Enakan nikah dipestain mewah gede gedean sama mertua, pulang ke rumah yang dibeliin mertua pake mobil yang dibeliin mertua juga.
Gausah romantisasi nikah di KUA dengan narasi mendiskreditkan nikah mewah.
Gapapa nikah mewah, gapapa nikah di KUA.
Gapapa tinggal sendiri, gapapa juga tinggal sama mertua.
Yang ga boleh banding bandingin orang lain sama kehidupan kita.
- Ga bisa menangani bencana Sumatra? Dibelain.
- Keluar negeri terus? Dibelain.
- Kurban pakai APBN? Dibelain.
- Rupiah melemah? Dibelain.
- BBM naik? Dibelain.
- Harga kebutuhan pokok naik? Dibelain.
- PHK massal terjadi? Dibelain.
- Daya beli masyarakat turun? Dibelain.
- Utang negara bertambah? Dibelain.
- Pajak dinaikkan? Dibelain.
- Defisit melebar? Dibelain.
- IHSG anjlok? Dibelain.
- Lapangan kerja seret? Dibelain.
- Investasi mandek? Dibelain.
- Harga beras naik? Dibelain.
- Harga listrik naik? Dibelain.
- Program kontroversial jalan terus? Dibelain.
- Pejabat bikin pernyataan blunder? Dibelain.
- Kritik publik diabaikan? Dibelain.
- Demonstrasi mahasiswa diremehkan? Dibelain.
- Janji kampanye belum terealisasi? Dibelain.
- Menteri bermasalah dipertahankan? Dibelain.
- Kabinet gemuk? Dibelain.
- Anggaran membengkak? Dibelain.
- Kepercayaan pasar turun? Dibelain.
- Rating pemerintah turun? Dibelain.
- Apa pun yang terjadi: Dibelain.
Siapa pun yang mengkritik:
Disalahin.
Sesuci itu kah sosok yg pernah ada ISU HAM ini di mata kalian?
Ingat guys, bedanya demo bayaran sama demo organik :
> Gambar kiri. Bayaran, demo di UGM kemaren
> muka ditutup, malu-malu
> Kok ditutup? lo masuk TV jadi pengedar baso boraks?
> Nah, gambar kanan organik, demo hari ini di Jakarta
> gak malu-malu
> Pede, ngomong berbobot, gak takut mukanya tampil
Terima kasih mahasiswa-mahasiswa yg udah turun ke jalan hari ini. Semoga wowok dengerin (susah sih ini, udah disaring buna duluan infonya pasti)
Paling yg nyampe telinga owo gini :
"aman pak, demo berjalan tertib, masa terkendali, gak ada macet. Merek udah menyampaikan aspirasi dengan baik"
“Ngapain demo sih, bikin macet doang.”
Eh kimak!!! Gegara ada orang-orang yang mau turun ke jalan, lu bisa nikmatin hari libur, THR, upah minimum, hak cuti, hak pekerja sampai kebijakan yang direvisi gara-gara tekanan publik dan banyak hak lain yang sekarang dianggap biasa. Banyak hasil yang lu nikmatin tanpa harus ikut kepanasan, teriak-teriak, atau ribut sama aparat di jalan. Jadi mending mingkem kata pocong. Nyepongin pemerintah juga jangan bego amat. Kritik itu bukan makar, demo itu bukan dosa. Lucu aja, tiap ada yang protes dibilang bikin macet. Lah kalau dulu semua orang nurut dan diem, mungkin banyak hak yang sekarang lu nikmatin nggak bakal ada. Demo memang bikin macet jalan. Tapi yang lebih bikin sesak itu mental budak yang nganggep pemerintah selalu benar dan rakyat harus selalu diam. Pantex.
Lucu rasanya. Pasukan lengkap TNI-Polisi dikerahkan untuk menghadang barisan orang muda tanpa senjata yang hendak menyuarakan haknya. Mengingat berkali-kali menyaksikan negara begitu “softspoken” sama penjahat perang macam Trump dan Netanyahu. Tapi berlaga sangat galak kepada rakyatnya sendiri. Republik anomali