Bukannya itu mindset pembela WB kemarin? Karena dia sudah bersuara melawan rezim (yang memang sudah seharusnya dilakuin semua orang) kemudian orang2 menutup mata terhadap perilaku buruknya bahkan direduksi oleh sebagian kelompok marjinal yang ditindas.
"Jangan wlw" emang lu siapa sampai merasa berhak ngatur orientasi seksual orang lain? Setiap cewek punya orientasi yang berbeda ada yang bisexual, lesbian, pansexual, dan masih banyak lagi Tapi kenapa harus sebegitunya bikin trend "jangan wlw" sambil menggunakan idol Kpop cowok?
THIS IS WHERE INDOWOKE LANGUAGE TAKES PLACE
Pacar ✅️✅️✅️✅️✅️✅️✅️ can be used for gf or bf. Let them assume, no one knows your significant other's real gender if you don't tell them
Kapan ya orang bisa sadar kalau obsesi terhadap moralitas cerita itu sebagian besar warisan cara Orba dan kurikulum PMP memperlakukan sastra?
Sastra direduksi sebagai alat didaktik buat ngebentuk warga yang patuh, bukan sebagai praktik artistik yang otonom. Sastra yang bermoral juga di situ sering kali disederhanakan jadi amanat yang bisa dihafal, bukan kompleksitas yang harus dianalisis.
Dalam literary criticism, posisi yang cukup mapan (autonomism/aestheticism) justru menolak menjadikan moralitas sebagai kriteria utama kualitas karya. Oscar Wilde pernah bilang bahwa tidak ada buku yang moral atau amoral, yang ada hanya buku yang ditulis dengan baik atau buruk.
Richard Posner juga mengembangkan nilai estetis (bentuk, bahasa, struktur, kompleksitas naratif, keutuhan internal) tidak otomatis naik atau turun hanya karena karya itu bermoral atau amoral. Karya yang memuat perspektif etis yang cacat bisa tetap hebat secara artistik, dan karya yang moralis bisa tetap mediocre juga.
Yang sering disalahpahami orang sampai sekarang:
Mendepiksi sesuatu yang amoral/tidak lazim ≠ meromantisasi atau mengendorsenya.
Padahal, justru fungsi sastra sering kali adalah menampilkan yang tidak nyaman, yang di luar nalar, yang tabu, agar bisa dibaca secara kritis. Banyak karya yang dianalisis memang di luar moralitas konvensional. Menyukai sebuah karya tidak berarti pembaca mengadopsi moralitasnya sebagai identitas pribadi.
Jadi, sebuah karya sastra memang tidak wajib bermoral. Tuntutan itu lebih sering datang dari residu pendidikan moral yang instrumental, bukan dari logika kritik sastra itu sendiri. Kalau kita terus memaksa setiap karya harus berpesan baik dulu baru boleh disebut bagus, kita justru hanya akan membunuh hakikat sastra itu sendiri.