coba tanamkan mindset ini;
apapun di dunia ini yang bikin kamu kecewa dan sakit hati, berpikirlah bahwa mereka hanyalah alat Tuhan yang sengaja dikirim untuk jadi ujian kamu, Tuhan sengaja menunggu respon kamu untuk membedakan kualitas dirimu dengan hamba yang lain.
Guru saya pernah bilang...
"Saat kamu di luar jam kerjamu, tinggalkan posisimu, jabatanmu, dan gajimu.”
Dulu aku cuma manggut-manggut. Tapi makin kesini, aku ngerti maksudnya.
Di luar kerja, orang gak butuh tau kamu manager, supervisor, atau punya gaji dua digit.
Bergaullah tanpa seragam. Bersikaplah tanpa pangkat.
Justru di situ kerendahan hati diuji.
Kadang yang bikin orang nyaman bukan ilmu kita, tapi rendahnya nada bicara. Tidak menggurui, tidak pula meninggi.
nyatanya kita tidak benar-benar pulih dengan hal seberat itu,kita hanya berusaha menutupi dan berusaha menjalani kehidupan selanjutnya sebagaimana mestinya
awal mula orang bisa merasakan ketenangan dalam dirinya ialah ketika ia bisa memandang dirinya dan memandang orang lain tanpa melekatkan titel yang sedang membersamainya – manusia
melihat org2 diwisuda,entah mngpa yg muncul bkn rasa iri,tp takut—takut pada diri sendiri.
bgmn jikalau giliranku tiba,dielu2kan dgn ucapan “Masyaallah,mabruk ats gelar LC-nya”
Namun di balik it,ak masih memilih-milih dlm berbuat, masih acuh thd amanah yang semestinya kujalankan
ga semua orang kuat ternyata ya haha
awal aja sok-sok an "i can handle it, don't worry."
ternyata hal itu memang menguatkan diri, tapi didalam tetap ada satu titik kerapuhan.
“Jika kamu mengerjakan dosa, maka selama kamu bersungguh untuk bertaubat, meskipun kamu terus mengulanginya, maka Allah akan melihat kesungguhanmu dan kemudian membebaskanmu darinya.”
(Sayyidil Habib Umar bin Hafidz)
sometimes:
🙎🏻♂️:kang,kenapa ya masisir kalau punya duit kok bisnis ga jauh-jauh dari yang sudah ada (mat'am,bagasi,dll)
🤡:yaa karena pengetahuan mereka cuman itu doang, they only know what’s around them and never try to survive or adapt beyond that.
pernah di fase merasa gagal menjadi anak pertama; pendidikan berantakan, karir berantakan, perasaan berantakan, kondisi orang tua jauh, lucid dream berturut-turut, hingga pada akhirnya orang tua berkata "yasudah jalani saja, ambil keputusan dengan resiko terkecil menurutmu."