Kurang BGST apa negara ini:
Warga Aceh patungan 1 Milyar untuk bikin jembatan yang harusnya dikerjakan pemerintah
Lebih anjing lagi Menteri PU hadir bak pahlawan mau ngecek konstruksi jembatan dengan alasan keselamatan
REJIM WOWOK BIADABBBB
Lama-lama Kita Terbiasa dengan Kurs USD Rp18.000…🥲😭
Padahal Ini Bikin Kita Rugi Banget..
Awalnya kita kaget. Kemudian biasa.
Sekarang? Udah hampir nggak ada yang ribut lagi.
USD ke Rp18.000 sudah terasa “normal”.
Padahal sebagai WNI, ini sangat merugikan kita:
- Barang impor (HP, laptop, kosmetik, baju branded) jadi jauh lebih mahal
- Bahan baku produksi naik → harga barang lokal ikut naik
- Biaya liburan ke luar negeri, kuliah anak di luar, bahkan jamaah haji jadi semakin mahal
- Utang luar negeri pemerintah dan swasta terasa lebih berat
- Daya beli rupiah kita semakin lemah
Buat yang bingung kenapa banker bilang gini (sekaligus memperjelas maksud bang Eko)
Beliau bilang ‘merah terus dari awal tahun’ artinya kinerja banknya lagi jelek (bisa laba di bawah target atau bahkan rugi di beberapa segmen).
NPF/NPL itu singkatnya kredit/pembiayaan macet.
• NPL = Non Performing Loan (bank konvensional)
• NPF = Non Performing Financing (bank syariah)
Artinya persentase pinjaman yang nasabahnya sudah telat bayar >90 hari. Kalau naik tajam, artinya banyak orang/usaha yang lagi kesulitan bayar cicilan.
Kenapa naik sekarang? Karena ekonomi lagi challenging:
• Daya beli masyarakat melemah
• Banyak PHK / usaha lesu
• Inflasi (terutama pangan)
• Cicilan yang kemarin di-restrukturisasi jaman COVID sekarang mulai jatuh tempo beneran
Bedanya sama jaman COVID: dulu ada kebijakan relaksasi/restrukturisasi massal dari pemerintah, jadi bank bisa ‘tutup mata’ dulu nggak langsung catat macet. Sekarang nggak ada lagi, jadi keliatan yang beneran macet.
Secara nasional NPL masih di kisaran 2,1-2,2% (masih aman), tapi di beberapa bank/segmen tertentu (terutama consumer & multifinance) memang lagi naik signifikan. Makanya banker pada komen ‘ini udah nggak normal’ cmiiw
Padahal ibarat beli ayam goreng kaki lima vs ayam KF*, isinya sama, cuma beda kemasan & margin.
Obat generik yang di BPJS itu HET-nya udah dinego pemerintah biar rakyat kebeli. Makanya keliatan “murah” bukan berarti obatnya murahan.
Yang mahal di luar itu bukan zat aktifnya, tapi rantai distribusi + margin asuransi swasta.
Kalau bisa sembuh pake obat generik, kenapa harus pake yang paten?
Kenapa ya orang lebih percaya yang mahal drpd yang disubsidi? 🤔