แ
๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐
In the garden of love, he flies from flower to flower,
Carrying a fragrance that soothes the body and soul.
Like a butterfly that never gets tired,
The man dances in beauty that never fades.
แ
Kalau ditanya kenapa, mungkin karena i really gave my all sama kerjaan. Jadi respon tubuh abis selesai, langsung off. Makanya seringkali kerjaan gua selesai tepat waktu (karena beneran berusaha maksimal dan cepat nyelesein) terus pulangnya gua langsung tidur.
Respon tubuh gua dan saudara jauh dari mama ternyata ga jauh beda. Sama-sama kalau udah capek, langsung tepar. Bedanya gua cuman langsung ketiduran aja; seringkali abis kerjaan selesai. Lainnya kalau abis pulang kerja malamnya lanjut meeting sama temen, ya sekedar belajar, itu sering kali ketiduran di depan laptop. Kalau saudara lain lagi, dia bisa langsung pingsan di kantor.
Ini adalah hal yang sebenarnya selalu gua wanti-wanti ke setiap kolega, tapi ada 1 orang yang menganggap yang lain wajar sakit, gua kagak. Padahal at the end of the day gua kan juga manusia bukan robot.
Momen lucu hari ini, pada berebut mau bantuin tapi ada yang gabisa diarahin jadi ujungnya pulang telat juga karena harus ngerapihin lagi. Hahahaha tapi senang sekali banyak yang mau membantu.
"You do really have a pure heart." ga pernah nyangka bakalan ada yang bilang begitu. Mungkin karena dari dulu aku cuman berusaha baik, diberi ucapan gini aku jadi merasa tersentuh. Jaga diri baik-baik Pak, kapan-kapan bercanda ria lagi ya ramai-ramai walaupun Bapak selalu kalah sama saya hahahaha bercanda.
แ
Ia lantas menghardikku, "Lagian siapa suruh sih masuk kesitu? Kakak kaget lhoh kok kamu mau, padahal tempatnya terkenal problematik."
"Jonan kak, ngereach aku beberapa bulan buat ngegantiin dia. Aku ga enak nolak." jawabku.
"Jonannnnnnnn," suara Anike meninggi geram, "Pasti dia bikin masalah lagi ya? Makanya cabut."
Aku agak ragu menjawab, namun akhirnya mengiyakan, "Iya kak."
"Tuh kan!" Anike melepas pelukannya; wajahnya berubah kesal, "Nanti jangan mau lagi bantuin dia, he always up to no good kalau berhubungan sama kerjaan. Brings bad luck."
"Iya kak... aku yang salah memang." responku seadanya.
"Siapa bilang kamu salah?" Anike menatapku tak suka, "Dia yang jahat kok, kenapa jadi kamu yang salah karena berprasangka baik ke dia? Jonan yang salah, kamu enggak."
Aku menahan diri, namun jujur tersentuh saat mendengar omongan Anike, "Terima kasih, ya, Kak."
"No need." Anike tersenyum padaku, "Mau lima tahun atau lima belas tahun lagi, kamu dan yang lain masih adik-adik Kakak. Kalian berhak cerita dan didengerin, dan Kakak, walau nanti udah punya hidup baru sendiri, bakalan tetap jadi Kakak kalian."
"Jadi, berhenti menganggap kelebihanmu sebagai suatu kekurangan ya Rel. Kamu benar dan tepat, dan layak tetap bersinar dengan warnamu sendiri. Kamu bebas menjadi dirimu, Karel." sambungnya kemudian.
Aku tak menjawab, hanya tertegun; larut kembali dalam pemikiranku.
แ
แ
Ruang kosong yang tercipta itu telah membuatku merasa hampa dan mulai merenungkan banyak hal. Seringkali aku pulang dengan tatapan acuh tak acuh akan sekeliling; aku sudah letih dan bukan karena pekerjaanku.
Hari ini, aku menemani Anike, senior ku dikampus dulu berkeliling. Ia sedang singgah untuk mengenang masa-masa kuliah sejenak sebelum kembali ke tempat dingin nun jauh di dekat Moscow.
Lamunanku mungkin menarik perhatiannya, sehingga perempuan Sulawesi tulen itu lantas mengibas-ngibaskan tangannya di depan mataku, "Dek? Mau makan apa jadinya?"
"Sushi aja Kak, udah lama juga ga makan. Belum sempat." jawabku sekenanya.
"Ide bagus, kemaren itu masuk itinerary Kakak juga cuman kelupaan. Ke resto yang di GeyIang itu aja, gyoza nya enak." sambutnya antuasis.
"Tapi dia baru buka sorean lagi Kak, mau ngopi dulu aja gak?" timangku.
"Ah, we all knows you hate kopi, Rel." tawa Anike mengingat obrolan ramai kami dengan teman-teman lain semasa dulu.
"Wanna go grab matcha?" aku menyerah, "...I heard they serve a good taro too."
"You and your blind obsession over Taro," Anike tertawa kecil, "Ayo, kapan lagi kakak traktir sebelum balik ke EIektrostaI."
Aku dan Anike menghabiskan waktu berbincang di cafe pinggir jalan dengan minuman masing-masing, ia bercerita bagaimana cuaca dingin di tempatnya sekarang bekerja membuat ia jarang menggunakan koleksi pakaian musim panasnya.
"Kangen tahu pakai hotpants." tawanya. "Steve gimana, Rel? Masih obsesi pengen jadi raja combat temasek?"
Aku terkekeh mendengar pertanyaan penasaran setengah menghina dari Anike, "Haha, udah enggak Kak. Sekarang dia jadi karyawan biasa juga, kantornya masih satu wilayah sama Aiman. Kapok abis satu ronde operasi ligamen."
Anike lanjut tertawa, "Lagian bisa-bisa nya badan sekecil itu berharap jadi Dwayne Johnson, di Singapore pula..."
"Mungkin karena dulu Pacquaio masih aktif ya, jadi dia berharap bisa begitu juga." tanggapku seadanya.
"Aduh Kakak kebanyakan ketawa takut sakit perut." wajah Anike berseri-seri.
"So how's life, Rel?" pertanyaan mendadak dari Anike membuat aku hanya bisa bersungut.
"Not good." jawabku jujur dengan tatapan campur aduk.
"Mau dipeluk?" tawarnya kemudian. Anike memang selalu memposisikan diri sebagai seorang kakak besar, menganggap kami adik-adik yang perlu dikasihi.
"Gamau, udah gede. Malu." tolakku.
"Gak denger." Anike berpura-pura tak mendengar penolakanku dan meraihku ke dalam pelukannya.
Aku menggerutu kecil. Dengan hati yang hangat. "I hated it here... i want to disappear."
"Adek!" nada suara Anike agak meninggi, "Gak boleh ngomong begitu."
"Disini ada terlalu banyak kenangan, Kak." aku meraba-meraba kosong ke langit, "Aku capek hidup dalam kenangan."
"Aku rasa aku ga pernah padu sama lingkungan baru karena hidupku sebenarnya udah lama berhenti Kak." tawaku getir.
"Jangan ngomong begitu, Adekkk!" Anike memperingatiku tak suka, "Sini bilang, siapa yang jahat sama Adek?"
Hanya satu kalimat pertanyaan dari Anike tanpa sadar membuat kotak pandora dalam hati kecilku terbuka. "I'm tired of being nice, Kak."
Anike bertanya balik, "Be rude, be evil. Sejak kapan kita-kita pernah peduli orang nganggep kita apa?"
"Tapi semuanya sekarang udah ga sama Kak," aku menerawang ke ingatan lama, "Mungkin aku terlalu dimanja, jadi agak ga kuat tiba-tiba masuk ke lingkungan baru yang lebih kompleks. Kayaknya aku salah dalam menjalani hidup sejak awal, Kak."
"Siapa yang bilang begitu?" Anike mengelus pundakku, "Karel, 11 tahun bukan waktu yang singkat buat mengenal seseorang. Kakak ga pernah ngeliat kamu memanfaatkan kelebihan kamu untuk terlihat dalam hal yang buruk, jadi berhenti mikir begitu. Tempat barumu saja yang aneh, jangan selalu menganggap kamu yang salah atau kurang. Kamu ga pernah jadi orang yang kurang baik, Rel."
แ