatanan bernegara karena tanggungjawab keamanan ada pada polisi bukan pada masyarakat.
Kementerian dan Lembaga berikut membutuhkan Perspective of Care, karena dekat sekali dengan perempuan dan anak. Kemenkes, kemensos, kemendikdasmen, Kementerian kependudukan dan KB, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan anak (KPPA) dan BGN. Hanya KPPA yang dinahkodai perempuan.