"Ketika Tubuh Perempuan Menjadi Milik Publik"
Ada sesuatu yang aneh dalam cara masyarakat memperlakukan tubuh perempuan. Seorang perempuan mengenakan pakaian tertutup, ia disebut kolot, kuno, tidak menarik, atau terlalu menjaga diri. Seorang perempuan mengenakan pakaian terbuka, ia disebut murahan, penggoda, tidak bermoral, atau bahkan dianggap "meminta" perlakuan tertentu. Masalahnya, kedua penilaian itu sering datang dari masyarakat yang sama.
Inilah paradoks yang ditunjukkan oleh ilustrasi ini. Pada satu sisi terdapat label "prude" dan "old fashioned". Pada sisi lain terdapat label "slut", "whore", dan "asking for it". Kaki perempuan itu berdiri di atas seluruh spektrum penghakiman tersebut, seolah menunjukkan bahwa di mana pun ia berpijak, selalu ada vonis yang menunggunya.
Perempuan tidak sedang diberi pilihan. Perempuan sedang ditempatkan dalam permainan yang aturannya dibuat agar mereka selalu kalah.
Selama berabad-abad, tubuh perempuan tidak pernah benar-benar dianggap milik perempuan itu sendiri. Ia menjadi medan perebutan berbagai kepentingan sosial, moral, agama, budaya, dan politik.
Masyarakat merasa berhak mengomentari panjang rok perempuan.
Negara merasa berhak mengatur cara berpakaian perempuan.
Kelompok agama merasa berhak menentukan standar kesopanan perempuan.
Media merasa berhak menjual citra tubuh perempuan.
Laki-laki merasa berhak menilai tubuh perempuan.
Semua orang berbicara tentang perempuan.
Sedikit yang benar-benar mendengarkan perempuan. Tubuh perempuan akhirnya berubah menjadi ruang publik yang bisa dikomentari siapa saja.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah keyakinan bahwa karakter seseorang dapat dibaca dari penampilannya.
Perempuan berjilbab dianggap saleh.
Perempuan berpakaian terbuka dianggap tidak bermoral. Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa moralitas tidak pernah bisa diukur dari kain. Tidak ada hubungan logis antara panjang pakaian dan kualitas karakter. Kebajikan bukan persoalan estetika. Kejujuran tidak memiliki seragam. Empati tidak mempunyai dress code.
Seseorang bisa tampak sangat religius sekaligus melakukan kekerasan. Seseorang bisa berpakaian sangat terbuka sekaligus memiliki integritas yang tinggi.
Namun masyarakat sering memilih jalan pintas intelektual: menghakimi penampilan karena lebih mudah daripada memahami manusia.
Label "asking for it" dalam gambar tersebut mungkin merupakan bagian paling berbahaya. Kalimat itu mengandung asumsi bahwa perempuan ikut bertanggung jawab atas kekerasan yang menimpa dirinya karena cara ia berpakaian. Logika semacam ini tidak hanya keliru, tetapi juga berbahaya. Ia memindahkan perhatian dari pelaku kepada korban.
Alih-alih bertanya mengapa seseorang melakukan kekerasan, masyarakat justru bertanya mengapa korban berpakaian seperti itu.
Alih-alih mengendalikan agresi laki-laki, masyarakat berusaha mengendalikan tubuh perempuan.
Dalam praktiknya, budaya semacam ini tidak pernah benar-benar melindungi perempuan. Ia hanya mengajarkan perempuan untuk merasa bersalah atas tindakan orang lain.
Feminisme pada dasarnya bukan soal memaksa semua perempuan berpakaian terbuka atau tertutup. Feminisme bukan kultus pakaian. Feminisme adalah pengakuan bahwa perempuan adalah subjek yang memiliki otonomi atas tubuh dan hidupnya sendiri.
Hakikat perjuangan feminis bukanlah soal rok, jilbab, celana pendek, atau lipstik. Hakikatnya adalah pertanyaan yang jauh lebih mendasar:
Mengapa nilai seorang perempuan begitu sering ditentukan oleh penampilan tubuhnya, sementara nilai seorang laki-laki lebih sering ditentukan oleh tindakan dan pikirannya?
Selama pertanyaan itu belum terjawab, perjuangan feminisme tetap relevan. Karena masalah sebenarnya tidak pernah terletak pada pakaian yang dikenakan perempuan.
Masalahnya terletak pada masyarakat yang masih melihat perempuan terlebih dahulu sebagai tubuh yang harus dinilai, sebelum melihatnya sebagai manusia yang harus dihormati.
girls can like boys
boys can like girls
girls can like girls
boys can like boys
girls can like both
boys can like both
girls can like neither
boys can like neither
and it will NOT affect you. stop being so hateful.