my ex used the silent treatment as punishment. He knew how bad my anxiety got & would ghost me for days on purpose. Now when anyone takes too long to text back, my brain goes straight to panic. This is what people mean when abuse doesn’t end when the relationship does.
one thing... I CAN NOT STAND.... is being ignored. if you're busy, say so. if you are not in the mood to talk, say so. if you are done with me, SAY SO. COMMUNICATE.
jangan jadi penyebab orang tak makan, jangan jadi penyebab orang menangis, jangan jadi penyebab orang jadi diam, jangan pernah jadi alasan orang berdoa sambil nangis
when lu tau lu punya potensi yang gede banget. tapi udah ga punya ambisi lagi karena energi lu udah abis cuma buat bertahan di survival mode instead of growing
Ga bermaksud nakut-nakutin, tapi kalian harus tau fakta-fakta berikut:
1. Gubernur BI mundur
2. Rupiah kembali tembus 18k
3. MBG dan Kopdes terus"an menggerus APBN
4. Minyak dunia menuju 120 dollar per barel
5. Arus keluar modal asing terus berlanjut
6. Pemerintah mengintervensi BI untuk cetak uang guna menutup defisit APBN
7. Ribuan P3K terancam dirumahkan
8. Pemerintah libatkan babinsa untuk kepatuhan pajak masyarakat
9. Outlook peringkat kredit Indonesia diturunkan dari stabil menjadi negatif oleh Moody's Ratings
10. Gelombang PHK masih terus terjadi
11. Mall-mall banyak yang dipagarin
Sekali lagi gue ga bermaksud nakut-nakutin kalian
Nah iya, yg kek gini. Disuruh ngerjain sesuatu cuman ngeforward ke bawahannya.
Terus bawahannya kelar ngerjain, kagak diperiksa kagak dicek, tinggal diforward balik doang.
Pas dicek ulang banyak yg salah, diforward balik lg ke bawahannya.
Jadi lo gunanya apa? 😅😅
Mungkin dengan menyadari kalo selama ini kita udah terlalu lama berada di survival mode, sehingga menjadi baik bukan lagi pilihan, tapi cara bertahan hidup
Cmiiw tapi pernah baca dikit kalo setiap orang punya cara bertahan hidup yg berbeda.
1. ada yg malah menarik diri atau menjauhi semua orang,
2. ada yg balik menyerang orang or take control over others
3. dan sisanya ada yg terus memberi atau memuaskan ekspektasi banyak orang agar bisa merasa "aman"
Nah yg poin terakhir ini yg sakitnya berasa kayak dikhianatin, karena kita udh "memuaskan" orang lain tapi kok tetep terluka. Karena realitanya ya itu, bisa aja selama ini kita lebih banyak ketemu orang yg bertahannya dengan cara 1 atau 2
Jadinya timbal balik engga, yang ada justru malah terus mengorbankan diri :")
Kebanyakan ini karena mother wounds ya alias ada mother issues. Ibunya yang bermasalah tapi dilimpahin ke anaknya terus emosinya sampe anaknya mikir, "Am I not enough? Am I a good child?"
Akhirnya anaknya harus jadi anak yang baik. Biar disayang ibunya. Beruntung lah kalian kalian disana yang nggak perlu ngemis cinta dari ibu. Karena di luaran sana banyak sekali yang punya mother issues. Obatnya? Nggak ada. Obatnya harus healing selama lamanya. Harus mindful selama lamanya.
Bayangin seumur hidup kalian mikirin "how to be enough?" Karena dari kecil kalian ga pernah disayang dan harus jadi anak baik dulu kalau mau disayang. Dan ini dampaknya luar biasa besar sekali apalagi kalo anaknya nggak sadar sadar bahwa dia punya luka itu selama ini. Endingnya kalau dia punya anak, dia kembali menurunkan trauma generasinya itu tanpa sadar. Tanpa sadar ia jadi ibunya sendiri padahal dulu dia nggak suka diasuh seperti itu. Karena dia nggak sadar, dia nggak tahu apa yang salah dan akhirnya meneruskan itu ke generasi selanjutnya.
Anak kalo sudah diam dan penurut itu siksa batinnya luar biasa besar. Aku adalah anak dengan mother issues itu. Ibuku pun korbannya. Aku kira everythings is gonna be okay pas aku besar nanti. Pas aku bisa cari uang, pas aku bisa kerja sendiri, pas aku pergi dari rumah. But, it's not. I lost my self, i fail my college, just because i still wondering "Am I enough for you?" di pertemananku.
Ada masalah dikit aku bisanya kabur. Aku tutup rapat rapat aksesnya untuk temenku nanya karena aku nggak mau keliatan sakit, gagal. Pas aku balik kuliah temenku udah gamau temenan and it's hurt me so bad. Aku terlalu peka sama orang, every movement akan aku analisis karena aku terbiasa harus membaca situasi dan mood ibuku di rumah. Jadinya aku banyak overthinking dan milih langsung pergi saat lihat temenku badmood, nolak ajakanku, atau tone bicaranya berubah. Karena aku ngerasa it's my fault padahal ya namanya orang ada malesnya, ada badmoodnya dan itu wajar kan.
Aku selalu takut ditolak. Selalu mikirin what if karena terbiasa harus sempurna. Jadi gagal sedikit, ada kesalahan sedikit, i will blame my self for a whole life.
Pertama kali aku ke psikolog itu karena ada masalah ospek. Aku bilang aku takut banget, tremor, sesak napas. Aku juga ada riwayat di bully pas sd. Tau ga apa yang pertama kali psikologku tanya? "Mbak anak ke berapa di rumah? Sering dimarahin ya di rumah?" Padahal aku lagi bahas ospek dan ga bilang sama sekali tentang keluargaku.
Family matters. Polanya selalu ada dari keluarga. Tapi untungnya aku ke psikolog saat itu. Sesuai dugaan ada anxiety atau kecemasan berlebih. Tahun ini nambah besar ada yang diagnosisnya mixed anxiety and depresive disorder dan agoraphobia.
Semua itu asalnya dari satu sumber. Terpaksa jadi "good child" pas kecil. Aku akhir akhir ini mulai mempelajari what's wrong with me dan I really really recommend to read buku "Family Constallation" by Meilisa Sutanto. Karena di buku itu di jelasin tentang trauma keluarga yang menurun. Dari buku itu aku juga belajar bahwa it's not my fault. It's not my only fault.
Gimana ya caranya menamai duka anak-anak yang … gak pernah neko-neko, gak kriminal, tapi ironisnya malah harus ke psikolog karena JUSTRU dia “anak yang baik”.
Mereka berusaha kasih semua karena percaya jadi anak baik akan membuat mereka aman, tapi ternyata enggak.