-star
Fans Twice di konser Japan national stadium nge-connect lightstick gk asal otomatis connect tapi input seat number juga. Semua pada taat. Jadi gokil satisfying gini pola cahayanya.
Adulting advice??? Use your weekend to go out, treat yourself and enjoy being alone. Learn how to make yourself enough for you without needing someone by your side. Make yourself your one and only partner that no matter what will always be there for you.
KEBIASAAN KECIL RUMAH TANGGA YANG DIAM DIAM BIKIN DOMPET BONCOR🔥
1. Beli bumbu & bahan kering eceran tiap masak di minimarket. Harusnya beli grosiran bulanan. Selisih harga bisa 30–40% lebih murah, kualitas sama persis.
2. Belanja sayur & lauk di supermarket bukan pasar pagi. Harga pasar bisa 30–50% lebih murah untuk bahan yang sama-sama segar.
3. Cuci pakaian setengah mesin hampir tiap hari. Sekali cuci penuh = hemat air, listrik & deterjen. Hasilnya sama, biayanya setengahnya.
4. Bayar tagihan listrik & air mepet deadline lalu kena denda. Kecil terasa, tapi dalam setahun bisa ratusan ribu yang percuma keluar.
5. Buang sisa makanan & sayur layu yang harusnya bisa diolah jadi frozen meal. Rata-rata rumah tangga buang Rp300–500rb/bulan dari makanan terbuang.
6. Memilih pemimpin yang salah.
Tukang ngutang, masuk gorong gorong, islamofobia, melahirkan anak haram korupsi dan berlanjut penyakit dimensia, racuni anak anak, sahabatan sama zionist, hobi teriak teriak gak jelas "HIDUP... JOK.... <silahkan disambung sendiri, amin masih punya dedek kecil>
Kalian pernah ga batuk pilek terus2an selama musim hujan ini? Udah minum obat sembuh, eh minggu depan kumat lagi.
Pasti mikirnya ketularan temen sekolah/kerha, jajan sembarangan atau es terooossss.
Padahal bisa jadi biang keroknya ada disekitar kalian, Apa itu ?
Jangan terus lari dari bosan.
Kamu gampang bosan sama pekerjaanmu, dengan pasanganmu?
Skill penting sekarang ini skill “betah bosan”. Kalo kata profesor Harvard, Arthur Brooks: You need to be bored.
Sekarang ini, bosan dikit, langsung buka hp. Nunggu beberapa detik, langsung buka hp. Bahkan di dalam lift, sekarang ada distraksi, ada video atau audio.
Kita jadi terus berada di “doing mode”, sangat kurang “being mode.”
Daniel Gilbert di departemen Psikologi di Harvard, bikin eksperimen. Orang di dalam ruangan, diminta nggak melakukan apapun, hanya ada sebuah tombol yang bisa ditekan. Tapi kalau ditekan, dia kena kejutan listrik yang lumayan sakit. Jadi bosan atau kena kejutan listrik. Hasilnya? Sebagian besar peserta eksperimen milih memberikan kejutan pada diri sendiri daripada bosan.
Kita nggak suka bosan. Padahal kita perlu bosan. Kenapa?
Karena pada saat kita bosan, maka kita gunain bagian otak yang disebut default mode network. Iya, nggak nyaman, pikiran akan mengembara, akan muncul ingatan yang selama ini kita ingin lupakan, muncul pertanyaan yang ganggu: Kapan aku sukses? Kapan aku nikah, punya anak? Sampai pertanyaan eksistensial: Apa arti hidupku?
Dan di “being mode” gitu ternyata baik buat kita. Kita menemui diri sendiri, kita hanya menyadari semua pikiran dan pertanyaan itu, hanya jadi sang penyaksi tanpa berusaha menjawab pertanyaan itu.
Salah satu penyebab ledakan depresi dan kecemasan sekarang ini adalah karena banyak orang sebenarnya kekurangan momen “being mode”. Default mode network di otak kita jarang banget aktif.
Iya, bosan itu nggak nyaman. Tapi kita perlu melatih diri betah bosan.
Kalo bosan dikit, temenin rasa bosan itu, jangan lari. Kalo nunggu, ya hanya diem nunggu aja. Di momen tertentu, just be, sekadar hadir.
Sehingga kamu jadi gak gampang bosan juga dengan berbagai hal di hidupmu, kamu jadi gak gampang bosan sama pekerjaanmu, kamu jadi gak gampang bosan sama pasanganmu.
Some people are just living. They’re not dating anyone. No crush. They scroll from app to app with no one to talk to. They go to work, come back home, eat, sleep, and go to work again the next day.
Krisis Kencan di China: Kenapa Cowok China Pada Nyerah Pacaran dan Bikin Cewek Panik?
Bayangkan kamu datang ke acara *speed dating* dan menemukan 50 wanita berebut perhatian 1 pria saja. Rasio yang kayaknya impossible, tapi nyatanya ini yang terjadi di banyak kota di China sekarang.
Crazy? Absolutely. Sayangnya, ini realitas pahit yang terjadi di China saat ini.
Dan juga terjadi di Indonesia belakangan ini.
Yoi. Fans k-pop di Indonesia ini sering melakukan apa yg disebut dlm ekonomi digital sbg unpaid labor alias buruh gratisan.
Mereka berpromosi gratis, menerjemahkan konten, sampai2 mau2nya melakukan pembelaan masif kpd idolanya di media sosial.
Tp dr POV ekonomi industri Korea, fans k-pop Indonesia ini cuma angka2 yg bisa dieksploitasi. Mereka dipandang sbg sekelompok manusia2 yg cuma berguna dlm efisiensi biaya pemasaran.
Nah, ketika suatu massa fans K-Pop Indonesia cuma dianggap sbg angka untuk mendongkrak popularitas, industri kreatif Korea memanfaatkan hasil eksposur fans Indonesia tsb agar bisa menjual artis2nya dgn harga lebih mahal ke pasar Amerika dan Eropa.
Dlm konteks sosiologi-ekonomi, ketika seseorang memberikan tenaga secara cuma2 demi keuntungan pihak lain yang sudah kaya, posisi orang tersebut dalam hierarki ekonomi dianggap golongan yg sangat rendah, mudah dimanfaatkan, mudah diekploitasi, mudah dikibuli.
Tak heran kalau sebagian masyararat Korea dgn enteng menyebut fans k-pop Indonesia-yg sebetulnya telah berkontribusi luar biasa dlm pasar volume negaranya- nggak lebih dari monyet belaka.
Ironis.
HP Android lo bukan lemot karena tua dan udah waktunya diganti.
Samsung, Xiaomi, Oppo, mereka install 30+ app sampah dari pabrik. Gak bisa di-delete.
Jalan terus di belakang. Makan RAM. Makan baterai.
Lo pikir HP lo udah waktunya ganti. Padahal belum.
Gue bikin Redmi Note 10 yang udah 3 tahun kerasa kayak baru lagi pake cara simpel ini:
Having a job and living alone is such a crazy combo. You go home, shower, eat, scroll through your phone, and stay silent until you talk to someone at work the next day.
Guru honorer tadinya pada happy dijadikan guru ASN PPPK Paruh Waktu. Pas liat SK, gajinya lebih rendah dari waktu dia honorer. Trus liat berita pegawai SPPG yang dapurnya tiba-tiba ada, pegawainya jadi ASN PPPK dengan gaji standar layak tanpa harus nangis-nangis di DPR, dan dengerin janji Presiden tiap pidato hari guru. MemBaGongkan.
Millennials and Gen Zs are raising terrible children.
I know it sounds harsh. But let’s talk about it honestly.
Most millennials like myself were raised by the community.
Neighbors watched you. Family friends corrected you. Any adult on the street could discipline you.
If you misbehaved outside, you got disciplined on the spot. Then you were walked home. And your parents will be angry the adult did not do more.
There was accountability. There were repercussions. There was fear. Not fear of abuse, but fear of shame and consequences for our actions.
You knew someone was always watching. Our parents didn’t even need to be present.
Agree, some of us still turned out really terrible, and made a mess of our lives.
But that system really worked.
It taught respect. It taught boundaries. It taught us accountability. It taught us that the world did not revolve around us.
Now look at how many of us raise kids today.
Teachers are not allowed to discipline children. Neighbors must “mind their business.” Strangers dare not correct bad behavior in public.
Parents now defend bad behavior instead of correcting it. Some even go to schools to fight teachers.
Children bully classmates. Disrespect authority. Disrupt classrooms.
And parents call it “expression” or “trauma” or as Bovi puts it: “my son has anger issues”.
The communal parenting that raised functional adults is gone. In its place is hyper-protective, Gen Z–centric parenting.
What happens to a society where children are never corrected by anyone? I have often wondered.