Hari itu tangisku deras sekali. Air mata ini tak kunjung berhenti. Kenapa? Menatap mereka pun tak sanggup. Meski dalam hati berharap mampu merengkuh mereka satu per satu. Mungkin karena harus merasakan adegan perpisahan ini lagi. Karena aku harus ditinggalkan keluarga ini lagi
Bukan karena perempuan ngga bisa memimpin, tapi justru di situlah bentuk penjagaan dan penghormatan untuk mereka. Agar ia tak perlu menjadi tameng masalah, tak dicaci ketika salah, tak bertanggung jawab penuh ketika semua berantakan
Kesampingkan ego, kesampingkan ego! Apa guna ego kalau justru kamulah yg seharusnya total dan loyal membantu temen sendiri? Tanpa pamrih. Ingat, tanpa pamrih
Keknya namaku dari awal udah ke cap jelek aja sih. Keliatan banget gak dipercaya sama atasan. Haha, bodo amat lah. Gemuruh riuh akan selalu ramai. Tak akan bisa kau kendalikan
Lihatlah mereka, semakin kompak, mature, saling hadir mendukung dan membantu satu sama lain. Kupastikan kau menyesal, karena menghilang dari radar. Karena kami selalu baik-baik saja dengan atau bahkan tanpamu
Meninggalkan dunia yg kau cintai, sanggupkah? Demi mengepakkan diri ke belahan dunia lain, mampu kah? Jangan berdiam, stagnan, bergelung, lantas berlumut. Bergeraklah, beranilah. Tapi meninggalkan dunia yg kucintai? Rela kah?
Dari akhir bulan kemarin ternyata ada sebuah angan, kapan ya bisa ngobrol lagi sama kamu? Kapan ya bisa denger nada dering khususmu? Kapan ya bisa berbagi cerita denganmu? Dan hari berlalu menjadi minggu. Tanpa ada panggilan masuk darimu
Gimana mau berharap like dari orang lain, orang dari anak sendiri aja nggak dapet? Ctass…
Makanya grup keluarga tuh dibuka, biar tetep terhubung, sebelum tidur gitu cek dulu bentar, biar tau ada kabar apa
Ctass…