“Aku… menangis… bukan karena itu.” Semakin lama suaranya terdengar semakin samar. Sora menggigit bibir selagi tangannya mengusap pelipis. Sial, ia tidak akan lagi-lagi menangis sembarangan seperti itu, batinnya.
“Ganti rugi?” Kini ia yang balik bingung dengan ucapan si tuan. —
terasa jauh lebih baik. Pikirannya pun juga sudah cukup lebih tenang, namun kecanggungan mulai menyelimuti dirinya. Sebab itu untuk beberapa saat ia memilih bungkam.
“Itu…” Sora menarik napas dalam-dalam. “Maafkan aku jadi merepotkan.”
|| @parksejoonim
@parksejoonim Sedikit ragu-ragu, ia meraih botol air yang diberikan oleh pemuda itu. Choi Sora membungkuk kecil, bibirnya menggumamkan ucapan terima kasih yang samar, mungkin juga tidak dapat didengar oleh lawan bicaranya.
Sang puan meneguk air tersebut dan dapat merasakan tenggorakannya —
terlontar dari mulutnya menjadi tidak jelas. Belum lagi kini ia berusaha menarik lengan bajunya untuk menyeka sisa air mata dan hidungnya yang telah dipenuhi cairan.
|| @parksejoonim
Choi Sora mengangkat kepalanya dan menatap lelaki itu, ia kembali menunduk.
Sepertinya puan itu telah dihantam realita, karena kini, ia malu bukan kepalang.
“Itu, ah, maaf… maksudku, aku bukan…”
Perpaduan rasa malu, gugup serta sisa tangis membuat kalimat yang —
“Hah…apa-apaan…” dengusnya sembari menyeka cairan bening tersebut. Tak membuat hal itu berhenti, nyatanya air mata Sora malah semakin menggenangi pelupuk matanya, pun membasahi pipi gadis itu.
Untuk saat ini, yang ia butuhkan hanyalah udara segar.
Choi Sora berjalan tanpa tujuan. Derap langkahnya yang cepat membuatnya seolah-olah memancarkan aura mencekam.
Kemarahan yang tadi ia telan bulat-bulat, tampaknya kini dapat ia muntahkan kapan saja, kepada siapa saja.