@StefanHUNI Sesuatu dalam otak Kevin berbunyi klik saat menyadari hal ini. Mereka sama-sama tidak setuju kan? Kenapa tidak menjadi sekutu untuk membatalkan apa yang dipaksakan?
"Eh, apa gue ajak kerja sama buat batalin ini aja ya? Menurut lo, gimana?"
@StefanHUNI
@StefanHUNI "Nggak tau, jarang interaksi sih. Paling ketemu pas malem doang, atau kalo lagi butuh aja." bahunya terangkat tak peduli, ia mendadak teringat dengan kejadian semalam.
"Tapi gue yakin, dia juga nggak setuju soal ini. Keliatan kemusuhan banget tiap ketemu gue."
@GardapatiHUNI Ia menghela nafas lelah, kepalanya tertunduk sebentar, lalu diangkat dan menatap Kai tepat di mata. Raut wajah dilembutkan, senyum kecil terulas di wajah yang biasanya kaku. Dengan suara lebih lembut dan berat, ia berkata;
"Kaivan, boleh tolong bukain pagernya?"
@GardapatiHUNI Kevin mengambil nafas dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan manis vanilla berpadu sesuatu yang seperti asap? Ah! Tembakau. Mungkin saja Kai habis merokok, dan vanilla itu aroma parfumnya.
Selera yang cukup pasaran, tapi siapa dirinya untuk menghujat.
@GardapatiHUNI
@GardapatiHUNI Angin malam berhembus sedikit kencang, langit rupanya mulai mendung, aroma hujan yang khas juga sudah mulai terendus. Semoga saja hujan, agar tidurnya tambah nyenyak.
Sambil menunggu Kai yang membuka pagar, hidungnya menangkap sesuatu yang lain. Asing, tapi ia pernah menciumnya.