Kalo ada orang yg lagi di titik terendah, mau comeback & evolve jadi potensi terbaik, rasanya case Harry Maguire bisa kita jadiin satu contoh. Edan ini orang mentalnya.
Semua inget kan gimana parahnya dia di-bully via tatap muka & online pas jadi kapten MU 2021-22. Even kita pun maybe ikutan ngeledek dia waktu itu. Udah psikologisnya down, main ada aja blundernya, jadi bahan meme di social media pula.
Tapi kerennya apa? Dia bisa tetep profesional & resistant. Ban kaptennya dicopot, di-boo fans sendiri, dia ya tetep dateng latihan & tetep main selama masih dibutuhin tim.
Now, he is one of the most important players in the United squad. Kagetnya, pas gue nonton podcast Inside Carrington Eps. 12 di video bawah ini, ternyata Maguire ga cerita soal apa yg dia alamin itu ke keluarganya. It’s like “laki-laki tidak bercerita” meski ada opsi buat curhat ke keluarga, tapi di sini Harry bener-bener bisa handle itu, dan ga jadi toxic/lampiasin emosinya ke mereka.
So he endured it all by himself & became a beast he is right now. What a legend.. another level ini sih. Absolute respect, Pak Harry 🫡
⌛️ Krisis Global Tahun 2028?
Menurut Citrini Research, pada Juni 2028, angka pengangguran meroket, utang menggila, KPR macet, pasar keuangan terjun bebas, dan AI mengambil alih.
Arthur Hayes dan Citrini sepakat dengan masalah AI menggantikan pekerja kantoran dalam skala besar. PHK massal -> alihkan penghematan ke AI -> ulangi. Lingkaran setan korporat yang tertekan.
Secara makro, angkanya bagus. Produktivitas melonjak. Laba perusahaan memukau. PDB naik, tapi hasilnya tidak beredar ke ekonomi nyata.
1 GPU menghasilkan output 10.000 pekerja kantoran. Tapi 10.000 pekerja itu punya cicilan, utang, dan kebutuhan belanja. Sedangkan mesin tidak belanja.
Kerusakan pasar yang paling berbahaya itu KPR. Berbeda dari krisis 2008, riwayat kredit peminjam itu bersih. Tapi dunia berubah setelah pinjaman ditandatangani.
Struktur penghasilan pekerja kantoran terganggu. Pasar KPR sebesar $13 Triliun jadi pertanyaan besar. Pemerintah perlu transfer uang ke rumah tangga di saat yang tepat ketika pendapatan pajak mereka berkurang.
Fondasi bisnis seluruh industri juga berubah, karena mesin tidak peduli loyalitas merek. AI agent bakal mencari jalan yang paling efisien untuk transaksi. Transaksi beralih ke stablecoin via blockchain yang instan dan murah.
Sepanjang sejarah ekonomi modern, kecerdasan manusia adalah input yang langka. Uang tidak terbatas. Sumber daya alam terbatas. Teknologi maju perlahan jadi manusia beradaptasi.
Kecerdasan manusia selalu langka. Tenaga kerja, KPR, pajak, semua sistem dibangun pada asumsi kelangkaan ini. Bagaimana kalau kecerdasan mesin jadi lebih kompeten dan menggantikan manusia?
Ekonomi perlu menemukan titik keseimbangan kembali. Pertama kalinya dalam sejarah, aset yang produktif (AI) tidak membuka lebih banyak lapangan kerja.
Juni 2028. Mungkinkah skenario ini terjadi nyata?
Bagus Muljadi, profesor termuda Indonesia yang kini mengajar di University of Nottingham, menyentil satu hal penting:
pendidikan kita mahal, tapi arahnya murahan.
Di luar negeri, kampus meringankan biaya dan memamerkan alumni sukses sebagai pertanggungjawaban moral.
Di Indonesia, mahasiswa bayar mahal dulu. Soal masa depan, silakan cari sendiri.
Nobody should have an opinion on who should be the manager for United — without first asking themselves the following two questions and abiding to your answer on those questions.
Let me know if you disagree!
🔺1. Formation
The last 9 PL titles and like 90% of the titles in the top 6 leagues the last years has been won playing 4-2-3-1. It’s clearly been the best way to play, but football is ever evolving so it will change sometime.
Should Manchester United go with the proven completely dominant formation or can the club afford to gamble on being the club that invents the wheel again? Yes/No — they should try a formation nobody really been successful with over time for over a decade
🔺2. Style of play
The last 9 PL titles and like 90% of the titles in the top 6 leagues the last years have been won by teams playing up from the back with a possession focused Style of Play, with a fullback or two that inverts at times and where you play a high line with a high press.
Should Manchester United go with the proven completely dominant Style of Play or can the club afford to gamble on being the club that invents the wheel again? Yes/No — they should try a Style of Play nobody been successful with for over a decade
👎If you answered “No” on any of the questions above — look at Simone Inzaghi, Conte, Southgate, Simone, Tuchel, Howe, Glasner and co. There are so many available since they play styles that simply have been completely exposed when tried by top teams.
👍If you answered “Yes” to both questions above — it’s much harder to find candidates, since they play a successful style. If you been Pep’s assistant you will on average get a top job within couple of year.
You can look at managers like RDZ, Xavi, Marescha of course, Ange Postecuglo, Pochettino after the World Cup. And there are of course some project managers like Francesco Farioli (ex RDZ assistant) who currently is 16-1-0 with a 36-4 goal difference with Porto. He got Ineos ties. Kieran McKenna, Sebastian Hoeneß (?), Michel, Motta and co can also he mentioned.
Gm.
Kamu sering ga setelah menutup aplikasi X, Instagram atau TikTok, terus malah merasa diri dan hidup lebih buruk dari sebelum kita scrolling medsos?
SELAMAT, tujuan utama dari aplikasi medsos dan mindset kamu seperti panci ketemu tutupnya: klop.
Pola pikir kamu bertemu secara klop sempurna dengan industri miliaran dollar berikut bala tentara ilmuwan dan engineer yg tugas utamanya utk menggerakkan pengguna aplikasi agar merasa iri, kurang, kepengen punya sesuatu dll.
Tujuan kedua, sekaligus agar bisa mentrigger pengguna utk “membalas” membuat post yg mampu membuat efek iri, kurang dan kepengen pada org lain melalui jumlah likes, retweet, komentar. Dengan apa? Ya tentunya dengan memiliki apa yg membuat kamu merasa “kurang” itu.
Padahal lebih sering hal-hal yg membuat kita iri sebenarnya tidak kita inginkan, utk membuat kagum orang-orang yg juga tidak kita sukai.
Dulu saya pikir bisnis itu masalah inovasi, produktivitas, branding, kerja keras, disiplin, dll. Hal2 yg selalu dibahas di buku manajemen dan self improvement.
Betapa naifnya.
Makin ke sini saya makin sadar kalau bisnis di Indonesia itu terutama tentang siapa yg kita kenal, siapa ortu/keluarga kita, dulu kuliah di mana (ivy league bukan). Setelah itu baru hal2 yg ada di dalam textbook.
Anak dengan privilege, modal bisa minta family. Urus perijinan sungkem ke om. Urusan polisi bapaknya tinggal telpon temannya yg jenderal.
Orang2 yg ga punya privilege harus bisa kerja keras & cerdik 10x lipat untuk mencapai level yg sama.
It’s not fair, but that’s the truth. Tugas kita para non-privileged adalah breaking the cycle dengan kerja super keras dan belajar super giat. Supaya anak2 kita bisa menjadi the privileged.
Warga Vietnam amat layak bangga dg pencapaian Vinfast EV Car ini.
Brand EV murni dari Vietnam dan sukses dijual secara global. Oh my God.
RI sdh lama punya mimpi kayak gini, tapi hnya retorika x fatamorgana.