Hari ini, tak terasa Minggu lagi. Tepat sebulan yang lalu mamak pergi. Kepergian mamak seolah rumah kehilangan pintunya—aku masih tahu jalan untuk pulang, tetapi tak lagi menemukan seseorang yang menungguku di dalamnya.
Akhirnya selesai beberes lemari mamak 🥺🥺
Beberapa amplop, surat-surat, macam-macam kertas, pernak pernik dan tulisan-tulisan tangannya yang pernah mamak simpan dulu.
Mak, akhirnya apa yang aku takutkan selama ini, benar. Akhirnya kau pergi meninggalkan kami semua. Biasanya aku memikirkan saja airmata seketika jatuh. Dan sekarang nyata. Bakal akan ada berjuta-juta tetes mata.
Ternyata Allah yang lebih sayang engkau, mak. Dibanding kami semua
Mungkin suatu hari aku akan belajar melepaskan, namun hingga detik ini, setiap jalan pulang masih berakhir pada bayanganmu. Jika cinta memiliki rumah, barangkali rumah itu tetap kamu —meski pintunya tak pernah lagi terbuka untukku. ꫝ
Sudah sepuluh tahun aku mencintaimu. Waktu telah mengganti musim berkali-kali, tetapi namamu tetap tinggal di ruang paling sunyi dalam dadaku. Aku bertanya pada malam yang tak pernah menjawab: apakah cintaku memang ditakdirkan untukmu selamanya? ꫝ
Setiap kali aku melihat wajahnya. Begitu teduhnya. Begitu sangat damai.
Ingin rasanya aku mengatakan padanya saat itu, "𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶. 𝘚𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪". Tapi aku takut. Takut dia terkejut dan pergi.
Tanpa pernah lagi kembali. ꫝ
Mimpiku pagi ini, sungguh jadi hal yang paling aku impikan sampai saat ini. Hal yang tak tertuga. Akhirnya aku mendapatkan sesuatu yang aku mau selama ini, tentu dengan mudahnya.
Andai, ini bukan mimpi. ꫝ
Pagi itu, sebelum pergi, dia menoleh padaku dan berpamitan. Pantas, pagi ini cerah dengan burung-burung yang berterbangan mengiri kebahagiaanku. Sungguh kau tahu apa yang membuatku tersipu malu. ꫝ
Kue-kue pagi tadi jadi rebutan beberapanya jadi saksi di atas meja sarapan sepiring nasi melihat aku dengannya bersebelah tidak saling tatapan, tapi saling bertukar cerita. Membayangkan hal-hal indah di sepanjang jalanan Rabu pagi yang terik.
Oh bahagianya.
This July 9ᵗʰ, tepat di hari ini aku merayakan kembali 178 hari kau kembali ke rumahku.
Kita kembali mengenang masa lalu itu.
Mencoba untuk biasa saja; namun seakan bibirmu begitu dekat dengan pipiku.
𝑨𝒏𝒅𝒂𝒊 𝒔𝒂𝒋𝒂 𝒊𝒃𝒍𝒊𝒔 𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒏𝒅𝒐𝒓𝒐𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂𝒌𝒖
sungai ini ibaratnya dirimu. senja yang jingga di sana layaknya wajahmu.
jika aku tak mampu ke rumahmu untuk melihatmu, setidaknya aku masih bisa ke dermaga ini melihat sungai dan matahari terbenam dan kubayangkan saja wajahmu. ꫝ
if our meeting was only because of money, it doesn't matter to me. The important this is, i can meet you today. the day i look forward to meeting you. ꫝ