Karakter yang paling “main character” di Captain Tsubasa itu bukan Tsubasa Ozora, tapi Genzo Wakabayashi.
Dia lahir dari keluarga berada, akses ada, fasilitas ada, bahkan punya akses ke Eropa dibanding yang lain. Tapi justru di situ tekanannya. Dia gak cuma dituntut jago, tapi harus selalu sempurna. Kebobolan dikit aja dia langsung ngerasa gagal total.
Sementara yang lain masih “jago di Jepang”, Wakabayashi udah cabut ke Jerman, lawan striker yang levelnya beda jauh dibanding temen-temennya di Jepang. Di Jerman dia gak selalu dominan, malah dipaksa adaptasi dan nerima kalau dia juga punya batas.
Belum lagi cedera yang bikin kariernya gak mulus. Jadi kerasa banget, ini karakter gak kebal apa-apa. Kaya kita-kita di dunia nyata. Sementara Tsubasa itu mimpi, terlalu fiktif, semuanya kayak jalan terus ke atas, grafiknya nyaris gak ada turunnya. seolah dunia emang diciptain buat dia. Sementara Wakabayashi lebih kayak realita, naik, turun, adapt lagi.
Makanya kadang gue ngerasa, kalau ini cerita mau lebih “jujur”, harusnya dia yang jadi pusat cerita. Tapi ya mungkin itu juga alasan dia bukan MC, karena ceritanya terlalu jujur buat sebuah anime yang jualan mimpi ke anak kecil.
#utdfocusid
Amerika Dipimpin oleh Orang 'Gila':
🔹 28 Februari: "Kita akan memulai operasi yang menentukan." "Ini akan sangat cepat."
🔹 2 Maret: "Kita akan menang dengan mudah."
🔹 3 Maret: "Kita telah memenangkan perang."
🔹 7 Maret: "Kita telah mengalahkan Iran."
🔹 9 Maret: "Kita perlu menyerang Iran." "Perang ini hampir sepenuhnya dan dengan sangat indah akan segera berakhir."
🔹 12 Maret: "Kita telah menang, tetapi kita belum sepenuhnya menang."
🔹 13 Maret: "Kita telah memenangkan perang."
🔹 14 Maret: "Tolong bantu kami."
🔹 15 Maret: "Jika Anda tidak membantu kami, saya pasti akan mengingatnya."
🔹 16 Maret: "Sebenarnya, kami sama sekali tidak membutuhkan bantuan." "Saya hanya memeriksa siapa yang mendengarkan saya." "Jika NATO tidak membantu, sesuatu yang sangat buruk akan terjadi pada mereka."
🔹 17 Maret: "Kami tidak membutuhkan bantuan NATO dan kami tidak menginginkannya." "Saya tidak membutuhkan persetujuan Kongres untuk menarik diri dari NATO."
🔹 18 Maret: "Sekutu harus bekerja sama untuk membuka Selat Hormuz."
🔹 19 Maret: "Sekutu AS harus mengumpulkan kekuatan dan membantu membuka Selat Hormuz."
🔹 20 Maret: "NATO itu pengecut." "Mungkin kita akan secara bertahap mengakhiri ini."
🔹 21 Maret: "Kami tidak menggunakannya, kami tidak perlu membukanya."
🔹 22 Maret: "Ini terakhir kalinya. Saya memberi Iran waktu 48 jam." "Iran sudah tamat."
🔹 23 Maret: "Kami memberi mereka lebih banyak waktu."
🔹 24 Maret: "Perang akan segera berakhir."
🔹 25 Maret: "Kami masih bernegosiasi."
🔹 26 Maret: "Iran memohon perdamaian." "Mereka telah memberi kita hadiah." "Kita menunda tindakan." "Kita memberi mereka lebih banyak waktu."
🔹 27 Maret: "Ayatollah dan saya akan bersama-sama mengelola Selat Hormuz."
🔹 28 Maret: "Telah terjadi perubahan rezim di Iran."
🔹 29 Maret: "Negosiasi dengan Iran berjalan sangat baik."
🔹 30 Maret: "Ancaman ledakan dan kehancuran total infrastruktur minyak dan energi Iran serta pendudukan Pulau Kharg."
🔹 31 Maret: "Kami siap mengakhiri perang tanpa membuka Selat Hormuz."
Kalau dipikir-pikir, perjalanan fans MU pasca era Sir Alex Ferguson tuh mirip ‘5 stages of grief’.
Awalnya denial: masih yakin ini cuma fase sementara, ‘nanti juga balik lagi kok’.
Lalu masuk anger: tiap dibanter dikit langsung panas, karena ekspektasi masih setinggi era kejayaan.
Ada juga fase bargaining: ‘kalau ganti pelatih’, ‘kalau beli pemain ini’, seolah ada satu solusi instan buat balik ke puncak.
Masuk ke depression: ketika sadar, realitanya nggak segampang itu. Harapan mulai turun, ekspektasi mulai realistis.
Dan akhirnya, acceptance. Di titik ini, lo tetap dukung, tapi dengan cara yang lebih santai. Dibanter? Ketawain aja. Nggak semua hal harus dimakan hati.
Walaupun ya… nggak semua fans sampai di fase terakhir ini. Ada yang masih stuck di anger, ada juga yang udah jadi apatis, dan itu semua valid 😅
Ini valid. Duit gue masih nyangkut dari klien plat merah 28 juta sejak tahun 2024 sampai sekarang belum dibayar 😭 PT gue jadi vendor salah satu project mereka.
Alasannya karena ada pergantian kebijakan dll jadi dananya ga cair.
Udah diviralin ga mempan karena banyak vendor lain yg jadi korban juga. Mau dibawa ke pengadilan juga nilainya cuma segitu. Malah boncos buat bayar lawyer
Cukup jadi pelajaran mahal buat ga ngambil project dari klien plat merah
Gue kemarin baca novel Crazy Rich Asians. Ada ucapan dari Eleanor Young yang nyantol di kepala:
Bahwa momentum itu lebih menentukan jadi/tidaknya sebuah hubungan ke pernikahan. Dari sekadar besaran rasa cinta itu sendiri.
Misal, pas sekolah / kuliah suka banget banget sama seseorang. Tp lu ga siap mental, pikiran, ekonomi, dsb. Pokoknya ga ready aja. Segimanapun berdua saling suka, kalau momentumnya ga pas, ya bisa aja bubar. Misal, pacaran tp jadi posesif atau suka berantem krn blm siap utk difficult conversation.
Tp kalo udh nemu momentumnya, misal udah stabil kerjaannya, udah lebih dewasa, dsb, maka lu bs aja nikah sama seseorang yang cinta-nya "just ok", ga harus menggebu2 kayak pas first love jaman muda dulu.
Dipompa 8.000 liter per detik selama 24 jam penuh tanpa henti..
Level airnya turun tapi hanya 11 menit setelah pompa dimatiin, airnya sudah balik ke posisi semula..
Ini bukan keajaiban tanpa penjelasan.
Jawabannya ada di bawah lembah Mekah.
Sumur zamzam dikelilingi lapisan pasir dan kerikil sedalam sekitar 13 meter seperti spons raksasa yang nyerap setiap tetes hujan.
Di bawahnya batu granit dengan ribuan retakan kecil bekerja seperti jaringan pipa alami.
Air dari pegunungan sekitar Mekah mengalir pelan melalui retakan itu langsung menuju sumur.
Kecepatan 11 menit itu bukan kebetulan.
Akuifer di bawah lembah Mekah berada di bawah tekanan konstan dari seluruh penjuru pegunungan.
Saat sumur dikosongin, perbedaan tekanan itu langsung dorong air masuk dari semua sisi sekaligus bukan dari satu arah aja.
Sumur ini bukan sekadar lubang berisi air. Ia ujung dari sistem tekanan yang bekerja 24 jam.
Sumur Zamzam adalah sistem pemanen air yang sempurna dan udah bekerja sejak zaman Nabi Ibrahim.
Mekah rata-rata hanya dapet 100mm hujan per tahun tapi sekalinya hujan, turun deres langsung.
Batuan granit dan pasir di lembah Wadi Ibrahim menangkap semuanya, menyimpannya di bawah tanah agar nggak nguap, lalu menyalurkannya pelan-pelan ke sumur.
Ribuan tahun selalu begitu nggak pernah berhenti.
Yang menarik bukan cuma fakta bahwa air Zamzam nggak pernah habis.
Tapi gimana alam bekerja atas izin Allah dengan presisi yang nggak butuh kita pahami dulu untuk bisa kita rasakan manfaatnya.
Ribuan tahun manusia minum dari sini tanpa tau mekanismenya dan saat sains bisa jelasin jawabannya justru makin bikin kagum.