Febiola Br Purba, 16 tahun, adalah siswi berprestasi dan wakil ketua OSIS di SMK Swasta Bersama Berastagi, Karo, Sumatera Utara.
Sejak 13 Agustus 2026, Febiola sudah dirawat di lima rumah sakit krn keracunan MBG. Awalnya dia dirawat di RS Kabanjahe, RS Efarina, RS Haji Medan, RSUP Adam Malik, lalu RS Amanda, Karo.
Menurut dokter, perawatan Febiola tidak sebentar. Dia harus menjalani perawatan selama setahun penuh, seminggu sekali harus dievaluasi.
Ayah Febiola, Icuk, mengatakan kondisi putrinya saat ini seperti anak usia 3 tahun. Febiola tdk mengenali teman sekelas, guru, bahkan adik kandungnya sendiri.
Untuk memenuhi kebutuhan pengobatan, Icuk dan keluarga harus membeli susu khusus dua kali seminggu dgn harga Rp180.000 per sekali beli.
Selain itu, makanan dan vitaminnya juga harus dijaga sesuai anjuran dokter. Keluarga Febiola harus menjebol tabungan Rp3,5 juta untuk biaya pengobatan Febiola. Jumlah yang tak kecil bagi Icuk dan keluarga.
Febiola Br Purba adalah gambaran nyata betapa rakyat sangat menderita akibat kebijakan ngawur dan kegagalan sistemik. Febiola tdk boleh dianggap cuma angka atau bagian dari statistik semata.
Sebab ada masa depan seorang anak muda yang kabur, ada beban emosional keluarga, ada impian yg tiba2 terhenti.
Negara apa ini? Kok tega betul menyengsarakan rakyatnya..
https://t.co/ecIlrvfwR8
Aktor intelektual tidak terungkap, aktor lapangan tidak jadi dipecat.
Setelah ini, siapapun bisa mengalami ini, disiram air keras, diteror, dibunuh, para pelakunya dilindungi negara.
CERITA PILU DI BALIK PENYELAMATAN SAMPURNA
Individu orangutan Kalimantan menjadi sorotan nasional hingga mancanegara, di tengah kebakaran hutan yang melanda Borneo.
Sampurna namanya, ditemukan terkapar tak berdaya di area perkebunan sawit oleh seorang petani di Ketapang, Kalimantan Barat.
Setelah menerima informasi, tim BKSDA Kalimantan Barat beserta Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dan tim dokter langsung bergerak mengevakuasi.
Ada cerita memilukan di balik penyelamatan Sampurna. Orangutan berusia 20 tahun itu diduga terpaksa lari menyelamatkan diri ke perkebunan sawit yang bukan merupakan habitat aslinya.
Saat ditemukan, mulutnya penuh tanah usai mengais-ngais parit demi mendapatkan air. Namun usahanya gagal karena parit yang mengering sampai akhirnya Sampurna harus tumbang.
Rumahnya di hutan mungkin habis terbakar. Keluarga serta kawanannya, entah bagaimana nasibnya. Tapi dari kisah Sampurna, semua harus belajar bahwa kebakaran hutan, apalagi yang disengaja, menjadi bencana bagi semua makhluk.
Manusia boleh berkuasa di atas bumi, tapi jangan hilangkan hak setiap makhluk untuk hidup, memiliki rumah, dan bernapas dengan tenang.
Apresiasi sebesar-besarnya untuk BKSDA, YIARI, tim dokter, dan orang-orang yang terlibat dalam penyelamatan Sampurna. Juga untuk teman-teman yang saat ini masih berjuang keras memadamkan api.
Serta untuk masyarakat di Kalimantan, Sumatera, Papua, NTT, dan daerah-daerah lain yang sedang menghadapi bencana, semoga senantiasa berada di bawah perlindungan Tuhan.
Sumber video: Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI)