Saya tidak punya kepentingan membela Anies (saya 03), tapi konteksnya memang berbeda.
Anies adalah aktor politik.
Bertemu, ngobrol, bahkan berfoto dengan lawan politik masih masuk dalam fungsi dan bahasa politik.
Publik sudah membaca dia sebagai orang yang bermain di arena itu.
Sebaliknya, Pancatera membawa posisi editorial dan identitas moral tertentu.
Di saat brand yang dibangun dari kritik sosial, independensi, dan keberpihakan pada isu tertentu, kedekatan simbolik dengan kekuasaan otomatis dibaca dengan standar berbeda.
Yang dipertaruhkan itu tidak hanya “boleh foto dengan siapa” saja, tapi konsistensi antara positioning yang dijual ke audiens dengan signalling yang ditampilkan ke publik.
Kalau kita membandingkan keduanya hanya dari tindakan “sama-sama foto”, maka kita sudah mengabaikan variabel paling penting:
siapa aktornya, dalam kapasitas apa dia hadir, dan ekspektasi apa yang selama ini dia bangun kepada publik.
Demikian.
Skakmat buat pidato Istana di MPR! Rieke PDIP sentil keras: sebagus apa pun 'Pedoman Kabinet', kalau basis datanya ngasal, yang lahir cuma anggaran fiktif & korupsi. Jargon evidence-based policy tapi data PDB & kemiskinan difabrikasi demi pencitraan.
Video : kompas tv