WIB dan WIT ditulis dengan huruf kapital semua karena merupakan singkatan, gabungan huruf pertama tiap kata.
Wita ditulis dengan huruf awal kapital karena merupakan akronim.
Semalam nyalain AC pake mode dry 25⁰ (kondisi di luar hujan). Biasanya mau panas atau hujan AC kamar default di mode cool 25⁰. Trus tadi bangun sahur berasa kedinginan.
Pas googling baru tau ternyata mode dry pas ujan bikin kerasa lebih dingin, ga cuma ngurangin kelembapan.
@fajrek1 Nenek pernah bilang, " jangan sebab seseorang sudah tua lalu dianggap selalu benar karena telah melewati banyak hal dan kamu belum, Ndaru inget ya, orang bodoh bisa menua "
my beloved grandma,
Guys, ada foto yang menurut gue bicara lebih keras dari seribu pidato kenegaraan.
Di foto itu ada Lawrence Wong Perdana Menteri Singapura.
Dia tiba di Cebu untuk KTT ASEAN.
Naik Singapore Airlines.
Penerbangan komersial biasa.
Turun dari garbarata seperti penumpang biasa.
Tidak ada foto dramatis keluar dari pesawat karena memang tidak ada yang spesial untuk difoto dia cuma turun dari pesawat komersial layaknya orang normal.
Di hari yang sama Prabowo tiba di Cebu dengan pesawat kenegaraan.
Diiringi Hercules yang khusus membawa Maung
dan segala kebutuhan rombongan.
Konteksnya yang membuat ini makin menohok:
Singapura adalah salah satu kreditor terbesar Indonesia.
Utang Indonesia ke Singapura gabungan swasta, BUMN, dan berbagai instrumen lainnya mendekati Rp1.000 triliun.
Jadi analoginya begini:
ada orang yang punya utang ratusan miliar ke tetangganya.
Terus ada acara arisan di kompleks.
Si tetangga yang punya piutang ratusan miliar itu datang naik ojek santai, tidak perlu pamer.
Sementara si yang punya utang ratusan miliar datang naik Lexus dikawal Alphard dan Innova berjejer.
Itu bukan gaya hidup orang kaya.
Itu gaya hidup orang yang ingin terlihat kaya.
Dan bedanya sangat jauh.
Yang paling ironis:
Maung kendaraan yang dibawa dengan Hercules untuk dipamerkan di KTT ASEAN adalah mobil yang komponen lokalnya masih diperdebatkan.
Masih banyak bagian yang diimpor.
Masih jauh dari bisa disebut produk murni Indonesia.
Jadi kita membawa Hercules khusus untuk memamerkan mobil yang belum sepenuhnya Indonesia ke forum internasional sementara PM negara yang kita utangi hampir Rp1.000 triliun datang naik penerbangan komersial tanpa drama apapun.
Dan yang paling menyakitkan:
Prabowo dan Gerindra dulu adalah yang paling keras menyindir gaya pamer pemerintah sebelumnya.
Mereka yang paling lantang bicara soal efisiensi, kesederhanaan, dan tidak menghamburkan uang negara untuk gengsi.
Hari ini tidak ada yang bisa menjelaskan dengan muka lurus kenapa PM negara sekaya Singapura cukup naik SQ komersial,
sementara Indonesia yang defisit anggarannya Rp240 triliun di Q1 2026 saja merasa perlu membawa Hercules untuk urusan protokoler kenegaraan.
Kesederhanaan bukan tanda kelemahan.
Lawrence Wong tidak terlihat lemah dengan naik penerbangan komersial.
Justru sebaliknya dia terlihat seperti pemimpin yang tahu bahwa uang negara bukan untuk membiayai penampilan.
Sementara kita dengan segala tekanan fiskal, rupiah yang tertekan, dan defisit yang melebar masih merasa perlu membuktikan sesuatu dengan cara yang justru memperlihatkan ketidakamanan kita sendiri.
Bangsa yang benar-benar besar
tidak perlu selalu terlihat besar.
Bangsa yang benar-benar percaya diri tidak perlu membawa Hercules untuk membuktikannya.
@glennmars setujuu.
waktunya luang jd main hp terus, ga bisa ngerem.
semua yg di medsos gampang ditelan bulat2.
apa2 dishare di grup, misalnya konten2 viral tentang kesehatan padahal dari akun bodong atau bukan akun nakes.
wahhh pusingg
@merapi_uncover Gk ono hubungane awan dgn gempa, min.
Yuk belajar lagi nama-nama awan.
Yang lurus biasanya disebut "Cirrus", biasanya lurus krn arus angin sangat kencang (dalam satu arah) di atmosfer atas.
Ketika kamu berubah, gak kayak biasanya, bahkan orang yg bikin kamu berubah, dia cenderung langsung tau kamu berubah. Sayangnya, seringkali dia gak langsung tau apa yg telah dia lakukan yg bikin kamu berubah.
Orang lbh lihai ngawasi orang lain drpd ngawasi diri sendiri.
They didn’t destroy any forests.
But within minutes, their house was destroyed by a mix of floods, mud, and logging debris.
There were no more forests on the hills.
Deforestation had destroyed their childhood. “I have no home anymore,” he whispered.
Sumatra, 2025 -