@retsidivis memutar bola mata. “dasar.” lirih menggerutu, tak pelak menggerus jarak diantara paras. singkat cium diberi. namun tak lama, diri kembali menempel bibir ranum yang lantas lamat membuka, memberi celah ‘tuk dikelana.
@retsidivis manik menjatuh tatap ‘tuk menelisik perubahan mimik kesayangan. baik, tiada yang ganjil. dinan merangkai senyum manis dan lantas membubuh kecup ringan di pipi kekasih. “pacarku baik banget.” seringainya dengan semu di cekung pipi. “sekarang mana ciuman sambil gendongan itu?”
@retsidivis mata menyipit penuh ragu. “nggak lebih dari itu, kan?” kembali melontar tanya, sedang kuasa telah menyender apik di pundak tuan. “biasanya kamu kan tidak puas dengan pelukan semalaman saja.”
@retsidivis telunjuk menyentuh ringan pucuk hidung tuan. “aku kasih cium basah.” semata omongan, seperti biasa. niat hanya sedikit adanya. “nggak boleh ada yang naksir pacarku, kecuali aku.”
@retsidivis “kamu mending angkat aku yang lagi main barbel.” jejari digiring menuju pipi tuan yang serta-merta dicubitnya. “nggak boleh.” merengut, membayangkan beragam mata yang memandangi kekasihnya tak pelak membuatnya gerah. cemburu? mungkin. “nanti kalau ada yang naksir kamu gimana?”