PLAK.
Bunyinya nyaring membelah senyap, tetapi Bryan tak bergeming.
Tamparan Evelyn memang tak pernah sungguh-sungguh kuat. Bahkan kali ini pun sama sekali tidak. Telapak itu lebih sarat luka hati daripada tenaga; sekadar satu-satunya bahasa yang tersisa ketika kata-kata telah kelewat remuk untuk diucapkan.
Evelyn berbalik.
Langkahnya lunglai ketika memilih menjauh, membawa tangisnya pergi tanpa sekali pun menoleh lagi.
Geram. Barangkali hanya itu nama yang paling pantas bagi apa yang bergolak dalam diri Bryan. Bukan murka yang membabi buta, terlebih benci. Hanya saja, lidah memang kerap lebih pandai berlaku bengis daripada hati yang sesungguhnya masih menyimpan sayang.
βAku memang gak pernah jadi prioritas kamu, Eve.β
β βDi situasi begini mana boleh kita mencarββ
βYa aku kan khawatir!β
Ucapan itu memotong kalimat Bryan.
Evelyn mengerucutkan bibir, menahan perih, tetapi matanya tetap berbinar menatap pria itu. Bryan hanya mengernyitkan dahi, terlalu keras kepala untuk memperlihatkan reaksinya.